Kenaikan Harga Avtur Mengancam Sektor Pariwisata dan Hotel

Kamis, 09 April 2026 | 11:00 WIB
Kenaikan Harga Avtur Mengancam Sektor Pariwisata dan Hotel
[ILUSTRASI. Konsumsi Avtur untuk penerbangan di Jatimbalinus (ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga avtur memukul banyak pihak, tidak hanya maskapai penerbangan tetapi juga pelaku bisnis hotel dan juga pariwisata.

Sebagaimana diketahui, per 1 April 2026 lalu, harga avtur domestik melejit sekitar 70% hingga 80% dengan harga di Bandara Soekarno-Hatta mencapai sekitar Rp 23.551 per liter. Kenaikan tersebut sudah mencapai 72,45% bila dibandingkan dengan Maret 2026, imbas dari ketegangan geopolitik global.



Kenaikan harga avtur ini pula yang turut memberikan domino kenaikan harga tiket pesawat sebesar 9% hingga 13% dan fuel surcharge mencapai 38%. Kenaikan harga tiket ini pula dipilih supaya bisnis tetap bisa mengudara.

Pelaku bisnis memantau kondisi ini harap-harap cemas. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi BS Sukamdani misalnya, mengatakan dalam jangka panjang dan skenario terburuk, tekanan dalam akan terasa tidak hanya bagi industri penerbangan tetapi juga hotel dan pariwisata.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Ancam Bisnis Pariwisata

Saat ini, Hariyadi mengakui bahwa kenaikan harga tiket masih relatif kecil dan masih mampu diserap pasar. Namun, ke depannya situasi masih amat bergantung pada kelanjutan hubungan Iran dan Amerika Serikat.

"Jika melihat ada perbaikan situasi atau adanya kesepakatan antara kedua belah pihak untuk gencatan senjata dan menghentikan perang, harga minyak dunia berpotensi turun bahkan bisa di bawah angka psikologis US$ 100 per barel. Inilah yang bisa membantu menahan kenaikan harga tiket pesawat," papar Hariyadi kepada Kontan, Rabu (8/4).

Namun begitu, lanjut Hariyadi, pasokan minyak berpotensi akan tetap terganggu karena rusaknya kilang minyak di beberapa negara, seperti Qatar dan Kuwait, karena bombardir dari Iran. Dengan begitu, meski nantinya tercapai sebuah kesepakatan, penurunan harga minyak kemungkinan akan masih terbatas.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Ambisi Baru Grup Bakrie: Gagal Otomotif 1998, Kini Rebut Dominasi Mobil EV Nasional
| Kamis, 09 April 2026 | 12:29 WIB

Ambisi Baru Grup Bakrie: Gagal Otomotif 1998, Kini Rebut Dominasi Mobil EV Nasional

VKTR Bakrie pimpin penguasaan ekosistem EV nasional dengan fokus kendaraan niaga. Target hemat subsidi US$5 miliar per tahun.

Kenaikan Harga Avtur Mengancam Sektor Pariwisata dan Hotel
| Kamis, 09 April 2026 | 11:00 WIB

Kenaikan Harga Avtur Mengancam Sektor Pariwisata dan Hotel

Pasokan minyak berpotensi akan tetap terganggu karena rusaknya kilang minyak di beberapa negara, seperti Qatar dan Kuwait.

Lotte Chemical Beberkan Kondisi Bisnis, Produksi Turun Imbas Konflik di Selat Hormuz
| Kamis, 09 April 2026 | 09:30 WIB

Lotte Chemical Beberkan Kondisi Bisnis, Produksi Turun Imbas Konflik di Selat Hormuz

PT Lotte Chemical Indonesia mendesak penyederhanaan regulasi birokrasi guna mempercepat proses impor bahan baku pengganti.

Harga Saham ANTM Kembali Naik Signifikan, Simak Prospek dan Rekomendasinya
| Kamis, 09 April 2026 | 08:55 WIB

Harga Saham ANTM Kembali Naik Signifikan, Simak Prospek dan Rekomendasinya

Di tengah kenaikan harga, investor asing mencatatkan net foreign sell di ANTM sebesar Rp 506,5 miliar sepanjang 1-8 April 2026.

MKNT Ingin Lepas dari Suspensi, Berikut Deretan Syarat dari BEI yang Harus Dipenuhi
| Kamis, 09 April 2026 | 08:50 WIB

MKNT Ingin Lepas dari Suspensi, Berikut Deretan Syarat dari BEI yang Harus Dipenuhi

MKNT telah menyampaikan laporan keuangan hingga tahun buku 2025 dan kini menggadang rencana menggelar backdoor listing.

Harga Plastik Kian Meroket, Menakar Efek Ganda ke Laba Bersih CLEO dan ADES
| Kamis, 09 April 2026 | 08:27 WIB

Harga Plastik Kian Meroket, Menakar Efek Ganda ke Laba Bersih CLEO dan ADES

Kemampuan passing-on cost di bisnis AMDK jauh lebih kerdil ketimbang kategori barang konsumer lainnya.

Kinerja Emiten di Kawasan Industri Bervariasi
| Kamis, 09 April 2026 | 07:59 WIB

Kinerja Emiten di Kawasan Industri Bervariasi

Emiten kawasan industri mencetak kinerja beragam di sepanjang 2025. Hal ini dipengaruhi siklus penjualan lahan dan struktur sumber pendapatan.

Laba Emiten Menara Kompak Melesat, Guyuran Cuan Fiber Optik Sukses Jadi Juru Selamat!
| Kamis, 09 April 2026 | 07:57 WIB

Laba Emiten Menara Kompak Melesat, Guyuran Cuan Fiber Optik Sukses Jadi Juru Selamat!

Kokohnya pertumbuhan laba emiten menara seperti TBIG, TOWR, dan MTEL didorong oleh tiga katalis utama.

Pengendali Menambah Kepemilikan di Saham Summarecon Agung (SMRA)
| Kamis, 09 April 2026 | 07:52 WIB

Pengendali Menambah Kepemilikan di Saham Summarecon Agung (SMRA)

Pengendali PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Semarop Agung menambah kepemilikan saham di emiten properti tersebut.

Kucurkan Dana Rp 437,87 miliar, Indocement (INTP) Sudah Buyback 66,24 juta saham
| Kamis, 09 April 2026 | 07:48 WIB

Kucurkan Dana Rp 437,87 miliar, Indocement (INTP) Sudah Buyback 66,24 juta saham

Sejak 22 Mei 2025 sampai 6 April 2026, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) buyback 66,24 juta saham atau 1,88% dibanding jumlah saham beredar.

INDEKS BERITA

Terpopuler