Kendati Naikkan Proyeksi Inflasi, BOJ Pertahankan Kebijakan Ultra Longgar

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:47 WIB
Kendati Naikkan Proyeksi Inflasi, BOJ Pertahankan Kebijakan Ultra Longgar
[ILUSTRASI. Gubernur Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda dalam acara konferensi pers BOJ di Tokyo, Jepang, 21 September 2017. REUTERS/Toru Hanai/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bank of Japan (BOJ) pada Selasa (18/1) meningkatkan proyeksi inflasi negeri itu, sejalan dengan risiko kenaikan harga. Pembaruan proyeksi ini menggarisbawahi kenaikan inflasi yang didorong kenaikan harga komoditas baru-baru.

Namun karena laju inflasi hingga tahun-tahun mendatang diproyeksikan masih di bawah target 2% yang ditetapkan, BOJ menekankan tekadnya untuk mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar. Kebijakan itu tetap diusung BOJ, bahkan ketika rekan-rekannya di negara lain menjauh dari kebijakan mode krisis.

Sesuai dengan perkiraan, pada pertemuan yang berakhir hari ini, BOJ tidak mengubah target untuk suku bunga jangka pendek dari -0,1%. BOJ janji untuk memandu suku bunga jangka panjang ke kisaran 0%.

Dalam laporan prospek triwulanan, BOJ merevisi naik proyeksi inflasi untuk tahun fiskal 2022 yang dimulai pada April menjadi 1,1% dari 0,9%.

Baca Juga: China Memangkas Suku Bunga  

BOJ juga menaikkan perkiraan inflasi untuk tahun fiskal 2023 menjadi 1,1% dari 1,0%.

"Risiko terhadap harga umumnya seimbang," kata BOJ dalam laporannya. Itu dibandingkan dengan penilaiannya pada Oktober, yang mengatakan risiko terhadap prospek harga condong ke sisi bawah.

Pasar fokus pada komentar Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda pada briefing pasca-pertemuan untuk petunjuk tentang bagaimana kenaikan tekanan harga dapat mempengaruhi prospek kebijakan bank sentral.

Inflasi merayap naik menuju target BOJ bukan karena ekonomi mendapatkan traksi tetapi karena faktor eksternal. Situasi ini memperumit masalah bagi pembuat kebijakan yang mencoba menjelaskan bagaimana pergerakan harga baru-baru ini dapat memengaruhi kebijakan moneter di masa depan.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Investor Pertimbangkan Pemulihan Ekonomi

Lonjakan inflasi grosir dan kenaikan biaya impor dari yen yang lemah telah menyebabkan kenaikan harga untuk berbagai barang, memukul rumah tangga pada saat pertumbuhan upah tetap lambat.

Beberapa analis memperkirakan inflasi konsumen inti melebihi 1,5% di sekitar bulan April, karena hambatan dari biaya telepon seluler tahun lalu berkurang dan kenaikan biaya minyak di masa lalu mendorong tagihan listrik.

Dengan kenaikan yang didorong oleh harga bahan baku yang lebih tinggi, daripada harapan untuk kenaikan permintaan domestik, prioritas jangka pendek BOJ adalah untuk menghindari blip sementara dalam inflasi dari memicu spekulasi pasar tentang pengetatan kebijakan awal.

Namun, mengabaikan kenaikan tekanan harga terlalu banyak, dapat mengurangi persepsi publik tentang kenaikan harga di masa depan dan menggagalkan upaya BOJ untuk meningkatkan inflasi ke targetnya, kata para analis.

Bagikan

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA

Terpopuler