Krisis Ekonomi 2023

Senin, 31 Oktober 2022 | 07:00 WIB
Krisis Ekonomi 2023
[]
Hans Kwee | Dosen FEB Trisakti dan MET Atmajaya Jakarta

KONTAN.CO.ID - Banyak pihak, di antaranya World Bank dan IMF, mengatakan ekonomi akan menghadapi krisis di 2023. Profesor ekonomi New York University Nouriel Roubini memprediksi dunia tengah memasuki era baru krisis stagflasi hebat yang belum pernah ada sebelumnya. Roubini punya reputasi berkat ramalan tepat atas krisis suprime mortgage di Amerika Serikat (AS) pada 2008, yang menjadi krisis global.

Jadi prediksi krisis ekonomi 2023 ini tentu tidak main-main. Tapi apa yang kita pikirkan soal krisis ekonomi? Sebagian orang mungkin akan berpikir krisis ekonomi 2023 akan seperti di tahun 1997, di mana waktu itu Asia diterjang badai krisis multi dimensi.

Waktu itu ekonomi Indonesia menghadapi kesulitan yang sangat besar karena suku bunga dalam negeri naik tinggi, inflasi tidak terkendali, rupiah melemah luar biasa dan ekonomi terkontraksi hebat. Tapi dampak krisis ekonomi 2023 di Asia tidak akan separah tahun 1997. Bahkan probabilitas Indonesia mengalami krisis ekonomi di 2023 diprediksi hanya 3%.

Saat ini dunia masih menghadapi efek pandemi Covid-19, di mana gangguan pasokan global mendorong naik inflasi. Ketika pandemi mulai berlalu dan ekonomi mulai bergerak, ternyata banyak bisnis masih mengalami kesulitan. Mulai dari tidak adanya modal kerja, ada sektor tertentu belum pulih, kesulitan menemukan pekerja tetap, dan perubahan model bisnis.

Hal-hal ini menimbulkan gangguan pasokan sehingga terjadi kenaikan inflasi yang tinggi. Ini adalah tipe inflasi cost push, yang cenderung merugikan ekonomi karena kenaikan harga diikuti penurunan output pada perekonomian.

Baca Juga: Reksadana Saham Syariah Menuai Berkah, Simak Produk Paling Moncer!

Dampak inflasi pada individu dengan pendapatan tetap atau tidak mengalami kenaikan pendapatan adalah orang tersebut cenderung mengurangi jumlah barang yang dikonsumsi. Ada sebagian orang akan mengurangi tabungan dan investasinya, atau bahkan mencairkan tabungan dan investasinya, untuk mempertahankan sebagian pola konsumsinya.

Terlihat dampak inflasi cenderung buruk bagi perekonomian karena kenaikan harga cenderung menurunkan output dari perekonomian. Ketika perekonomian diukur dengan harga konstan, maka akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, bahkan menyebabkan ekonomi bertumbuh negatif.

Inflasi yang terjadi di banyak negara tidak hanya didorong oleh cost push inflation, tetapi juga akibat demand pull inflation. Sehabis pandemi, sebagian perusahaan kembali menjalankan bisnis dengan melakukan belanja modal. Masyarakat juga melakukan konsumsi yang tertunda selama pandemi.

Kedua hal ini terjadi di tengah kelangkaan pasokan, sehingga mendorong inflasi naik tinggi. Untuk menahan inflasi yang tinggi sebagian besar bank sentral dunia menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan ini memang tidak terlalu efektif menurunkan cost push inflation, tapi efektif menurunkan demand pull inflation.

Dampak kenaikan suku bunga bagi perusahaan adalah biaya modal yang mengalami kenaikan, sehingga perusahaan harus membatasi investasi. Banyak proyek menjadi tidak feasible dan perusahaan cenderung membatasi aktivitas bisnisnya.

Bagi masyarakat, kenaikan suku bunga mendorong pengurangan konsumsi dan investasi. Pendapatan yang ada cenderung ditabung untuk mendapatkan bunga tinggi dan investasi pasar modal cenderung dialihkan ke pasar uang atau deposito untuk mengurangi risiko fluktuasi harga. Kenaikan suku bunga sampai level tertentu sebenarnya cenderung negatif bagi ekonomi suatu negara, karena mengurangi konsumsi dan investasi yang berakibat turunnya output perekonomian secara nasional.

Baca Juga: Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah

Kekhawatiran resesi global dan krisis ekonomi juga berdampak negatif bagi perekonomian. Ketika pebisnis dihadapkan pada potensi krisis, maka dia akan cenderung mengamankan bisnisnya. Beberapa hal yang sering perusahaan lakukan adalah menunda rencana expansi, melakukan efisiensi dan mengurangi utang.

Masyarakat yang menghadapi krisis juga akan melakukan hal yang hampir sama. Mulai dari mengurangi konsumsi, mengurangi utang dan menaikkan tabungan. Hampir semua aktivitas yang perusahaan dan masyarakat lakukan ketika menghadapi krisis cenderung menurunkan output perekonomian. Ketika sebagian besar masyarakat dan pebisnis percaya akan ada krisis ekonomi, besar kemungkinan perekonomian benar-benar akan mengalami krisis.

Kembali ke Indonesia. Sebenarnya banyak lembaga internasional memprediksi potensi Indonesia mengalami krisis ekonomi di 2023 sangat rendah. Bahkan beberapa lembaga internasional memprediksi pusat ekonomi di 2023 ada di Asia, sedang sebagian besar kawasan lain menghadapi badai krisis.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan sebagian mencari nafkah di sektor informal, terbukti sangat tahan terhadap gempuran krisis. Hampir tidak ada gangguan pasokan di Indonesia sehingga inflasi di Indonesia relatif terkendali.

Kenaikan inflasi yang terjadi akhir-akhir ini karena pemerintah mengurangi subsisi BBM. Tapi kenaikan inflasi ini biasanya sementara dan pemerintah sudah berupaya mengurangi efeknya dengan memberi Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Yang menjadi perhatian tentu adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Sebenarnya, sih, rupiah tidak benar-benar melemah, tetapi dollar AS yang menguat terhadap hampir semua mata uang dunia. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memang tertekan, tetapi sebenarnya masih lebih baik dari banyak negara tetangga. Tentu Indonesia perlu hati-hati, karena transmisi krisis masuk ke sektor rill selalu dari nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Komunikasi Krisis

BI terlihat sudah menaikkan suku bunga acuan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap harga barang, dalam hal ini inflasi, dan juga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dollar AS.

BI perlu menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga spread suku bunga dalam negeri dengan suku bunga negara maju, khususnya Amerika Serikat. Bila spread suku bunga nominal Indonesia dan Amerika Serikat menyempit, dikhawatirkan terjadi capital outflow yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah.

Memang di 2023 dunia menghadapi risiko stagflasi, ekonomi melambat dan cenderung masuk ke resesi, sedangkan inflasi tetap tinggi. Tapi Indonesia tidak perlu terlalu khawatir karena fundamental perekonomian nasional masih sangat baik.

Ketika sebagian besar masyarakat dan pebisnis khawatir akan ada krisis besar, ekonomi cenderung akan benar-benar krisis. Yang perlu dilakukan adalah menata keuangan, menyiapkan uang kas dan menunggu siapa tahu tahun depan ada pesta diskon di pasar keuangan.

Bagikan

Berita Terbaru

Berencana Akuisisi Anak PTRO, SINI Gelar Rights Issue Jumbo
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:53 WIB

Berencana Akuisisi Anak PTRO, SINI Gelar Rights Issue Jumbo

Jumlah dana yang akan diterima PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dari rights issue sebanyaknya Rp 3,6 triliun.

Meneropong Prospek Saham dan Kinerja NAYZ Usai Banting Setir Ke Bisnis Teknologi
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:44 WIB

Meneropong Prospek Saham dan Kinerja NAYZ Usai Banting Setir Ke Bisnis Teknologi

Transformasi bisnis akan diikuti divestasi sejumlah aset untuk produksi makanan bayi, termasuk yang diperoleh dari hasil IPO.

Harga Minyak Loyo, Emiten Migas Layu
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:36 WIB

Harga Minyak Loyo, Emiten Migas Layu

Normalisasi harga minyak dunia berpotensi mempengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten produsen minyak dan gas (migas). 

IHSG dan Rupiah Menukik, Pasar Keuangan Domestik Semakin Tak Menarik
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:31 WIB

IHSG dan Rupiah Menukik, Pasar Keuangan Domestik Semakin Tak Menarik

Risiko berinvestasi di Indonesia semakin tinggi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah semakin terkapar.

Manufaktur Keluar dari Zona Kontraksi, Tapi Ancaman Margin Belum Reda
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:27 WIB

Manufaktur Keluar dari Zona Kontraksi, Tapi Ancaman Margin Belum Reda

PMI manufaktur Indonesia kembali ekspansi, sinyal positif bagi sektor riil. Cek daftar emiten yang berpotensi diuntungkan jika tren ini berlanjut.

Fokus Bisnis Inti, Telkom Indonesia (TLKM) Lepas AdMedika
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:24 WIB

Fokus Bisnis Inti, Telkom Indonesia (TLKM) Lepas AdMedika

Telkom resmi lepas AdMedika ke Fullerton Health. Analis sebut strategi ini bagian penataan portofolio. Cari tahu dampak divestasi pada saham TLKM.

Saham AKRA Tertekan Lagi Usai Relief Rally, Fundamental yang Solid Masih Jadi Kunci
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:22 WIB

Saham AKRA Tertekan Lagi Usai Relief Rally, Fundamental yang Solid Masih Jadi Kunci

Laju produksi batubara domestik yang tersendat dapat menekan permintaan solar industri yang selama ini menjadi lumbung pasar utama AKRA.

Perkuat Bisnis Nikel, HRUM Siapkan Capex US$310 Juta
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:22 WIB

Perkuat Bisnis Nikel, HRUM Siapkan Capex US$310 Juta

Harum Energy alokasikan US$310 juta untuk capex 2026, mayoritas ke nikel. Cari tahu rencana bisnis dan rekomendasi saham HRUM

Defisit Transaksi Berjalan Berisiko Makin Menganga
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:19 WIB

Defisit Transaksi Berjalan Berisiko Makin Menganga

Dalam skenario berat, CAD berpotensi mendekati 2% jika harga minyak dan impor melonjak              

Rupiah Loyo, Trade Finance Tetap Melaju
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:10 WIB

Rupiah Loyo, Trade Finance Tetap Melaju

​Rupiah melemah ke level terendah, tapi bisnis trade finance perbankan justru tetap tumbuh dan jadi peluang baru di tengah tekanan impor

INDEKS BERITA

Terpopuler