Ini Penyebab Saham CPO Tak Mengekor Kenaikan Harga Komoditasnya

Jumat, 22 Oktober 2021 | 08:27 WIB
Ini Penyebab Saham CPO Tak Mengekor Kenaikan Harga Komoditasnya
[ILUSTRASI. Saham-saham produsen CPO tak lantas mengekor kenaikan harga CPO REUTERS/Lim Huey Teng]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga crude palm oil (CPO) terus melaju. Harga CPO kontrak pengiriman Januari 2022 di Malaysia Derivatives Exchange menyentuh rekor baru RM 5.071 pada Rabu (20/10), meski kembali turun menjadi RM 4.968 per ton kemarin.

Meski begitu, saham-saham produsen CPO tak lantas turut melaju. Sejumlah saham CPO terlihat masih terkoreksi sejak awal tahun. Saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) misalnya, harganya turun 14,54% secara year to date (ytd). Lalu, saham PT Mahkota Group Tbk (MGRO) turun 10,43% ytd. Tapi ada juga yang menguat, seperti saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang naik 18,44% ytd.

Analis Jasa Utama Sekuritas Chris Apriliony mengatakan, saham-saham sektor CPO terlihat masih lagging karena investor cenderung kurang percaya diri dengan sektor CPO yang selama ini menjadi pemberat indeks. Apalagi, biasanya kenaikan CPO hanya sebatas jangka pendek.

Baca Juga: Genjot Produksi Biodiesel, RI Buka Opsi Larang Ekspor CPO

Dalam jangka pendek, Chris memperkirakan, saham-saham CPO masih sideways sembari menunggu kinerja kuartal ketiga tahun ini. Investor akan mencermati seberapa besar efek penurunan produksi terhadap kinerja.

Menurut Chris, prospek saham CPO sebenarnya masih menarik karena kinerja emiten akan terdorong kenaikan harga jual. "Hanya saja produksi CPO masih turun, ujar dia, Kamis (21/10).

Sementara itu, analis Erdikha Elit Sekuritas Ivan Kasulthan menilai, saat ini sebagian besar saham CPO sudah hampir memasuki fase jenuh dalam jangka pendek. Sebab, sektor ini sudah menguat di awal Oktober lalu.

Alhasil, investor nampak melakukan profit taking untuk mengamankan posisi. Ivan memperkirakan prospek saham CPO masih menarik hingga awal tahun depan. "Sektor ini ditopang oleh tingginya permintaan dari India dan China," ujar dia.

Baca Juga: Potensinya besar, Kemenperin fokus hilirisasi industri kelapa sawit

Ivan menjagokan saham LSIP dan AALI. Menurut dia, kedua saham tersebut memiliki likuiditas yang cukup tinggi dan volatilitas yang tidak begitu agresif. Sehingga cocok diinvestasikan dalam jangka pendek-menengah.

Ia merekomendasikan buy on weakness untuk AALI dan LSIP. Target harga LSIP di Rp 1.560-Rp 1.610 dan AALI di Rp 11.600-Rp 13.000.

Chris menilai saham SIMP memiliki valuasi cukup murah dengan PER di 17,84 kali dan PBV di 9,52 kali. Ia merekomendasikan beli SIMP dengan target harga Rp 650, AALI dengan target Rp 14.000, dan LSIP di Rp 1.600 per saham.

Bagikan

Berita Terbaru

Di Balik Rencana Arsari Kibarkan Bisnis Digital
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:51 WIB

Di Balik Rencana Arsari Kibarkan Bisnis Digital

Saat ekonomi global sarat tantangan, Arsari Group justru tancap gas untuk membangun bisnis infrastruktur digital.

 
Peta Baru Bisnis Teh usai Peracik Sariwangi Berganti
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:48 WIB

Peta Baru Bisnis Teh usai Peracik Sariwangi Berganti

Pergantian kepemilikan merek teh Sariwangi akan menandai babak baru industri teh Indonesia, di tengah ketatnya persaingan.

 
Peluang Cuan Padel: Pengusaha Raup Untung dari Jasa Sewa Raket Premium
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:44 WIB

Peluang Cuan Padel: Pengusaha Raup Untung dari Jasa Sewa Raket Premium

Olahraga padel tak hanya bikin sehat dan bikin dompet tebal. Setelah ramai sewa lapangan padel, kini ramai jasa penyewa.

Luka Etika Demokrasi
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:42 WIB

Luka Etika Demokrasi

Ingatan kolektif masyarakat Indonesia pendek dan kerap bekerja selektif. Peristiwa besar yang sempat mengguncang ruang publik perlahan pudar.

Utang Luar Negeri Dalam Tren Menurun
| Minggu, 18 Januari 2026 | 10:00 WIB

Utang Luar Negeri Dalam Tren Menurun

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per akhir November 2025, ULN sebesar US$ 424,9 miliar, turun berturut-turut sejak Juni 2025.

Investasi Asing Tertahan, Domestik Jadi Bantalan
| Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00 WIB

Investasi Asing Tertahan, Domestik Jadi Bantalan

Realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun, atau tumbuh 12,7% secara tahunan.

Punya Cuan Menarik, Investasi Jam Tangan Mewah Masih Diminati
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:17 WIB

Punya Cuan Menarik, Investasi Jam Tangan Mewah Masih Diminati

Minat untuk mengoleksi hingga investasi menjaga permintaan atas investasi jam tangan mewah di Indonesia

CYBR Akan Memperluas Jangkauan Pasar Keamanan Siber
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:13 WIB

CYBR Akan Memperluas Jangkauan Pasar Keamanan Siber

PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) membidik pendapatan lebih kuat dengan memperluas jangkauan ke berbagai negara

Prospek Bank Digital 2026: Kredit Diproyeksi tumbuh 11%, Sementara Laba Naik 5%
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:04 WIB

Prospek Bank Digital 2026: Kredit Diproyeksi tumbuh 11%, Sementara Laba Naik 5%

Sejumlah emiten bank digital mulai mencatatkan kenaikan harga disertai peningkatan volume transaksi, menandakan adanya akumulasi jangka pendek.

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:10 WIB

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit

Manajemen HALO menjalankan strategi efisiensi biaya secara berkelanjutan, khususnya pada cost of production

INDEKS BERITA