Meski Kinerja Semester I-2021 Tidak Sesuai Ekspektasi, Saham RALS Masih Layak Beli

Kamis, 05 Agustus 2021 | 14:22 WIB
Meski Kinerja Semester I-2021 Tidak Sesuai Ekspektasi, Saham RALS Masih Layak Beli
[ILUSTRASI. Suasana gerai ritel Ramayana Department Store di pusat perbelanjaan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (6/5/2021) petang. KONTAN/Fransiskus Simbolon]
Reporter: Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) merupakan salah satu emiten ritel yang paling terdampak pandemi Covid-19. 

Karakteristik Ramayana yang menyasar segmentasi pasar di kelas ekonomi menengah ke bawah, membuat tekanan yang dirasakan RALS lebih besar ketimbang emiten sejenis lainnya.

Maklum, secara ekonomi, masyarakat menengah ke bawah adalah yang paling terdampak pandemi corona.

Terlebih, sejak tahun lalu, merebaknya Covid-19 di tanah air membuat pemerintah terpaksa membatasi operasional mal serta pusat perbelanjaan.

 

 

Namun, roda nasib Ramayana perlahan mulai berputar. Pencapaian di semester pertama 2021 menunjukkan, kinerja RALS menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Pendapatan emiten pengelola Ramayana Department Store, itu naik 16,50% year on year (yoy) menjadi sekitar Rp 1,72 triliun. 

Baca Juga: PDB Triwulan II 2021 Moncer, Bisnis Transportasi dan Pergudangan Naik Paling Tinggi

Penjualan dari barang beli putus masih menjadi kontributor utama, yakni mencapai Rp 1,37 triliun. Pertumbuhannya mencapai 11,75% (yoy) dibanding semester I-2020.

Dus, RALS mampu meraup laba tahun berjalan sebesar Rp 137,83 miliar. Pertumbuhannya mencapai 2.470,88% (yoy).

Lonjakan laba bersih yang luar biasa ini seiring basis perbandingan datanya yang memang sangat rendah. Laba periode berjalan RALS di semester I-2020 hanya Rp 5,36 miliar.

Meski demikian, realisasi pendapatan dan laba bersih RALS di paruh pertama tahun ini, masih di bawah ekspektasi sejumlah analis.

Kehilangan momentum >>>

Pendapatan dan laba bersih RALS, misalnya, hanya 44% dari proyeksi sepanjang 2021 yang dipasang Robert Sebastian, Analis Ciptadana Sekuritas.

Padahal, momentum hari raya Idul Fitri, yang merupakan musim panen raya bagi RALS, telah berlangsung di semester I-2021.

Dus, RALS bakal menghadapi ujian yang sesungguhnya di semester kedua. Mengingat tidak ada lagi momen seasonal yang secara historis mampu mendongkrak kinerjanya sesignifikan Idul Fitri.

Sementara di sisi lain, Covid-19 masih menghantui dan memaksa pemerintah meneruskan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat. Kali ini menggunakan istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1 hingga 4.

Baca Juga: Tender Offer Rampung, ABM Investama (ABMM) Rilis Obligasi Baru Senilai US$ 200 Juta

Singkat cerita, para analis pun memangkas proyeksi kinerja keuangan RALS untuk sepanjang tahun 2021.

Robert Sebastian dalam riset 4 Agustus 2021, menyunat proyeksi pendapatan RALS sebanyak 26,7%, dari semula Rp 3,865 triliun menjadi Rp 2,831 triliun. 

Sementara asumsi laba bersih dipotong 13,6% dari semula Rp 310 miliar menjadi Rp 268 miliar.

Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny memangkas proyeksi pendapatan RALS 2021 dari Rp Rp 3,826 triliun menjadi 3,147 triliun. 

Dalam riset 4 Agustus 2021, Andreas Kenny juga menurunkan prediksi laba bersih dari semula Rp 324 miliar menjadi Rp 173 miliar.

Ditopang aksi buyback saham RALS >>>

Dari sisi harga saham, sejalan dengan kinerja keuangannya, sejak awal tahun ini RALS memang belum lepas dari tekanan.

Secara year to date (ytd) hingga 4 Agustus 2021 harga saham RALS sudah terkoreksi 16,77%. 

Sejatinya, koreksi harganya telah diredam agresivitas RALS dalam membeli kembali sahamnya yang berada di pasar.

Ya, RALS memang telah memulai buyback saham sejak 15 April 2021 hingga 14 Oktober 2022 mendatang.

Manajemen RALS menganggarkan dana maksimal Rp 350 miliar, sudah termasuk segala biaya terkait buyback

Jumlah saham yang akan dibeli kembali maksimal 354,8 juta lembar, atau 5% dari seluruh modal disetor dan ditempatkan penuh pada perseroan.

Merujuk pemberitaan Kontan, sebelum buyback dimulai jumlah saham treasury RALS ada sebanyak 353.515.600, atau 4,98%.

Nah, per 3 Agustus 2021 jumlah kepemilikan saham atas nama PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk, alias saham treasury sudah mencapai 673.168.200 lembar, atau 9,49%.

Artinya, jumlah saham RALS yang telah di buyback sejauh ini sudah mencapai 319.652.600 lembar.

Jika dibanding dengan jumlah saham maksimal yang bisa di buyback, RALS masih bisa membeli kembali sahamnya maksimal sebanyak 35.147.400 lembar. 

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Semester I 2021 Naik 3,10%, Dekati Proyeksi Pertumbuhan Tahunan S&P

Secara teknikal, Herditya Wicaksana Analis MNC Sekuritas memperkirakan pergerakan RALS saat ini sedang berada pada awal up trend. 

Namun demikian pergerakannya masih tertahan di antara MA20 dan MA60nya. Sementara berdasar MACD dan stochastic, RALS masih rawan untuk terkoreksi.

Dus, Herditya merekomendasikan buy on weakness saham RALS di area 600-630. "Level support ada di 580 dan target penguatan di 680 dan 740," kata Herditya.

Andreas Kenny memangkas target harga RALS dari semula di Rp 1.000 menjadi Rp 850 per saham. Namun ia tetap mempertahankan rekomendasi beli saham RALS.

Sementara Silvia Loren Budiyanto, Analis Henan Putihrai Sekuritas dalam riset 4 Agustus 2021 merekomendasikan hold saham RALS. Target harganya di Rp 585 per saham.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kontan tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang dilakukan pembaca.

Selanjutnya: Prospek Aneka Gas (AGII) Dipompa dari Permintaan Oksigen Medis

 

Bagikan

Berita Terbaru

Mencermati Aksi Korporasi dan Strategi Bertahan MPPA di Awal Tahun 2026
| Senin, 23 Februari 2026 | 13:00 WIB

Mencermati Aksi Korporasi dan Strategi Bertahan MPPA di Awal Tahun 2026

Head of Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai bahwa aksi korporasi MPPA di awal 2026 merupakan manuver survival to revival.

Penambangan Phase 8 Batu Hijau Bikin Prospek Kinerja AMMN Berkilau
| Senin, 23 Februari 2026 | 11:00 WIB

Penambangan Phase 8 Batu Hijau Bikin Prospek Kinerja AMMN Berkilau

Penopang kinerja AMMN tahun ini adalah pemulihan produksi tembaga dan emas perusahaan, pasca transisi operasi ke Fase 8 di Tambang Batu Hijau.

ESG Jasa Marga (JSMR): Kelola Lonjakan Sampah Saat Pemudik Tumpah Ruah
| Senin, 23 Februari 2026 | 09:02 WIB

ESG Jasa Marga (JSMR): Kelola Lonjakan Sampah Saat Pemudik Tumpah Ruah

Simak strategi PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengolah sampah terintegrasi di rest area dan menjaga lingkungan. Juga rencana jalan tol di 2026.

KOCI Melesat 129% Sejak Awal Tahun, Simak Rencana Bisnis Tahun 2026
| Senin, 23 Februari 2026 | 09:00 WIB

KOCI Melesat 129% Sejak Awal Tahun, Simak Rencana Bisnis Tahun 2026

Secara year to date (YtD) sampai dengan Jumat (20/2), harga saham PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) melesat 129,41% ke level Rp 195 per saham.

Sentra Food Indonesia (FOOD) Membidik Penjualan Tumbuh 25% Tahun Ini
| Senin, 23 Februari 2026 | 07:13 WIB

Sentra Food Indonesia (FOOD) Membidik Penjualan Tumbuh 25% Tahun Ini

Pada 2025 penjualan FOOD tercatat Rp 95,26 miliar. Memasuki 2026, mereka menargetkan penjualan meningkat menjadi Rp 119 miliar.

Kritik dan Demokrasi
| Senin, 23 Februari 2026 | 07:01 WIB

Kritik dan Demokrasi

Ketika kritik menyentuh isu sensitif atau kebijakan strategis pemerintah, respons yang muncul bukan berupa debat gagasan, melainkan intimidasi.

Geber Proyek Baterai EV US$ 9 Miliar, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham INCO
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:55 WIB

Geber Proyek Baterai EV US$ 9 Miliar, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham INCO

Dua megaproyek yang menjadi ujung tombak adalah pembangunan smelter HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Bahodopi, Sulawesi Tengah.​

Lima Saham Ini Paling Banyak Dibeli Asing, Pilih ASII, INCO, MDKA, FAPA atau BRMS?
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:30 WIB

Lima Saham Ini Paling Banyak Dibeli Asing, Pilih ASII, INCO, MDKA, FAPA atau BRMS?

Saham bank-bank besar masih menjadi sasaran aksi jual investor asing, begitu pula sebagian saham konglomerasi.

BI Menopang Pembiayaan Pemerintah
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:12 WIB

BI Menopang Pembiayaan Pemerintah

Bank Indonesia dan Kemenkeu sepakat tukar SBN Rp 173,4 T, menggeser beban utang.                        

Harga Kerbau dan Sapi Merangkak Naik
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:02 WIB

Harga Kerbau dan Sapi Merangkak Naik

Harga daging sapi murni naik 0,56% menjadi Rp 138.832 per kg dan daging kerbau segar lokal naik 0,39% menjadiRp 142.424 per kg.

INDEKS BERITA

Terpopuler