Berita Ekonomi

Memacu parawisata sebagai lokomotif baru pertumbuhan

Kamis, 17 Januari 2019 | 08:05 WIB

KONTAN.CO.ID - Beberapa tahun belakangan, semakin banyak orang Indonesia yang doyan pelesiran. Enggak heran, status liburan sering mewarnai lini masa media sosial. Apalagi, sepanjang akhir tahun lalu hingga awal tahun ini yang bertepatan dengan momentum libur Natal dan Tahun Baru.

Tak berlebihan, sektor pariwisata siap jadi mesin penggerak baru perekonomian nasional. “Ke depan, sektor pariwisata memang akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Setianto, Direktur Neraca Produksi BPS.

Beberapa tahun belakangan, semakin banyak orang Indonesia yang doyan pelesiran. Enggak heran, status liburan sering mewarnai lini masa media sosial. Apalagi, sepanjang akhir tahun lalu hingga awal tahun ini yang bertepatan dengan momentum libur Natal dan Tahun Baru.

Indikatornya lainnya: konsumsi pada hotel dan restoran naik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) menurut lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sepanjang Januari hingga September 2018 lalu mencapai 5,7% dibandingkan dengan periode sama 2017.

Angka ini lebih tinggi ketimbang pertumbuhan sektor sama di Januari–September 2017 yang hanya 4,9% ketimbang masa yang sama 2016 lalu.

Menurut Leonardo A.A. Teguh Sambodo, Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), data tersebut menunjukkan pergeseran pola konsumsi masyarakat di Indonesia. “Shifting dari kegiatan non-leisure (untuk berbelanja) ke leisure (bersenang-senang seperti berwisata),” kata Leonardo.

Pendorong utama pergeseran pola konsumsi itu, menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), adalah generasi milenial. Riset situs persewaan rumah Airbnb menunjukkan, sebanyak 70% milenial rela menyisihkan uang untuk jalan-jalan. “Fenomena ini disebut leisure economy dan menjadi tren,” ujar dia.

Tren ini sejalan dengan pertumbuhan kelas konsumen yang semakin besar. Konsumen dengan pendapatan di atas US$ 3.600 per tahun ini sudah menganggap leisure sebagai kebutuhan hidup utama. “Pada 2020, kami memprediksikan, Indonesia akan memiliki 85 juta kelas konsumen,” imbuh Leonardo.

Sektor pariwisata yang semakin menggeliat tidak hanya datang dari aktivitas liburan wisatawan domestik. Turis asing juga memainkan peran yang sangat besar. Kunjungan pelancong mancanegara dari tahun ke tahun terus mendaki.

Selama Januari–November 2018 lalu, data BPS memperlihatkan, jumlah turis asing ke Indonesia mencapai 14,39 juta orang. Angka ini sudah di atas angka kunjungan tahun lalu, meski tampaknya tidak akan mencapai target pemerintah tahun ini 17 juta orang.

Devisa terbesar

Walau target gagal tercapai, Kementerian Pariwisata optimistis, kunjungan turis asing tahun lalu bakal mencapai 16,2 juta orang. Alhasil, mendatangkan devisa sebanyak US$ 17,6 miliar atau sekitar Rp 248,2 triliun dengan kurs Rp 14.100 per dollar Amerika Serikat.

Berita baiknya, Guntur Sakti, Kepala Biro Komunikasi Publik Kementrian Pariwisata, mengungkapkan, perolehan devisa tahun lalu akan menempatkan sektor pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar, mengalahkan minyak kelapa sawit mentah (CPO). “Tahun ini, target devisa mencapai US$ 20 miliar dengan 20 juta wisatawan mancanegara,” imbuh Guntur.

Sementara proyeksi perjalanan wisatawan domestik di 2019 mencapai 275 juta perjalanan, lebih tinggi dibanding target 2018 sebanyak 265 juta perjalanan. Dengan rata-rata belanja sebesar Rp 900.000 per perjalanan, maka total pengeluaran pelancong dalam negeri tahun ini mencapai Rp 238,5 triliun.

Bappenas menghitung, sumbangan sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) 2019 bertambah menjadi 5,5%. “Dalam dua tahun terakhir, 2017 dan 2018, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB masing-masing sebesar 5% dan 5,3%,” beber Leonardo.

Data World Travel & Tourism Council (WTTC) menunjukkan, pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat ke-9 di dunia, nomor 3 di Asia, dan nomor 1 di Asia Tenggara.

Tak berlebihan, sektor pariwisata siap jadi mesin penggerak baru perekonomian nasional. “Ke depan, sektor pariwisata memang akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Setianto, Direktur Neraca Produksi BPS.

Tambah lagi, Kementerian Pariwisata memprediksi, sektor pariwisata tahun ini menyedot tenaga kerja sebanyak 13 juta orang. Ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang sebanyak 12,6 juta orang. Pelayanan sumber daya manusia di sektor ini meliputi bidang hospitality, atraksi dan destinasi, acara, transportasi dan perjalanan wisata.

Untuk tahun ini, BPS akan melakukan perhitungan pertumbuhan sektor pariwisata dari kunjungan turis asing dan perjalanan wisatawan lokal. “Kami akan hitung pertumbuhan ini dengan sistem tourism satellite accounts atau dikenal TSA,” jelas Setianto.

Komponennya adalah sektor transportasi, mulai angkutan penumpang laut, udara dan, darat, kemudian hotel, jasa keuangan, hingga perdagangan.

Senjata pamungkas

Guna mendongkrak kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, pemerintah mengalokasikan bujet untuk fungsi pariwisata sebesar Rp 5,32 triliun. Penggunaannya untuk mendukung promosi dan  pengembangan serta perbaikan destinasi pariwisata, agar tren kunjungan wisatawan mancanegara di 2019 meningkat.

Pemerintah akan semakin aktif mempromosikan Beyond Bali, yaitu 10 destinasi Bali Baru pada dunia internasional. Namun untuk tahun ini, pemerintah fokus mengembangkan dan merevitalisasi empat destinasi: Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.

Keempatnya sebagai proyek percontohan untuk pembangunan homestay, restoran, toko cenderamata, dan UKM Center. Ini untuk memberdayakan masyarakat di sekitar destinasi wisata tersebut.

Kementerian Pariwisata juga menyiapkan program unggulan alias super extraordinary sebagai senjata pamungkas untuk mewujudkan target 20 juta kunjungan turis asing. Program ini mencakup: border tourism, tourism hub, dan low cost terminal (LCT).

Program border tourism, Guntur menuturkan, merupakan cara efektif untuk mendatangkan turis asing dari negara-negara tetangga. Sebab, mereka memiliki kedekatan secara geografis, kultural, dan emosional dengan Indonesia.

Sehingga, lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi wisata di negara kita. “Potensi pasar border tourism juga masih sangat besar, baik Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, maupun Timor Leste,” imbuhnya.

Sementara tourism hub menjadi strategi menjaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya. Maksudnya, turis asing yang sudah berada di hub regional, seperti Singapura dan Kuala Lumpur, ditarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia.

“Salah satu persoalan pelik pariwisata kita adalah minimnya penerbangan langsung dari negara asal,” ujar Guntur. Makanya, bisa jauh lebih mudah jika menjaring di hub regional yang sudah banyak turisnya.

Adapun  LCT juga jadi senjata lantaran selama ini negara kita salah memilih kendaraan untuk konektivitas udara. Yaitu, penerbangan full service yang pertumbuhannya jauh di bawah low cost carrier (LCC).

Nah, LCC adalah senjata ampuh untuk mendorong pertumbuhan jumlah turis asing yang menyumbang kontribusi peningkatan kunjungan hingga 20%. “Untuk mendorong pertumbuhan LCC, Indonesia harus punya LCT yang merupakan salah satu penentu utama keberhasilan target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019,” tegas Guntur.

Memang, Maulana Yusron, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), menyatakan, pemerintah mulai ke arah menjadikan pariwisata sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah juga mulai menyadari pentingnya konektivitas untuk mendukung pariwisata. Contoh, dengan membangun bandara baru dan jalan tol yang bisa jadi alternatif orang untuk berkendara ke tempat-tempat wisata.

Cuma, Maulana mengingatkan, tahun ini merupakan tahun politik. Biasanya, bukan cuma pebisnis yang wait and see, tapi juga turis asing.

Belum lagi pengaruh bencana alam yang belakangan ini terjadi di Indonesia. Contoh, tahun lalu gempa bumi mengguncang Lombok yang merupakan salah satu lumbung turis asing.

Yang tidak kalah penting, Lana Soelistianingsih, Kepala Ekonom Samuel Sekuritas, menambahkan, dukungan kepala daerah yang memiliki destinasi wisata unggulan. “Apakah mau membuka, orang asing boleh masuk. Selain itu, perlu pelibatan masyarakat agar siap menerima turis,” katanya.

Ya, meski meningkat, sebetulnya dua tahun terakhir, 2017 dan 2018, kunjungan turis asing di bawah target pemerintah. Dus, tahun ini pemerintah harus bekerja super ekstra keras.

Reporter: Merlinda Riska, Nina Dwiantika, SS. Kurniawan
Editor: S.S. Kurniawan


Baca juga