J Resources Asia Pasifik Cari Pendanaan Rp 3 Triliun

Selasa, 18 Juni 2019 | 07:42 WIB
J Resources Asia Pasifik Cari Pendanaan Rp 3 Triliun
[]
Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) ingin memastikan proyek eksplorasi tambang-tambangnya tak kekurangan dana. Emiten penambang emas ini tengah mencari dana cukup besar​.

Yang terbaru, perusahaan ini akan merilis Obligasi Berkelanjutan dengan target dana sebesar Rp 3 triliun. Di tahap pertama, emiten ini akan merilis obligasi Rp 500 miliar. Adapun surat utang bertenor tiga tahun ini menawarkan bunga 10%–11% per tahun.

Direktur PSAB William Surnata menjelaskan, dana obligasi senilai Rp 500 miliar tersebut akan digunakan untuk modal kerja dalam rangka mendukung operasional PSAB. "Juga akan digunakan untuk pendanaan ulang utang pinjaman yang akan jatuh tempo pada akhir tahun," jelas dia, Senin (17/6).

PSAB berencana menyelesaikan dua aset yang dalam tahap pengembangan, yaitu proyek tambang emas Doup di Sulawesi Utara, serta Proyek Pani di Gorontalo, yang masih tahap studi kelayakan.

Adapun dua aset lainnya dalam tahap eksplorasi yaitu Bolangitang dan Bulagidun di bawah PT Gorontalo Sejahtera Mining. Sebagian dana dari obligasi akan digunakan untuk menambah uang operasional di proyek Doup yang bernilai US$ 130 juta.

Penerbitan obligasi ini melengkapi pendanaan yang sudah didapatkan April lalu. PSAB telah mengantongi pinjaman sindikasi dari BNI sebesar US$ 231 juta. US$ 135 juta dialokasikan untuk Doup. Sisanya untuk refinancing.

Adapun untuk menambah modal proyek Pani, PSAB berencana menggelar private placement. Perusahaan ini akan menerbitkan saham baru maksimal 2,64 miliar atau 10% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Proyek Pani ditargetkan memproduksi 1,7 juta ons per tahun pada tahun 2021.

Meski belum ditentukan waktunya, rencana private placement ini juga untuk meningkatkan saham free float dari 7,5% menjadi 25%.

Bagikan

Berita Terbaru

Harga dan Permintaan Turun, Apakah Sudah Saatnya Indonesia Hadapi Kiamat Batubara?
| Selasa, 17 Februari 2026 | 12:00 WIB

Harga dan Permintaan Turun, Apakah Sudah Saatnya Indonesia Hadapi Kiamat Batubara?

Sektor batubara masih menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional dengan kontribusi 60% dan juga mesin pendapatan bagi negara.

Ekspor Anjlok, Permintaan Turun, dan Harga Tertekan, Batubara Masuki Sunset Industry?
| Selasa, 17 Februari 2026 | 12:00 WIB

Ekspor Anjlok, Permintaan Turun, dan Harga Tertekan, Batubara Masuki Sunset Industry?

Strategi pemangkasan produksi batubara nasional seharusnya tidak lagi menjadi kebijakan reaktif sesaat demi mengerek harga.

Melihat Peluang dan Tantangan Diversifikasi Penyaluran Kredit di Tahun 2026
| Selasa, 17 Februari 2026 | 11:00 WIB

Melihat Peluang dan Tantangan Diversifikasi Penyaluran Kredit di Tahun 2026

Indonesia tetap punya kesempatan, tetapi jalurnya lebih realistis sebagai pengungkit produktivitas lintas sektor.

Membedah Prospek Kinerja dan Saham BULL Seiring Fase Super Cycle Industri Pelayaran
| Selasa, 17 Februari 2026 | 11:00 WIB

Membedah Prospek Kinerja dan Saham BULL Seiring Fase Super Cycle Industri Pelayaran

Dalam RUPTL 2025-2034, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)​ terlibat dalam proyek FSRU dan logistik LNG domestik.

Lo Kheng Hong Getol Tambah Kepemilikan GJTL Sepanjang 2025, Berlanjut pada Awal 2026
| Selasa, 17 Februari 2026 | 10:13 WIB

Lo Kheng Hong Getol Tambah Kepemilikan GJTL Sepanjang 2025, Berlanjut pada Awal 2026

Berkat akumulasi terbarunya, Lo Kheng Hong (LKH) kini menguasai 5,97% saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).

Saham Bank Syariah Lebih Moncer dari Bank Konvensional, Pilih BRIS atau BTPS?
| Selasa, 17 Februari 2026 | 10:00 WIB

Saham Bank Syariah Lebih Moncer dari Bank Konvensional, Pilih BRIS atau BTPS?

Mengupas perbandingan prospek kinerja dan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dan PT BTPN Syariah Tbk (BTPS)

Harga Emas Terdorong Kebijakan Kontroversial Trump, Diprediksi Bullish Hingga 2028
| Selasa, 17 Februari 2026 | 09:00 WIB

Harga Emas Terdorong Kebijakan Kontroversial Trump, Diprediksi Bullish Hingga 2028

Setelah Donald Trump tidak lagi menjabat, dunia bakal lebih damai sehingga daya tarik emas sedikit melemah.

Saham DEWA Kembali Bergairah Usai Terkoreksi, Harganya Diprediksi Masih bisa Mendaki
| Selasa, 17 Februari 2026 | 08:05 WIB

Saham DEWA Kembali Bergairah Usai Terkoreksi, Harganya Diprediksi Masih bisa Mendaki

Fundamental PT Darma Henwa Tbk (DEWA) kian kokoh berkat kontrak jangka panjang di PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia.

Meski Sahamnya Sudah Terjerembab -24%, Prospek dan Valuasi WIFI Tetap Premium
| Selasa, 17 Februari 2026 | 07:05 WIB

Meski Sahamnya Sudah Terjerembab -24%, Prospek dan Valuasi WIFI Tetap Premium

Ekspansi bisnis yang agresif menopang prospek kinerja keuangan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). 

Kisah Albertus Wiroyo Karsono, Jebolan Terbaik ITB Jadi Nakhoda di Bisnis Asuransi
| Selasa, 17 Februari 2026 | 06:05 WIB

Kisah Albertus Wiroyo Karsono, Jebolan Terbaik ITB Jadi Nakhoda di Bisnis Asuransi

Albertus Wiroyo Karsono lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1990 dan masuk dalam lima lulusan terbaik di antara 110 mahasiswa​.

INDEKS BERITA

Terpopuler