Mangga Masak Pohon

Minggu, 25 Oktober 2020 | 09:20 WIB
 Mangga Masak Pohon
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di situs Tokopedia, ditawarkan mangga alpukad (avokad) Rp 385.000 bobot 5 kilogram, isi 8-12 butir (per butir Rp 32.000-Rp 48.000). Masih di situs yang sama, juga ditawarkan mangga alvokad Rp 430.000 bobot 10 kilogram isi 20 butir (per butir Rp 21.500).

Ternyata yang disebut mangga avokad, sebenarnya mangga harummanis biasa, atau gadung; yang masak pohon. Di situs Bukalapak juga ditawarkan mangga harummanis masak pohon dengan variasi harga dari Rp 42.000-Rp 525.000 bergantung bobot dan isi buah. Di Shopee juga ada mangga avokad seharga Rp 36.855 bobot satu kilogram. Yang absen jualan mangga masak pohon hanya Blibli.

Tak jelas sejak kapan mangga harummanis masak pohon disebut sebagai mangga avokad. Meskipun penyebab sebutan itu cukup jelas, yakni cara mengonsumsinya yang beda.

Yang disebut mangga avokad hanyalah mangga biasa yang dipotong melintang, diputar, hingga salah satu potongan terlepas dari biji. Bagian potongan yang sudah tak berbiji itu dimakan pakai sendok, seperti mengonsumsi avokad. Biji di potongan yang satu lagi juga diambil dengan cara diputar menggunakan tang pemecah sapit kepiting, atau tang biasa yang bersih, kemudian dikonsumsi seperti potongan sebelumnya. Karena cara mengonsumsinya seperti makan buah avokad, mangganya disebut mangga avokad. Yang bisa dimakan dengan cara seperti ini hanya mangga harummanis atau gadung masak pohon.

Mangga, selain harummanis dan gadung, meskipun masak pohon, setelah dipotong melintang, sulit dipisahkan dari biji karena seratnya cukup banyak dan kuat. Misalnya mangga golek. Mangga harummanis dan gadung yang bukan masak pohon; bagian dalam yang dekat biji, maupun bagian luar yang dekat kulit; akan lunak bersamaan. Ketika mangga diiris melintang lalu diputar, daging buah mangga akan hancur dan biji tetap sulit dipisahkan dari daging buah. Itulah sebabnya hanya mangga harummanis dan gadung yang bisa dikonsumsi sebagai mangga avokad, karena daging buah dekat kulit dan tengah masih keras; sedangkan bagian dekat biji sudah sangat lunak.

Sebenarnya, mangga harummanis masak pohon, yang dikonsumsi dengan cara diiris melintang dan diputar; sudah diperkenalkan oleh kebun mangga Friga di Pasuruan, Jawa Timur, pada dekade 1990. Waktu itu PT Friga menyebut mangga harummanis masak pohon mereka dengan nama mangga souvenir, yang dikemas dengan kotak kayu yang cukup kuat dan rapi. Friga menjual mangga souvenir mereka Rp 20.000 per butir; 10 kali lipat mangga harummanis biasa seharga Rp 2.000. Mangga souvenir Friga tak pernah masuk pasar umum, karena selalu habis dipesan para pelanggan.

Dipetik Selektif

Di Indonesia, kebun mangga monokultur dalam skala komersial, masih belum umum. Yang ada pohon mangga satu dua di halaman rumah atau kebun, campur dengan tanaman lain. Kalau pun ada kebun mangga monokultur, skala rata-ratanya masih sebatas ribuan meter persegi, belum sampai ke satuan hektare.

Para pemilik kebun, biasa menjual mangga mereka saat masih berada di pohon (menebaskan), ke para tengkulak. Begitu ada satu dua mangga masak pohon dengan tanda dimakan codot dan kalong (kelelawar pemakan buah); para tengkulak akan memanen habis mangga di pohon tersebut.

Akibatnya, mangga hasil panen akan merupakan campuran antara mangga masak pohon, mangga tua tetapi belum masak, dan mangga muda. Mangga masak pohon ini diseleksi oleh para pedagang pengumpul, untuk dipasarkan secara khusus, dengan harga khusus. Konsumen bisa membeli mangga masak pohon ke para tengkulak, yang sedang menyortir dan mengemas mangga hasil panen di tepi jalan raya Pasuruan-Probolinggo. Harga mangga masak pohon itu hanya selisih sedikit dengan harga mangga biasa. Misalnya, harga mangga biasa Rp 15.000 per kilogram isi tiga butir; mangga harummanis masak pohon itu Rp 20.000 dengan bobot dan isi sama.

Dibanding mangga avokad yang ditawarkan di Tokopedia seharga Rp 21.500, bahkan sampai Rp 48.000 per butir; harga mangga masak pohon di tepi jalan ini sangat murah.

Para tengkulak sengaja memisahkan mangga masak pohon ini, karena akan hancur apabila dikemas dalam keranjang bersama mangga mentah. Dari para penebas inilah asal mangga masak pohon atau yang belakangan ini populer dengan sebutan mangga avokad. Para penjual mangga masak pohon akan kembali menyeleksi mangga masak pohon ini berdasarkan ukuran dan tingkat kemasakan, untuk dikemas dan dipasarkan.

Para pekebun mangga monokultur berskala besar lain lagi. Mereka menyeleksi mangga mereka sejak masih pentil. Hanya yang berbentuk sempurna dan sehat yang mereka pelihara, lainnya dibuang.

Dalam satu malai, akan dibiarkan satu buah mangga yang tumbuh. Jadinya, ukuran mangga bisa optimum. Mangga di perkebunan besar ini dibungkus untuk menghindari lalat buah dan hama lainnya. Kemudian saat panen tiba akan dipetik secara selektif buah yang sudah benar-benar masak pohon, untuk dipasarkan secara khusus sebagai mangga avokad, mangga masak pohon, atau dengan sebutan lain.

Harga harummanis masak pohon Rp 48.000 per butir itu masih belum ada apa-apanya dibanding mangga merah Okinawa, yang dijual di gerai buah Sembikaya. Di sini harga satu butir mangga Okinawa dibanderol seharga 21.600 yen (Rp 2.567.808) per butir, dan ada juga yang mau membelinya.

Ini sudah sampai ke tingkatan membeli prestise. Sebab duit Rp 2,5 juta; dibelikan mangga harummanis biasa di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta; bisa dapat 500 butir, cukup untuk dibagikan ke penghuni satu RT. Tetapi itulah bisnis prestise. Mangga Rp 48.000 per butir pun sudah absurd. Ini Rp 2.500.000 per butir.***

Bagikan

Berita Terbaru

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:17 WIB

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

Pada 22 Januari 2026, Rama Indonesia berencana mengakuisisi 59,24% saham PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) dari modal disetor dan ditempatkan.

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:09 WIB

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dan paling sedikit saham yang beredar 7,5% dari modal disetor. ​

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:02 WIB

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), jadi salah satu penahan kinerja IHSG di sepanjang pekan ini. ​

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:53 WIB

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi

Kinerja saham masih loyo di awal tahun 2026, emiten teknologi dibayangi bubble kecerdasan buatan (AI)

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka

Kondisi geopolitik yang panas dingin membuat harga emas diprediksi bakal terus menanjak di tahun 2026.

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi

Ekonomi resiliensi diperlukan saat ini untuk bisa melindungi rakyat kebanyakan dari tekanan ekonomi.​

Menunggu Bunga Layu
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menunggu Bunga Layu

Otoritas perlu lebih galak memastikan efisiensi perbankan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk bunga kredit yang rendah.

Strategi Raih Kebebasan Finansial ala Dirut RMK Energi, Vincent Saputra
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:15 WIB

Strategi Raih Kebebasan Finansial ala Dirut RMK Energi, Vincent Saputra

Dirut RMKE, Vincent Saputra, bagikan strategi investasinya dari saham AS hingga obligasi. Pelajari cara dia raih kebebasan finansial!

Penunjukan Ponakan Prabowo Hingga Intervensi BI jadi Sentimen Penggerak Rupiah
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:00 WIB

Penunjukan Ponakan Prabowo Hingga Intervensi BI jadi Sentimen Penggerak Rupiah

Rupiah menguat terhadap dolar AS. Nilai tukar di pasar spot naik 0,45% secara harian menjadi Rp 16.820 per dolar AS, Jumat (23/1).

Martina Berto (MBTO) Mempercantik Kinerja di Tahun Ini
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:20 WIB

Martina Berto (MBTO) Mempercantik Kinerja di Tahun Ini

Masih menargetkan pertumbuhan signifikan karena melihat kinerja industri kosmetik yang masih positif tahun ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler