Membandingkan Berbagai Metode Dalam Berinvestasi Saham

Selasa, 19 September 2023 | 19:27 WIB
Membandingkan Berbagai Metode Dalam Berinvestasi Saham
[ILUSTRASI. OPINI - Parto Kawito - Parto Kawito, Direktur PT Infovesta Utama]
Parto Kawito | Direktur Infovesta Utama

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tidak mudah berinvestasi di pasar saham saat situasi global yang kurang kondusif. Seiring kenaikan fed fund rate dan melemahnya perekonomian China dan Eropa. 

Kecuali Anda jago stock picking, memilih saham dan atau market timing alias membeli di harga murah serta menjual saat harga sudah tinggi, maka portofolio Anda akan mendekati indeks atau malah lebih jelek daripada benchmark. Namun bagi investor awam tetap dianjurkan berinvestasi mengikuti portofolio indeks alias menerapkan strategi indexing sebagai cara mudah, murah dan efektif. 

Tengok saja kinerja reksadana saham setahun terakhir minus 49,95% hingga 15,05% dengan rata-rata return minus 4,55%, mendekati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kisaran return termasuk terbilang sangat lebar dan cukup susah untuk mencari reksadana yang akan unggul di masa datang.

Dengan Indexing  ada beberapa metode investasi yang bisa dipilih investor. Metode tersebut dibagi menjadi buy and hold atau beli dan pegang hingga periode waktu tertentu sesuai horizon investasi setiap investor, misalnya satu tahun.

Bisa juga cost averaging yaitu mencicil sejumlah investasi tetap misalnya Rp 1 juta setiap periode tertentu misalnya setiap akhir bulan. Ini  dikampanyekan sebagai "menabung" saham atau reksadana. 

Metode ini memerlukan disiplin ketat. Jumlah investasi harus suatu angka tetap, tidak lebih besar atau lebih kecil. Jadi Anda investasi Rp 1 juta, harus sejumlah itu terus, tidak berubah lebih besar ataupun lebih kecil. Demikian juga periodenya. Jika setiap akhir bulan, wajibdisiplin setiap akhir bulan investasi, tidak boleh pindah ke tengah bulan atau lupa investasi.

Metode ketiga adalah rebalancing yaitu setelah investasi sejumlah tertentu, misalnya  Rp 1 juta,  pada akhir periode seperti akhir bulan, nilai investasi dilihat apakah lebih besar atau lebih kecil dari modal awal. Jika lebih besar misalnya jadi Rp 1,05 juta,  maka Rp 50,000 ditarik agar dana menjadi kembali ke Rp 1 juta untuk investasi di bulan berikutnya. 

Bila harga turun menjadi  Rp 980.000, investor perlu top-up Rp 20.000 dari dana segar (fresh fund) agar investasi kembali ke Rp. 1 juta. Setiap akhir bulan di review agar dana bulan berikut kembali ke modal awal.

Penulis mencoba menerapkan ketiga metode dengan menggunakan indeks LQ45 dan IDX30. Kedua indeks ini banyak dijadikan reksadana indeks, sehingga sangat mudah bagi investor untuk menerapkan. 

Periode pengamatan satu tahun terakhir dan tiga tahun terakhir dari 12 September 2023 saat artikel dibuat. Pertama kali menghitung return yang paling mudah yaitu investasi Rp 1 juta dengan metode buy and hold, kemudian dicari return bulanan dengan perhitungan seperti bunga majemuk atau Compound Annual Growth Rate (CAGR).

Selanjutnya metode cost averaging didapat dengan memperlakukan angka indeks seperti layaknya Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit penyertaan reksadana Indeks. Dengan asumsi investasi Rp 1 juta setiap akhir bulan, bisa didapat unit penyertaan yang diperoleh investor, yaitu n membagi Rp 1 juta dengan angka indeks.

Misalkan IDX30 di angka 450,40 pada 31 Agustus 2020. Jika investasi Rp 1 juta akan mendapatkan 2,22 unit penyertaan dengan hitungan Rp 1 juta dibagi 450,40. Unit penyertaan  ini diakumulasi setiap akhir bulan dengan menjumlahkan unit penyertaan bulan sebelumnya.

Nah, unit penyertaan total bila dikalikan dengan nilai indeks akhir periode investasi atau "harga" indeks menghasilkan nilai investasi akhir dalam satuan rupiah. Dari sini kita bisa  menghitung return bulanan dengan bantuan Excel menggunakan fungsi Rate. Ini seperti kita sedang mencari internal rate of return dari suatu aliran cash flow. Hasilnya, return bulanan akan kita bandingkan dengan metode lain.

Baca Juga: Warren Buffett: Uang Tidak Berguna Bagi Saya

Terakhir, metode rebalancing dengan menghitung dana yang kelebihan  setiap akhir bulan dan berapa dana yang perlu untuk top-up setiap akhir bulan.
Semua dana dihitung akumulasi dan ditambahkan dengan dana akhir periode investasi untuk mendapatkan total nilai akhir periode. Setelah itu baru dihitung return bulanan secara compounding.

Dari perhitungan tampak hasil yang berbeda antara periode satu tahun dan tiga tahun. Pada periode satu tahun terakhir saat pasar turun, metode cost averaging yang terbaik, karena menderita rugi terkecil.

Menyuusul, rebalancing dan buy and hold. Perlu diperhatikanbahwa pada perhitungan ini penulis tidak menyertakan biaya pembelian dan penjualan.Asumsinya investor berinvestasi di reksadana indeks yang tidak mengenakan subscription maupun  redemption fee yang ada di aplikasi tertentu. 

Sedangkan untuk periode tiga tahun, saat indeks berkinerja positif, metode rebalancing paling unggul di IDX30 maupun LQ45. Menyusul buy & hold diikuti cost averaging.

Lantas, metode apa yang sebaiknya dipakai investor ? Tidak ada metode tertentu yang konsisten unggul dibanding metode lain. Kinerja tergantung pada pergerakan indeks. Tak seorang pun tahu persis indeks naik, turun atau sideways. 

Jika indeks akan naik terus, tentu buy & hold menguntungkan karena investor sudah membeli di awal periode saat harga masih rendah. Kelemahan metode ini, jika ternyata pasar turun, investor sudah tidak mempunyai dana untuk membeli di harga rendah. 

Jika kondisi pasar naik-turun, metode cost averaging dan rebalancing lebih diuntungkan. Pada saat pasar turun, investor juga berinvestasi sehingga mendapatkan harga rendah. 

Nah, karena arah pasar sulit ditebak, metode cost averaging dan rebalancing masih efektif dan secara teori relatif mudah diterapkan. Hanya perlu disiplin dan ketekunan. Praktiknya sulit dilakukan karena merupakan ilmu tingkat tinggi.         

Bagikan

Berita Terbaru

Raih Skor 92% GSR Scoreboard, INA Menjadi SWF Terbaik Kedua di Asia
| Rabu, 29 Juli 2026 | 14:11 WIB

Raih Skor 92% GSR Scoreboard, INA Menjadi SWF Terbaik Kedua di Asia

Indonesia Investment Authority (INA) meraih skor 92% dalam Global SWF Governance, Sustainability, and Resilience (GSR) Scoreboard 2026.

Populisme Ekonomi dan Ilusi Kemakmuran
| Rabu, 29 Juli 2026 | 09:51 WIB

Populisme Ekonomi dan Ilusi Kemakmuran

Kesejahteraan yang lahir dari produktivitas akan bertahan jauh lebih lama daripada kesejahteraan yang hanya ditopang popularitas.

Kontrak Baru dari Pertamina Jadi Katalis bagi SUNI, Analis Soroti Risiko Sahamnya
| Rabu, 29 Juli 2026 | 09:03 WIB

Kontrak Baru dari Pertamina Jadi Katalis bagi SUNI, Analis Soroti Risiko Sahamnya

Meningkatnya investasi di sektor hulu migas yang didorong tensi geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia menciptakan peluang bagi SUNI.

Masih Sulit Tutup Celah Shortfall
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:42 WIB

Masih Sulit Tutup Celah Shortfall

Ditjen Pajak telah mempersiapkan setidaknya sepuluh jurus pamungkas untuk mengejar penerimaan pajak di sisa tahun ini

Lunasi Obligasi, ARKO Dapat Pinjaman IIF Rp 450 Miliar
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:41 WIB

Lunasi Obligasi, ARKO Dapat Pinjaman IIF Rp 450 Miliar

ARKO menggunakan pinjaman untuk membayar pokok Obligasi Berwawasan Lingkungan Hijau I Arkora Hydro Seri A yang jatuh tempo pada 8 Agustus 2026.

UNSP Eksekusi Private Placement dan Konversi Utang Rp 4,3 Triliun
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:36 WIB

UNSP Eksekusi Private Placement dan Konversi Utang Rp 4,3 Triliun

Private placement untuk memperbaiki keuangan UNSP melalui konversi utang menjadi saham. Total utang yang akan dikonversi mencapai Rp 4,35 triliun.

Pilah-Pilih Saham Migas Di Tengah Volatilitas Harga Minyak, MEDC Paling Sensitif
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:30 WIB

Pilah-Pilih Saham Migas Di Tengah Volatilitas Harga Minyak, MEDC Paling Sensitif

Sensitivitas saham migas terhadap harga minyak tidak selalu berbanding lurus dengan fundamental emiten.

Emiten Non-Tambang Ramai-Ramai Ekspansi ke Bisnis Batubara
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:28 WIB

Emiten Non-Tambang Ramai-Ramai Ekspansi ke Bisnis Batubara

Sejumlah emiten non-tambang ekspansi ke bisnis pertambangan batubara. Ekspansi dilakukan melalui akuisisi aset tambang.

Manfaat Program MBG Diproyeksi Masih akan Menopang (CMRY) di Paruh Kedua 2026
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:26 WIB

Manfaat Program MBG Diproyeksi Masih akan Menopang (CMRY) di Paruh Kedua 2026

Meski sempat menghadapi kenaikan biaya kemasan, kinerja kuartal I-2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan maupun laba masih dapat berlanjut.

Konsumsi Rumah Tangga Makin Ditopang Utang
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:21 WIB

Konsumsi Rumah Tangga Makin Ditopang Utang

Perlu peningkatan pendapatan masyarakat agar konsumsi ditopang kapasitas keuangan sehat​            

INDEKS BERITA