Kembali ke Sawah

Jumat, 28 Januari 2022 | 09:00 WIB
Kembali ke Sawah
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun 2022 diyakini menjadi tahun pemulihan ekonomi, setelah dua tahun dihantam krisis akibat Covid-19. Tanda-tanda pemulihan ekonomi ini juga nampak dari tren pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal terakhir di 2021.   

Jika melihat data ekonomi lebih dalam, sektor pertanian berikut sub sektor perkebunan menjadi salah satu daya dorong ekonomi. Komoditas andalan Indonesia seperti  kelapa sawit, kopi, dan kakao tercatat mendominasi dengan pertumbuhan tinggi sebesar 8,34% di Q3 tahun 2021 dari  Q1 dan Q2 yang tumbuh masing-masing 2,17% dan 0,33%.

Tak hanya minyak sawit mentah atau crude palm oil yang harganya rekor, harga tandan buah segar yang sebesar Rp 3.300 per kilo gram juga  tercatat sebagai rekor harga tertinggi sepanjang sejarah. Catatan sektor pertanian, produksi gabah    (beras) dan tebu (gula) lumayan, kecuali produksi jagung yang memble.

Jagung sepanjang 2021 menjadi soal. Harga tinggi, pasokan, produksi yang terbatas. Fitch Solution menyebut, harga jagung masih akan tinggi, meski tak setinggi di 2021. Tahun ini, Fitch menyebut harga jagung di kisaran US$ 4,75 per bushel (setara 25,4 kg) dari US$ 5,25 di 2021.

Hanya dalam jangka pendek, harga jagung masih akan tinggi. Di bursa berjangka, saat ini, jagung diperdagangkan dengan harga tertinggi US$ 6,2 per gantang, tertinggi 28 minggu ke depan. 

Kekhawatiran ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia dikhawatirkan mengganggu ekspor jagung dari Ukraina, pemasok jagung global utama. Kondisi ini diperburuk kekeringan di Brasil yang bisa memangkas panen.

Komoditas jagung telah berubah. Jagung memang bukan lagi sekadar komoditas pangan, tapi sudah menjadi komoditas utama industri perunggasan atau poultry. Jagung menjadi pakan ternak utama, bahkan sampai 60% kebutuhan pakan bagi industri perunggasan.

Celakanya, kita harus impor jagung. Kebutuhan pakan ternak saja mencapai 8 juta ton per tahun atau 700.000 ton per bulan untuk pakan ternak.

Kenaikan harga jagung juga bisa bikin ulah. Harga ayam, telur bisa kena imbas cepat dengan cepat. Tanpa rencana jangka pendek, menengah dan panjang,  masalah sektor pertanian dan perkebunan bisa menjadi bom waktu masa depan.

India semisal, sudah memfokuskan diri di sektor pangan. Indonesia kini sibuk hilirisasi minerba, belum nampak program khusus 'kembali ke sawah' untuk membenahi sektor pangan.                                    

Bagikan

Berita Terbaru

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor
| Senin, 30 Maret 2026 | 11:19 WIB

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor

Tingginya yield SBN menandakan harga obligasi sedang turun dan persepsi risiko dalam negeri  meningkat.

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik
| Senin, 30 Maret 2026 | 10:48 WIB

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik

Melihat kecenderungan ini, sudah saatnya politik dan geopolitik menjadi salah satu pertimbangan bisnis keberlanjutan. 

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank
| Senin, 30 Maret 2026 | 09:15 WIB

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank

Masyarakat cenderung makin berhati-hati dalam mengambil komitmen pembiayaan jangka panjang, seperti KPR dan KKB.

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:30 WIB

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA

Mandiri Sekuritas memproyeksikan laba bersih 2026 DRMA bakal terbang sekitar 23,46% menjadi di kisaran Rp 805 miliar.

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:03 WIB

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua

Memasuki kuartal II-2026, pundak investor dalam negeri menanggung sentimen negatif. Sentimen apa saja yang harus diawasi market?

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:00 WIB

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife

Laba bersih PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada 2026 diperkirakan mampu melonjak ke angka US$ 94 juta.

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:43 WIB

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini

Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi sentimen negatif, di tengah kekhawatiran  supply serta dampak kenaikan harga energi ke inflasi

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:30 WIB

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA

Harga batubara menguat tajam di atas US$ 140 per ton pada Jumat pekan lalu, mendekati level tertingginya sejak Oktober 2024.

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:22 WIB

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari faktor domestik, persepsi terhadap risiko fiskal, kenaikan CDS dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi pemberat bursa saham.

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:12 WIB

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai

Permintaan gadai naik untuk memenuhi kebutuhan saat Ramadan dan Lebaran.                                 

INDEKS BERITA

Terpopuler