Berita Bisnis

Kredit Masih Lesu, Bank Menumpuk Dana di Surat Berharga

Rabu, 09 Juni 2021 | 06:20 WIB
Kredit Masih Lesu, Bank Menumpuk Dana di Surat Berharga

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat masih relatif menumpuk dananya di perbankan. Di lain sisi, permintaan kredit di bank masih lemah. Ini berakibat  likuiditas bank semakin jumbo. Kondisi ini mendorong perbankan untuk memarkir dana berlimpah untuk diendapkan di surat berharga negara (SBN).  

Mengutip data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), simpanan nasabah tajir masih tumbuh. Jumlah rekening simpanan dengan tier di atas Rp 5 miliar tumbuh 6,3% year on year (yoy) menjadi 111.412 entitas per akhir Maret 2021.
 
Adapun total simpanan di atas Rp 5 miliar di bank umum per akhir kuartal I-2021 senilai Rp 3.445 triliun. Nilai itu meningkat 12,39% yoy. Simpanan di atas Rp 5 miliar setara 50% dari total simpanan di bank yang senilai Rp 6.889 triliun. 
 
Sementara data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan penyaluran kredit perbankan masih terkontraksi 2,28% yoy menjadi Rp 5.482,2 triliun per April 2021. Adapun kepemilikan SBN perbankan mencapai Rp 1.308,4 triliun hingga April 2021, atau meningkat dibandingkan tahun 2020 yang senilai Rp 1.143 triliun.
 
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, perlu usaha untuk menggeser dana yang ada di SBN ini sebagian disalurkan dalam bentuk kredit. Wimbih menilai, permintaan kredit sudah mulai meningkat seiring mobilitas yang mulai kembali berjalan dan kepercayaan masyarakat semakin pulih. 
 
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat dana yang diletakkan dalam surat berharga mencapai Rp 208.9 triliun per Maret 2021. Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim BCA mengatakan, langkah tersebut itu sebagai bagian dari strategi pengelolaan likuiditas perusahaan yang masih cukup banyak. 
 
“Ini juga untuk menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat. Likuiditas BCA yang memadai, didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid, serta mempertimbangkan imbal hasil yang baik dan instrumen yang berisiko rendah,” kata Vera kepada KONTAN pada Selasa (8/6).
 
Menunggu kredit naik
 
BCA mencermati permintaan kredit masih dalam proses pemulihan karena pandemi telah membatasi mobilitas dan mempengaruhi iklim bisnis.  Ia juga melihat bahwa pada umumnya industri saat ini masih mencermati upaya vaksinasi yang dilakukan pemerintah dan tren perkembangan pandemi ke depan. 
 
BCA berharap pertumbuhan kredit di kisaran 4% hingga 6% pada tahun ini. Hingga kuartal I 2021, penyaluran kredit BCA masih kontraksi 4,1% menjadi Rp 586,79 triliun.  
 
Adapun Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Aestika Oryza Gunarto menyebut penempatan dana di SBN cenderung menurun. Lantaran beberapa SBN yang telah jatuh tempo. Bersamaan itu BRI juga memiliki kewajiban yang jatuh tempo. 
 
“Sehingga utilisasi atas likuiditas dari SBN yang jatuh tempo digunakan untuk membayar kewajiban BRI tersebut. Seiring dengan mulai pulihnya perekonomian, tren penyaluran kredit kami proyeksikan mulai tumbuh dengan baik,” jelas Aestika kepada KONTAN.
 
Meski begitu Aestika mengakui saat ini permintaan kredit belum dapat mengimbangi pertumbuhan simpanan BRI. Otomatis tren penempatan pada SBN naik secara terbatas menyesuaikan dengan kecepatan pertumbuhan pinjaman.
 
Menurut hasil riset BRI, faktor utama pendorong pertumbuhan kredit yakni konsumsi dan daya beli masyarakat. "Oleh karenanya, untuk memacu pertumbuhan kredit tahun ini, BRI terus berkomitmen menjadi partner strategis pemerintah dalam menyalurkan berbagai stimulus atau bantuan,” tambah Aestika. 
 
Ia berharap berbagai stimulus pemerintah akan meningkatkan konsumsi dan daya beli masyarakat sehingga mampu meningkatkan permintaan kredit nasional. BRI akan tetap fokus menyasar kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lewat kredit yang dijamin (KUR). 
 
Sedangkan Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri   Tbk (BMRI) Rudi As Aturridha menyebut penempatan dana di surat berharga sebesar Rp 208,98 triliun (bank only) per April 2021. Ia mengakui angka tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu.
 
“Langkah itu sebagai strategi pengelolaan likuiditas di tengah permintaan kredit yang masih dalam tahap pemulihan. Ke depan, lewat implementasi program vaksinasi dan stimulus, diharapkan kondisi ekonomi Indonesia dapat segera pulih dan permintaan kredit mulai bergerak,” ujar Rudi, kemarin.  


Baca juga