Marketplace yang Menjual NFT Pendiri Twitter Menyetop Sementara Penjualan

Minggu, 13 Februari 2022 | 12:51 WIB
Marketplace yang Menjual NFT Pendiri Twitter Menyetop Sementara Penjualan
[ILUSTRASI. Marketplace NFT OpenSea. ]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - LONDON. Platform yang menjual non-fungible token (NFT) dari tweet pertama Jack Dorsey seharga $2,9 juta telah menghentikan sebagian besar transaksi untuk sementara. Alasannya, banyak yang menjual token konten yang bukan miliknya. Pengelola platform menyebut aksi penangguhan itu sebagai "masalah mendasar" dalam pasar aset digital yang tumbuh cepat.

Nilai penjualan NFT, atau token yang tidak dapat dipertukarkan, melonjak menjadi sekitar US$ 25 miliar, atau setara Rp 358,6 triliun lebih pada tahun 2021. Nilai sebesar itu membuat banyak orang bingung: Mengapa begitu banyak uang dihabiskan untuk barang-barang yang tidak ada secara fisik dan dapat dilihat siapapun secara online secara gratis.

NFT adalah aset kripto yang merekam kepemilikan file digital seperti gambar, video, atau teks. Siapa pun dapat membuat, atau “mencetak” NFT. Dan kepemilikan token biasanya tidak memberikan kepemilikan item yang mendasarinya.

Apa yang terjadi kemudian adalah membanjirnya aduan tentang penipuan, pemalsuan, dan “wash trading.”

Baca Juga: Incar Perolehan Dana Setara Rp 8 Triliun, Filipina Luncurkan Obligasi Ritel  

Cent yang berbasis di Amerika Serikat (AS) merupakan platform yang diketahui pertama kali mengeksekusi penjualan NFT bernilai jutaan dolar. Transaksi yang dimaksud adalah penjualan NFT cuitan Jack Dorsey, pendiri sekaligus mantan CEO Twitter, pada Maret tahun lalu.

Berselang sejak transaksi itu, tepatnya pada 6 Februari, Cent berhenti mengizinkan pembelian dan penjualan NFT. CEO dan salah satu pendiri Cameron Hejazi mengatakan alasannya kepada Reuters.

“Ada berbagai tingkatan aktivitas yang seharusnya tidak boleh, misal karena alasan hukum, namun tetap terjadi,” kata Hejazi.

Kendati beta.cent.co yang merupakan marketplace Cent untuk NFT telah menghentikan penjualan, segmen khusus untuk menjual NFT tweet yang disebut "Valuables" masih beroperasi.

Baca Juga: Lamborghini Mempertahankan Mobil dengan Mesin Bakar hingga 2030  

Hejazi menyoroti tiga masalah utama dalam penjualan NFT. Yaitu, orang yang menjual salinan NFT lain yang tidak sah, orang yang membuat konten NFT yang bukan miliknya, dan orang yang menjual set NFT yang menyerupai sebuah aset.

Dia mengatakan ketiga masalah ini merajalela karena pengguna “mencetak, mencetak dan terus mencetak aset digital palsu".

“Itu terus terjadi. Kami seperti sedang bermain game whack-a-mole. Begitu kami mencekal satu akun yang melanggar, akan muncul satu, atau bahkan tiga akun lain yang melakukan pelanggaran serupa.”

Masalah seperti itu akan mengundang perhatian mengingat berbagai merek raksasa bergegas menuju apa yang disebut "metaverse", atau Web3. Coca-Cola dan merek mewah Gucci termasuk di antara perusahaan yang telah menjual NFT. Sementara YouTube mengatakan akan mengeksplorasi fitur NFT.

Dengan 150.000 pengguna dan pendapatan yang “cuma” berkisar jutaan dolar AS, Cent terbilang platform NFT yang kecil. Hejazi mengatakan masalah konten palsu dan ilegal ada di seluruh industri. “Saya pikir ini adalah masalah Web3 yang cukup mendasar,” ujar dia.

Marketplace NFT terbesar, OpenSea, mengalami masalah serupa. Perusahaan yang mendapat valuasi US$ 13,3 miliar dalam putaran terakhir pendanaan, pada bulan lalu mengatakan bahwa lebih dari 80% dari NFT yang dicetak secara gratis di platformnya adalah "karya hasil menjiplak, koleksi palsu, dan spam".

OpenSea mencoba membatasi jumlah NFT yang dapat dicetak pengguna secara gratis. Namun, kebijakan itu dianulir setelah perusahaan menuai reaksi kontra dari penggunanya, kata perusahaan itu di utas Twitter.

Platform itu menambahkan tengah merancang sejumlah cara untuk mencegah hadirnya aktor jahat, sembari mendukung kreator. “Menjual NFT menggunakan konten yang dijiplak bertentangan dengan kebijakan kami,” kata juru bicara OpenSea.

 Baca Juga: Kementerian Keuangan AS Tolak Usulan Mendukung IMF Menghapus Pembebanan Surcharge

"Kami bekerja sepanjang waktu untuk mengirimkan produk, menambahkan fitur, dan menyempurnakan proses kami untuk memenuhi momen tersebut."

Bagi banyak penggemar NFT, sifat terdesentralisasi dari teknologi blockchain merupayakan daya tarik. Itu memungkinkan pengguna untuk membuat dan memperdagangkan aset digital tanpa otoritas pusat yang mengendalikan aktivitas.

Namun Hejazi mengatakan perusahaannya bermaksud melindungi pembuat konten, dan mungkin memperkenalkan kontrol terpusat sebagai tindakan jangka pendek untuk membuka kembali pasar, sebelum mengeksplorasi solusi terdesentralisasi.

Setelah penjualan NFT Dorsey, Cent mulai memahami apa yang terjadi di pasar NFT. “Kami menyadari bahwa banyak dari itu hanya mengejar uang,” ujar dia.

Bagikan

Berita Terbaru

IHSG Menguat Meski Ada Net Sell asing, Ini Saham Pilihan untuk Rabu (11/2)
| Rabu, 11 Februari 2026 | 04:45 WIB

IHSG Menguat Meski Ada Net Sell asing, Ini Saham Pilihan untuk Rabu (11/2)

IHSG mengakumulasi kenaikan 0,11% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG turun 5,96%.

Menata Ulang Kredit UMKM di Era Data
| Rabu, 11 Februari 2026 | 04:14 WIB

Menata Ulang Kredit UMKM di Era Data

Membangun ekosistem kepercayaan bukan berarti melonggarkan kehati-hatian, melainkan menyeimbangkan pengawasan dengan pemberdayaan.

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:30 WIB

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut

Persaingan bisnis rumah sakit semakin sengit sehingga akan memengaruhi ekspansi, khususnya ke kota-kota tier dua.

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:26 WIB

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menggeber ekspansi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) miliknya.

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:06 WIB

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1

Saham bonus yang akan dibagikan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham tahun buku 2024.

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:02 WIB

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)

Momentum Ramadan dinilai bakal menjadi salah satu katalis positif bagi emiten farmasi. Salah satunya PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.​

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:56 WIB

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI

Proyek hilirisasi Danantara juga membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi.

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48 WIB

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025

Segmen selular jadi kontributor utama pertumbuhan kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) di sepanjang tahun 2025.

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:33 WIB

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi

Pelaksanaan aturan ini tidak langsung, tapi ada waktu transisi. Ini penting agar pemilik dan pengendali punya waktu menyusun strategi 

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11 WIB

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026

Sentimen positif bagi BMRI di tahun 2026 berasal dari fundamental yang solid dan efisiensi berkelanjutan.

INDEKS BERITA