Likuiditas Melimpah, Kredit Tetap Terlemah

Senin, 30 Maret 2026 | 04:00 WIB
Likuiditas Melimpah, Kredit Tetap Terlemah
[]
Reporter: Siti Masitoh | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah menggelontorkan tambahan likuiditas Rp 100 triliun ke perbankan kembali menuai kritik. Langkah tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan lesunya penyaluran kredit, khususnya ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Data terbaru menunjukkan, kredit UMKM hingga Februari 2026 masih terkontraksi 0,6% secara tahunan, lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya minus 0,5% secara tahunan. Secara rinci, kredit mikro nyaris stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,004% secara tahunan, sementara kredit usaha kecil dan menengah masing-masing menyusut 1,5% dan 0,4% secara tahunan.

Kontraksi terutama terjadi pada kredit modal kerja yang turun 4,9% secara tahunan. Padahal, jenis kredit ini menjadi penopang utama aktivitas operasional UMKM. Sebaliknya, kredit investasi masih tumbuh 9,6% secara tahunan, mengindikasikan tekanan lebih besar pada arus kas jangka pendek pelaku usaha.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai, tambahan likuiditas belum tentu efektif mendorong sektor riil. Ia menyoroti, suntikan sebelumnya sebesar Rp 200 triliun juga belum mampu mengerek kredit UMKM. "Ini menimbulkan pertanyaan, sebenarnya aliran dana likuiditas itu ke mana. Indikasinya bukan ke UMKM atau KUR," ujarnya, Minggu (29/3).

Di sisi lain, kredit korporasi justru tumbuh tinggi mencapai 13,8% secara tahunan. Tapi Bhima juga melihat tren ini lebih mencerminkan aktivitas refinancing ketimbang ekspansi usaha baru, sehingga dampaknya ke ekonomi riil relatif terbatas.

Bhima menyoroti tingginya dana kredit yang belum tersalurkan (undisbursed loan) yang mencapai Rp 2.332 triliun, naik 11,52% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan perbankan tidak kekurangan likuiditas, melainkan tengah menahan ekspansi akibat tingginya risiko.

"Bank cenderung menahan penyaluran karena khawatir debitur tidak mampu membayar di tengah risiko usaha yang meningkat," katanya.

Baca Juga: Moratorium Fintech Ditahan, Risiko Kredit Meningkat

Risiko kredit tinggi

Pandangan serupa disampaikan ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet. Ia menilai persoalan utama bukan pada ketersediaan dana, melainkan pada meningkatnya risiko kredit dan lemahnya kondisi usaha.

Apalagi, rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) UMKM tercatat naik jadi 4,6% di Januari 2026, dari 4,33% di Desember 2025. Kenaikan ini mendorong perbankan mengalihkan pembiayaan ke sektor yang lebih aman, seperti korporasi besar.

Yusuf menambahkan, pelemahan kredit UMKM juga mencerminkan turunnya aktivitas usaha. Penurunan kredit modal kerja menjadi sinyal bahwa perputaran bisnis UMKM sedang melambat, seiring daya beli masyarakat yang belum pulih.

"Dalam kondisi permintaan belum pasti dan margin tertekan, pelaku usaha juga cenderung menahan ekspansi. Jadi bukan hanya bank yang selektif, permintaan kredit juga melemah," jelasnya.

Senada, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman menilai, fenomena ini menunjukkan terjadinya flight to quality di sektor perbankan. Bank memilih menyalurkan kredit ke debitur bankable di tengah ketidakpastian ekonomi.

Ia menegaskan, transmisi kebijakan likuiditas menjadi tidak efektif tanpa diikuti skema mitigasi risiko yang memadai. Tingginya volatilitas NPL, keterbatasan agunan, hingga lemahnya kualitas laporan keuangan UMKM, membuat sektor ini kurang menarik bagi perbankan.

Menurut Rizal, solusi tidak cukup dengan menambah likuiditas. Pemerintah perlu memperkuat skema penjaminan kredit, memperluas subsidi bunga, serta mendorong pembiayaan berbasis rantai pasok.

Selain itu, stimulus fiskal yang mampu mengerek daya beli masyarakat juga dinilai krusial untuk memulihkan permintaan terhadap UMKM. "Tanpa perbaikan dari sisi risiko dan permintaan, injeksi likuiditas besar sekalipun akan sulit mendorong kredit UMKM secara berkelanjutan," terang Rizal.

Bhima pun mengingatkan pemerintah agar tidak keliru membaca kondisi. Ia menilai penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) perlu lebih hati-hati, mengingat dana tersebut juga penting untuk menjaga stabilitas fiskal.         

Baca Juga: Laju Pertumbuhan Kredit Mulai Melambat

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Krisis LNG Bikin Asia Pasifk Butuh Tambahan 90 Juta Ton Batubara, RI Siap Menyuplai?
| Kamis, 11 Juni 2026 | 09:30 WIB

Krisis LNG Bikin Asia Pasifk Butuh Tambahan 90 Juta Ton Batubara, RI Siap Menyuplai?

Laju impor batubara Korea Selatan dan Jepang masing-masing tercatat melonjak lebih dari 50% dan 20% di atas level tahun lalu.

Memburu Saham Blue Chip yang Murah
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:50 WIB

Memburu Saham Blue Chip yang Murah

Saham blue chip memimpin rebound IHSG. Strategi akumulasi bertahap dapat memaksimalkan potensi keuntungan.

Ruang Pertumbuhan ASII Masih Terbatas, Simak Rekomendasi Sahamnya
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:34 WIB

Ruang Pertumbuhan ASII Masih Terbatas, Simak Rekomendasi Sahamnya

Astra International ubah fokus ke value creation. Temukan tiga mesin pertumbuhan baru yang berpotensi dongkrak kinerja jangka panjang.

Kenaikan BI Rate Hanya Obat Kuat Sementara untuk Rupiah
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:28 WIB

Kenaikan BI Rate Hanya Obat Kuat Sementara untuk Rupiah

Kenaikan BI Rate dinilai belum cukup untuk menjamin stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang tanpa dukungan kebijakan lainnya.

PALM Menerbitkan Obligasi Senilai Rp 500 Miliar untuk Membayar Utang
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:01 WIB

PALM Menerbitkan Obligasi Senilai Rp 500 Miliar untuk Membayar Utang

Masa penawaran umum obligasi ini pada 9 Juni 2026 dan tanggal pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia pada 15 Juni 2026. ​

Genjot Perdagangan Saham, Rukun Raharja (RAJA) Lakukan Stock Split
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:56 WIB

Genjot Perdagangan Saham, Rukun Raharja (RAJA) Lakukan Stock Split

Nilai nominal saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) akan berubah dari Rp 25 per saham  menjadi Rp 5 per saham setelah stock split. ​

Nilai Dividen Aneka Tambang (ANTM) Menurun, Imbal Hasil Tetap Menggiurkan
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:49 WIB

Nilai Dividen Aneka Tambang (ANTM) Menurun, Imbal Hasil Tetap Menggiurkan

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 5,05 triliun.

Asing Konsisten Sell Indonesia Saat IHSG Melesat, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:48 WIB

Asing Konsisten Sell Indonesia Saat IHSG Melesat, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Tiga hari terakhir, jumlah net sell asing itu malah mencapai Rp 6,01 triliun. Artinya, penguatan IHSG ditopang oleh investor lokal. 

Investor Asing Rajin Borong TINS Saat Pasar Saham Indonesia Tertekan, Ini Penyebabnya
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:47 WIB

Investor Asing Rajin Borong TINS Saat Pasar Saham Indonesia Tertekan, Ini Penyebabnya

Daya tarik utama PT Timah Tbk (TINS) berasal dari prospek fundamental yang membaik seiring reli harga timah dunia.

Era Suku Bunga Tinggi, Prospek Emiten Semen Kian Berat
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:43 WIB

Era Suku Bunga Tinggi, Prospek Emiten Semen Kian Berat

Kenaikan BI rate akan memperberat beban KPR oleh masyarakat, yang langsung menekan permintaan properti sebagai pasar terbesar emiten semen.​

INDEKS BERITA

Terpopuler