Meski Pasang Target Defisit Lebih Rendah, China Tetap Meningkatkan Belanja

Minggu, 06 Maret 2022 | 12:44 WIB
Meski Pasang Target Defisit Lebih Rendah, China Tetap Meningkatkan Belanja
[ILUSTRASI. Pembangkit listrik batubara di Shanghai, China, 14 Oktober 2021. REUTERS/Aly Song]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kendati menetapkan rasio defisit anggaran yang lebih rendah, China akan meningkatkan belanja anggaran di tahun ini untuk mendukung ekonomi yang melambat, demikian pernyataan Menteri Keuangan Liu Kun pada Sabtu (5/3).

Penetapan target defisit anggaran yang lebih rendah bertujuan untuk menjaga kesinambungan fiskal, yang akan membantu menyediakan lebih banyak ruang kebijakan untuk risiko dan tantangan di masa depan, kata Liu di sela-sela pertemuan parlemen tahunan.

China menetapkan target defisit anggaran untuk tahun 2022 sekitar 2,8% dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan target di tahun lalu, sekitar 3,2% dari PDB.

Baca Juga: Banyak Kendala, China Pasang Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Sebesar 5,5%  

Liu mengatakan peningkatan alokasi dana pemerintah pusat sebesar 1,267 triliun yuan, atau setara Rp 5.691,6 triliun  tahun ini. Belanja itu didukung oleh sisa anggaran dari tahun-tahun sebelumnya, akan menyiratkan rasio defisit anggaran yang lebih tinggi.

"Jumlah dana ini setara dengan menaikkan rasio defisit sebesar satu persen, dan intensitas belanja fiskal terjamin," katanya.

China pada hari Sabtu menargetkan pertumbuhan ekonomi di tahun ini turun ke kisaran 5,5% karena berbagai hambatan domestik. Prospek ekonomi terbesar kedua di dunia itu terbebani kelesuan sektor real estat serta penurunan konsumsi.

Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan dalam laporan kerja pemerintah bahwa pemotongan pajak dan potongan pajak akan berjumlah sekitar 2,5 triliun yuan tahun ini.

Baca Juga: Ancaman China Kian Meningkat, Taiwan Gandakan Produksi Rudal

Pemerintah pusat akan meningkatkan nilai dana yang ditransfer ke pemerintah daerah di tahun ini menjadi hampir 9,8 triliun yuan (Rp 22.311,2 triliun). Kenaikan itu bermaksud untuk mengompensasi penurunan pendapatan daerah karena pemangkasan tarif pajak, kata kementerian keuangan.

Pemerintah akan meningkatkan pengeluaran belanja proyek infrastruktur mendekati batas kuota per tahun, yaitu 3,65 triliun yuan (Rp 8.309,8 triliun). Sebagian besar kebutuhan dana untuk belanja itu ditutup oleh hasil penerbitan obligasi khusus pemerintah daerah.

Kementerian keuangan telah menggunakan kuota penerbitan obligasi khususu pemerintah daerah hingga senilai 1,46 triliun yuan (Rp 3.323,9 triliun). Nilai itu melampaui kuota yang tersisa di kuartal keempat tahun lalu, yaitu 1,2 triliun yuan (Rp 2.732 triliun). Angka itu merupakan bagian dari total kuota yang diterbitkan tahun lalu, 3,65 triliun yuan (Rp 8.309,8 triliun).

Bagikan

Berita Terbaru

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi
| Senin, 09 Februari 2026 | 17:33 WIB

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi

Secara jumlah, penduduk miskin Indonesia tercatat 23,36 juta orang, menyusut 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?
| Senin, 09 Februari 2026 | 13:00 WIB

Tambahan Anggaran PU Rp 36,91 Triliun, Harapan Baru atau Sekadar Penyangga bagi BUMN?

Upaya Pemerintah menambah anggaran Rp 36,91 triliun guna mempercepat pembangunan infrastruktur, dianggap bisa menjadi suplemen bagi BUMN Karya.

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?
| Senin, 09 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ramadan Dongkrak Trafik Data, Saham ISAT Masih Layak Dicermati?

Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) ada di jalur pemulihan yang semakin berkelanjutan. Sejak akhir 2025, ISAT mencatat lonjakan signifikan trafik data.

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:37 WIB

Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Dalam jangka pendek, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipandang masih dalam fase downtrend.

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB

Prospek ERAL Masih Menarik, Meski Tengah Menanti Kepastian Insentif Mobil Listrik

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) berencana menambah gerai baru sekaligus menghadirkan produk dan merek baru di berbagai segmen usaha.

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?
| Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

Free Float Naik ke 15%, Emiten yang Tak Butuh Pendanaan Pasar Modal bisa Go Private?

Di rancangan peraturan terbaru, besaran free float dibedakan berdasarkan nilai kapitalisasi saham calon emiten sebelum tanggal pencatatan.

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:31 WIB

Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good

Obligasi bertema ESG dan keberlanjutan akan meramaikan penerbitan surat utang di 2026. Bagaimana menakar daya tariknya?

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:29 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Produksi Baterai Motor Listrik

Strategi tersebut ditempuh melalui penguatan kapabilitas manufaktur, diversifikasi produk bernilai tambah, serta integrasi ekosistem bisnis.

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi
| Senin, 09 Februari 2026 | 07:23 WIB

Pebisnis Minta Kepastian Izin Impor Daging Sapi

Para pelaku usaha tengah menantikan kepastian izin impor yang belum terbit. Padahal, saat ini sudah melewati waktu proses.

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN
| Senin, 09 Februari 2026 | 06:50 WIB

Kebijakan Pemerintah Jadi Sorotan, Dampak Buruknya ke Pasar SBN

Investor asing mencatat jual neto Rp 2,77 triliun di SBN. Tekanan jual ini diprediksi berlanjut hingga Kuartal I 2026. Pahami risikonya.

INDEKS BERITA

Terpopuler