Mengenal Kapal Bisnis dan Rencana Bisnis Cilacap Samudera Fishing (ASHA)

Sabtu, 04 Juni 2022 | 04:20 WIB
Mengenal Kapal Bisnis dan Rencana Bisnis Cilacap Samudera Fishing (ASHA)
[]
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis perikanan serta pengolahan yang dikerjakan PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA) ditargetkan bisa terus bertumbuh. Terlebih Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. 

Perusahaan yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini kini fokus pada kegiatan usaha berkaitan dengan cold storage, perdagangan dan pernah menjalankan bisnis penangkapan ikan. 

Sejatinya, ASHA memiliki 22 kapal. Namun berdasarkan prospektus perusahaan, hanya delapan kapal yang bisa beroperasi. Ada 14 kapal tidak dioperasikan karena kebijakan pemerintah. 

Baca Juga: Cilacap Samudera (ASHA) Optimistis Pendapatan Tahun Ini Naik Signifikan

Beleid tersebut terkait transhipment mencegah ikan di tengah laut dibawa ke luar negeri. Sehingga kapal milik ASHA yang beroperasi wajib menggunakan vessel monitoring system yang bisa terdeteksi langsung oleh sistem pantauan di Kementerian Kelautan Perikanan. 

Larangan tersebut membuat biaya operasi ASHA membengkak karena harus membawa ikan tangkapan pulang ke pelabuhan. Kondisi ini berdampak pada kapal penangkap ikan milik ASHA, yang didesain untuk menangkap dan tidak ada tempat untuk menampung.

Untuk itu, ASHA berencana mengubah kapal penangkap ikan. Hanya saja ASHA membutuhkan modal besar. Sehingga saat ini, ASHA masih fokus pada trading. 

ASHA menjual ikan dan menyimpan di mesin pembeku (cold storage). Ikan tersebut didapat dari nelayan dan pengepul dari Sulawesi, Maluku dan Papua. Ikan tersebut 90% dijual ke luar negeri dan 10% untuk lokal. 

Akuisisi perusahaan

Pasar ekspor ASHA antara lain Thailand, China, Taiwan, Uni Emirat Arab, Filipina dan Jepang. Pelanggan ASHA antara lain Boonsiri Frozen Product Co Ltd, China National Light Industrial Product Imp & Exp Technical Service Co Ltd, dan PT Pelayaran Bintang Arwana. Perusahaan ini juga akan untuk memperluas jaringan ke Australia, Amerika dan Timur Tengah.

Direktur Utama ASHA William Sutioso menyebut, dalam waktu dekat akan menandatangani MoU kerjasama dengan pembeli di Australia. 

Baca Juga: Pendapatan Cilacap Samudera (ASHA) Ditargetkan Naik 2 Kali Lipat Tahun Ini

Untuk mengembangkan bisnis, ASHA melakukan initial public offering (IPO). Dalam aksi korporasi tersebut ASHA sukses meraih dana IPO Rp 125 miliar. 

Mayoritas dana dialokasikan untuk membeli persediaan ikan sebesar Rp 75 miliar. ASHA juga alam menggunakan dana IPO sebesar Rp 28 miliar untuk mengakuisisi 99,97% saham perusahaan pengolahan ikan, PT Jembatan Lintas Global (LJG), di Jawa Timur. Sementara sisa dana IPO untuk biaya operasi kapal dan kantor.

William menyebut, akuisisi LJG menjadi langkah strategis dalam pengembangan pengolahan ikan. Sebab, JLG memiliki lokasi strategis di Jawa Timur, dengan limpahan ikan segar dari Pantai Utara dan Pantai Selatan. "Pabrik pengolahan ikan termasuk yang padat karya, sehingga efisiensi biaya produksi dan biaya logistik menjadi salah satu pertimbangan juga," jelas dia.

Tak hanya itu, akses ekspor juga jadi lebih dekat, yakni melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dengan begitu, ASHA bisa mempercepat waktu pengiriman.

Baca Juga: Cilacap Samudera Fishing (ASHA) Mengincar Kenaikan Pendapatan Tiga Kali Lipat

Strategi lain untuk memperkuat pasar dalam negeri, ASHA akan terus menjalin kemitraan dengan perusahaan maupun perorangan untuk memperluas distribusi produk. Perusahaan ini juga akan fokus menangkap beberapa spesies ikan yang menjadi unggulan untuk pasar domestik. ASHA juga akan menggandeng akademisi untuk riset bidang penangkapan dan budidaya hasil laut.

Upaya tersebut diharapkan bisa mengerek kinerja ASHA di tahun ini. William mengatakan, ASHA membidik pertumbuhan pendapatan sebesar dua sampai tiga kali lipat dibanding realisasi 2021. Sementara laba bersih diharapkan bisa meningkat 7%-8% pada tahun ini. 

Berkaca pada kinerja di kuartal pertama tahun ini dan adanya relaksasi di negara konsumen, William optimistis target tersebut dapat tercapai. Sebagai gambaran, ASHA tahun lalu mencetak pendapatan Rp 168,40 miliar. 

Sedangkan laba bersih tahun berjalan ASHA mencapai Rp 894,94 juta. "Kami sangat optimistis karena kami banyak menerima orderan ekspor, terutama ke benua Amerika dan Australia. Kami yakin, tahun ini ASHA dapat memenuhi target proyeksi pertumbuhan gross revenue," jelas dia.

Baca Juga: Cilacap Samudera Fishing (ASHA) Raup Dana IPO Rp 125 Miliar, Digunakan untuk Apa?

Menurut William, salah satu tantangan ASHA adalah regulasi perikanan tangkap, pengangkutan dan pengolahan hasil perikanan dan peraturan terkait perdagangan ke luar negeri. Kendala lainnya adalah biaya freight domestik dan luar negeri yang masih tinggi. Dia berharap pemulihan ekonomi bisa menekan biaya freight.

Bagikan

Berita Terbaru

Menyimpan Cuan dari Bisnis Gudang Mini Pribadi
| Minggu, 05 April 2026 | 06:00 WIB

Menyimpan Cuan dari Bisnis Gudang Mini Pribadi

Di tengah keterbatasan ruang hunian perkotaan, kebutuhan gudang pribadi meningkat dan membuka peluang bisnis baru yang m

Mereka yang Kewalahan Melayani Permintaan Keping Emas
| Minggu, 05 April 2026 | 05:50 WIB

Mereka yang Kewalahan Melayani Permintaan Keping Emas

Lonjakan permintaan emas terjadi usai Lebaran dan membuat stok emas menipis di pasar. Kilau logam mulia itu masih diminati oleh investor.

 
Mendulang Cuan dari Ride-Hailing Khusus Perempuan
| Minggu, 05 April 2026 | 05:45 WIB

Mendulang Cuan dari Ride-Hailing Khusus Perempuan

Perempuan butuh rasa aman dan nyaman saat berkendara. Aplikasi transportasi online khusus perempuan hadir menjemput pasar. Bagaimana peluangnya?

 
Ladang Basah Bernilai Triliunan
| Minggu, 05 April 2026 | 05:40 WIB

Ladang Basah Bernilai Triliunan

​Bisnis parkir bukan sekadar urusan tempat mobil dan waktu semata, bisnisnya berkembang sehingga bisa menjadi ladang ekonomi bercuan besar.

Dari Lahan Parkir Berkembang Menjadi Charging Station
| Minggu, 05 April 2026 | 05:30 WIB

Dari Lahan Parkir Berkembang Menjadi Charging Station

Parkir tak lagi sekadar menepikan kendaraan, ia bertransformasi menjadi simpul mobilitas modern dengan beragam layanan.

Ruwetnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
| Minggu, 05 April 2026 | 05:05 WIB

Ruwetnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

Pelimpahan operasional dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih kepada Agrinas Pangan, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Strategi Petronella Soan: Perhiasan Bukan Sekadar Investasi, Tapi Penanda Hidup
| Sabtu, 04 April 2026 | 11:38 WIB

Strategi Petronella Soan: Perhiasan Bukan Sekadar Investasi, Tapi Penanda Hidup

Perhiasan itu beauty investment, bisa bisa dijual kembali dan bisa mendapat keuntungan. Perhiasan itu bisa jadi legacy, bisa diturunkan ke anak.

Pesona Labubu Mulai Luntur?
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:41 WIB

Pesona Labubu Mulai Luntur?

Dalam lima hari perdagangan terakhir hingga Selasa, saham Pop Mart International Group Ltd. anjlok lebih dari 30%.               

Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% Pada 2025
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:37 WIB

Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% Pada 2025

 Anjloknya laba bersih PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipicu kinerja pendapatan MEDC yang melambat 0,16% menjadi US$ 2,39 miliar.​

Dian Swastatika Sentosa DSSA Siap Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:31 WIB

Dian Swastatika Sentosa DSSA Siap Stock Split Saham di Rasio 1:25

Emiten Grup Sinar Mas ini akan melakukan pemecahan saham atau stock split dari nilai nominal Rp 25 menjadi Rp 1 per saham.

INDEKS BERITA