Laba Telkom (TLKM) Naik 13,3% di Semester I-2021, Liabilitasnya Melejit 22,07%

Selasa, 31 Agustus 2021 | 08:41 WIB
Laba Telkom (TLKM) Naik 13,3% di Semester I-2021, Liabilitasnya Melejit 22,07%
[ILUSTRASI. Telkom Indonesia (TLKM) membukukan laba bersih di semester I-2021 sebesar Rp 12,45 triliun./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/11/11/2014.]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) hari ini merilis laporan keuangan konsolidasian untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2021 yang masih belum diaudit. 

Hasilnya, Telkom membukukan kenaikan pendapatan maupun laba meski angkanya tidak fantastis. 

Per 30 Juni 2021, pendapatan Telkom hanya naik 3,92% menjadi Rp 69,48 triliun. 

Baca Juga: Setelah Bank KB Bukopin (BBKP), KB Financial Group Berniat Akuisisi Valbury Sekuritas

Meski pendapatan cuma naik tipis, laba usaha Telkom tercatat naik 6,12% menjadi Rp 23,6 triliun. 

Kenaikan laba usaha yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan ditopang oleh penurunan beban interkoneksi dan kenaikan penghasilan lain-lain. 

 

 

Selain itu, pada semester I-2021, Telkom membukukan laba selisih kurs bersih sebesar Rp 79 miliar. Pada semester I tahun lalu, Telkom membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar Rp 84 miliar. 

Di bottom line, Telkom membukukan laba periode berjalan yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 12,45 triliun. Dibandingkan semester I tahun lalu, laba bersih Telkom di semester I-2021 naik 13,3%.

 

Kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
(dalam miliar rupiah)
  30 Juni 2021 30 Juni 2020 Perubahan (%)
Aset 263.977 246.943 6,90
Liabilitas 153.870 126.054 22,07
Ekuitas 110.107 120.889 -8,92
       
Pendapatan 69.480 66.856 3,92
Laba Usaha 23.615 22.253 6,12
Laba Bersih 12.451 10.989 13,30

 

Sementara itu, aset Telkom tumbuh 6,9% menjadi Rp 263,98 triliun. Sementara ekuitasnya turun 8,92% menjadi Rp 110,1 triliun. 

Pada saat bersamaan, liabilitas Telkom melejit hingga 22,07% menjadi Rp 153,98 triliun. 

Dalam penjelasannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Heri Supriadi mengatakan, total liabilitas mengalami kenaikan disebabkan kenaikan utang dividen kepada pemegang saham sebesar Rp 16,64 triliun.

Baca Juga: Gaet Mitra Baru, Grup Japfa Jual Lagi Saham AustAsia, Produsen Susu Mentah di China

Selain itu, kenaikan liabilitas juga disebabkan kenaikan utang bank jangka pendek sebesar Rp 6,8 triliun, kenaikan pinjaman jangka panjang panjang sebesar Rp 7,89 triliun yang diimbangi dengan penurunan utang usaha sebesar Rp 3,7 triliun. 

Kemarin, Senin (30/8), harga saham TLKM ditutup di posisi Rp 3.400 per saham. Dihitung sejak awal tahun, harga saham TLKM tercatat masih mengalami koreksi 2,58%.

Selanjutnya: Indikasi Ekonomi Indonesia Melambat pada Kuartal III-2021

 

Bagikan

Berita Terbaru

Tidak Ada Temuan Besar Emas di 2023-2024, Dukung Harga Emas Jangka Panjang
| Rabu, 11 Februari 2026 | 15:13 WIB

Tidak Ada Temuan Besar Emas di 2023-2024, Dukung Harga Emas Jangka Panjang

Tidak adanya penemuan besar emas selama dua tahun berturut-turut, yakni 2023-2024 diyakini akan mendukung harga emas ke depannya.

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?
| Rabu, 11 Februari 2026 | 14:00 WIB

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?

JPMorgan menyatakan bahwa bitcoin kini terlihat lebih menarik dibanding emas, jika dilihat dari sisi volatilitas yang disesuaikan dengan risiko.

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:25 WIB

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya

Kekuatan inti PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) adalah laba yang tumbuh di sepanjang 2025, loan deposit ratio (LDR) di level 70,4% dan CAR 24,5%.

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:00 WIB

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses

BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa preferensi pasar terhadap PIK2 relatif berkelanjutan karena segmen yang disasar didominasi kelas atas.

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara
| Rabu, 11 Februari 2026 | 11:00 WIB

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara

Tak hanya kendaraan listrik, Indika Energy (INDY) juga tengah melakukan proyek konstruksi tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan.

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:17 WIB

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran

 Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 diperkirakan sebesar 228,3, lebih rendah dari Desember 2025 

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:01 WIB

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026

Pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini akan didorong percepatan belanja dan stimulus pemerintah

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:00 WIB

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback

Lima sekuritas kompak merekomendasikan beli saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada awal Februari 2026 di tengah penurunan harga yang masih terjadi.

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:50 WIB

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%

Untuk mencapai rasio pajak 2026, pemerintah harus tambah Rp 139 triliun dari realisasi 2025         

Merdeka Gold Resources (EMAS) Sinergikan Dua Anak Usaha di Tambang Emas Pani
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:24 WIB

Merdeka Gold Resources (EMAS) Sinergikan Dua Anak Usaha di Tambang Emas Pani

Dua entitas usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), menjalin kerjasama pengolahan dan pemurnian atas hasil tambang senilai Rp 9,84 triliun.  ​

INDEKS BERITA

Terpopuler