Imbal Hasil SBN Naik, Fiskal Terseok?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Efek domino pergerakan imbal hasil Surat Berharga negara (SBN) yang naik perlu diwaspadai. Di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan penerbitan utang yang masih besar, kenaikan imbal hasil SBN bukan tidak mungkin menjadi beban baru yang kontra-produktif. Kenaikan yield obligasi pemerintah -- terutama tenor acuan 10 tahun -- menjadi alarm yang tidak boleh diabaikan.
Bagi sebagian orang, istilah "imbal hasil naik" terdengar seperti berita baik karena menjanjikan keuntungan lebih tinggi bagi para investor. Namun, dalam makroekonomi, lonjakan yield SBN adalah cerminan dari meningkatnya risiko, ketatnya likuiditas dan tingginya biaya modal yang harus dibayar oleh negara. Ketika imbal hasil SBN merangkak naik, dampaknya tidak hanya berhenti di meja perdagangan para broker di Bursa Efek Indonesia, melainkan juga merembet hingga ke masyarakat, strategi pendanaan korporasi dan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga: Ekonomi Sulit, Prospek Asuransi Properti Masih Berat
