Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) memukul pasar obligasi yang selama ini menjadi salah satu urat nadi pendanaan korporasi. Sejak konflik berdarah ini meletus pada 28 Februari 2026, imbal hasil (yield) obligasi acuan 10 tahun Indonesia melambung 0,41 poin ke level 6,88% per akhir Maret 2026.
Guncangan geopolitik di Timur Tengah ini mengerek harga minyak mentah dan komoditas bahan baku, yang pada gilirannya menyulut lonjakan inflasi. Efek dominonya, rencana pemangkasan suku bunga acuan oleh berbagai bank sentral global berpotensi besar tertunda.
“Efeknya, investor kemungkinan akan meminta tingkat kupon yang lebih tinggi untuk penerbitan obligasi baru, mengingat risk premium yang meningkat,” kata Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta Utama saat dihubungi KONTAN, Rabu (1/4).
Walhasil, korporasi yang berniat merilis obligasi anyar maupun yang mengantongi obligasi dengan kupon mengambang (floating rate) harus siap memikul beban bunga yang kian membengkak.
Meski diadang badai bunga tinggi, obligasi korporasi sejatinya masih menggoda bagi perusahaan haus pendanaan, terutama bagi emiten bermodal peringkat (rating) A ke atas. Minat investor untuk memburu instrumen utang berkualitas prima ini terbukti masih deras.
Sebaliknya, pamor obligasi dengan peringkat di bawah grade tersebut tampak meredup, kecuali sang emiten berani menebar imbal hasil lebih jumbo.
Maklum, di tengah pusaran ketidakpastian global, pelaku pasar sontak memutar haluan dan menghindari aset-aset berisiko tinggi, tak terkecuali obligasi non-investment grade.
Baca Juga: Harga Aluminium Melonjak, Siapa Pemenangnya?
Alternatif Pendanaan
Di tengah himpitan pasar surat utang, opsi meraup pendanaan dari kredit perbankan menjadi sekoci penyelamat. Kendati bunga bank kerap dipatok lebih mahal ketimbang kupon obligasi, pinjaman perbankan menawarkan tingkat fleksibilitas yang lebih luwes bagi korporasi.
Hal ini tecermin dari data Bank Indonesia (BI). Penyaluran kredit investasi yang didominasi korporasi raksasa berhasil mencetak pertumbuhan tertinggi.
Kredit jenis ini melesat 22% year on year (YoY) pada Januari 2026 dan 20% YoY pada Februari 2026. Angka ini sukses melampaui pertumbuhan total kredit perbankan yang hanya menyentuh 10,2% dan 8,9% pada dua bulan yang sama.
Selain bank, skema repurchase agreement (repo) turut menjadi pendanaan alternatif. Sayangnya, skema gadai saham ini kerap mematok bunga yang jauh lebih mencekik dengan tenor yang sangat sempit.
Kondisi ini diamini oleh pelaku pasar. Alvaro Ihsan, Fund Manager Sucorinvest Asset Management menambahkan, imbal hasil yang meningkat berpeluang membuat perusahaan untuk sedikit menahan penerbitan obligasi korporasi.
Meski begitu, ia menilai emiten yang disokong rating AA ke atas masih menenggak fleksibilitas tinggi jika ingin merilis surat utang.
“Terlebih lagi apabila perusahaan yang bersangkutan punya cash flow generation dan struktur modal yang sangat kuat, rasio interest coverage yang baik, serta rata-rata cost of fund yang rendah,” tutur Alvaro.
Baca Juga: Dianggap tak Berdasar, Target Pertumbuhan Ekonomi 5,7% Pemerintah Kelewat Pede
Jurus Emiten Meredam Badai
Di sektor riil, emiten menara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) turut memasang kuda-kuda. Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan, dalam kondisi ini, perusahaan harus lebih disiplin mengelola keuangannya. TBIG wajib mengawal arus kas operasional yang kokoh sebagai benteng utama menangkis volatilitas pasar obligasi.
Demi meredam risiko ketidakpastian yang kian liar, TBIG konsisten memaku rasio pinjaman di level yang sehat. Perusahaan ini juga terus meracik diversifikasi sumber pendanaan, salah satunya lewat kucuran pinjaman bank bertenor pendek maupun panjang.
“Dengan begitu, TBIG akan tetap mempunyai fleksibilitas dalam melakukan refinancing dalam kondisi pasar yang lebih ketat,” ucap Helmy.
Tak hanya itu, selama dua tahun terakhir, TBIG telah mengeksekusi strategi optimalisasi struktur tenor dan fleksibilitas pembayaran.
Hasilnya, portofolio utang TBIG yang didominasi penerbitan obligasi sukses mengunci tenor jangka panjang dengan suku bunga tetap (fixed rate).
“Dengan begitu, obligasi kami yang outstanding tidak terpengaruh dengan situasi volatilitas saat ini,” ungkap Helmy.
Sebagai catatan, per akhir 2025, total tumpukan utang obligasi TBIG menembus Rp 20,77 triliun. Angka ini setara 62% dari total liabilitas perusahaan yang mencapai Rp 33,52 triliun.
Di dalamnya bersarang tiga obligasi dolar AS bersuku bunga 2,80%-4,25% per tahun, serta sepuluh obligasi rupiah yang mematok kupon 5,50%-6,75% per tahun.
Baca Juga: Yield Curve Obligasi Negara Indonesia Mulai Mendatar, Apakah Ini Sinyal Krisis?
Dari sektor energi, Herwin Wahyu Hidayat, Head of Investor Relations PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menambahkan, pihaknya terus memantau perkembangan kondisi pasar, termasuk dinamika makro global, pergerakan suku bunga, serta faktor geopolitik.
“Kami cukup fleksibel dalam hal pendanaan dan akan menentukan waktu serta sumber pendanaan yang paling optimal guna memastikan efisiensi biaya,” ucap Herwin.
Meski demikian, Herwin membeberkan bahwa 9 dari total 13 aset minyak dan gas (migas) besutan ENRG telah aktif berproduksi.
Walhasil, arus kas internal yang mengalir dari aset-aset produktif tersebut terbukti mumpuni untuk memenuhi kebutuhan modal kerja sekaligus belanja modal (capex) perusahaan.
Suntikan dana dari hasil emisi obligasi terdahulu juga sebagian telah dialokasikan untuk membiayai pelunasan pinjaman perbankan.
Manuver taktis ini sukses memangkas beban bunga ENRG, mengingat tingkat kupon obligasinya jauh lebih rendah ketimbang bunga kredit bank.
Baca Juga: Margin Terancam Harga CPO & Kemasan, Simak Prospek & Rekomendasi Saham Mayora (MYOR)
Sebagai informasi, data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, sejak awal tahun hingga 27 Maret 2026, pasar modal telah kebanjiran 45 emisi obligasi dari 30 korporasi penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Nilai total dana segar yang berhasil dikeruk mencapai Rp 50,87 triliun.
Ke depan, antrean pencarian dana masih mengular. Tersisa 28 emisi dari 20 penerbit EBUS yang tengah nongkrong di dalam pipeline BEI.
Barisan antrean ini didominasi oleh 10 perusahaan dari sektor keuangan, disusul 6 entitas sektor infrastruktur, 2 perusahaan energi, serta masing-masing 1 perusahaan dari sektor bahan baku dan barang konsumsi non-siklikal.
