Pangkas Bunga Kredit Acuan, Otoritas China Diperkirakan Akan Melanjutkan Pelonggaran

Selasa, 21 Desember 2021 | 11:53 WIB
Pangkas Bunga Kredit Acuan, Otoritas China Diperkirakan Akan Melanjutkan Pelonggaran
[ILUSTRASI. Foto udara Evergrande Cultural Tourism City, proyek Evergrande Group yang terhenti, di Suzhou, Provinsi Jiangsu, China, 22 Oktober 2021. REUTERS/Xihao Jiang ]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. China pada Senin (20/12) memangkas suku bunga pinjaman yang menjadi acuan, untuk pertama kalinya dalam 20 bulan terakhir. Pemangkasan lending prime rate (LPR) itu bertujuan untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang melambat. Pelonggaran berjalan hati-hati, karena otoritas masih mewaspadai pasar properti yang sangat terbebani utang.

LPR untuk jangka satu tahun diturunkan 5 basis poin menjadi 3,80% dari sebelumnya 3,85%. Sedangkan LPR lima tahun dipertahankan sebesar 4,65%.

Pengurangan tersebut merupakan pemotongan LPR pertama sejak April 2020.

Dua puluh sembilan dari 40 trader dan ekonom yang disurvei Reuters pekan lalu memperkirakan pemotongan LPR. 

Sebagian besar pinjaman di China, baik fasilitas baru maupun yang sudah outstanding, merujuk ke LPR satu tahun. Sementara LPR tenor lima tahun mempengaruhi harga hipotek rumah.

Baca Juga: Ekonomi Tahun Depan Diramal Lebih Solid, Analis Rerkomendasikan Saham-Saham Ini

"Pemotongan itu memperkuat pandangan kami bahwa pihak berwenang semakin terbuka untuk memangkas suku bunga di bawah bayang-bayang tantangan ekonomi," kata Xing Zhaopeng, ahli strategi senior China di ANZ.

Dia melihat keputusan Beijing untuk mempertahankan suku bunga acuan berjangka lima tahun menunjukkan otoritas memilih untuk tidak menggunakan sektor properti untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

Beberapa analis mengatakan, langkah bank sentral memangkas giro wajib minimum dua kali di tahun ini, memungkinkan perbankan memangkas biaya kredit. Dalam hitungan Goldman Sachs, dua kali pemotongan itu memungkinkan menambah likuiditas perbankan hingga 28 miliar yuan.

Kendati sudah diperkirakan pasar, langkah Beijing memangkas bunga kredit acuan mencerminkan langkah China yang berbeda dengan otoritas moneter di negara lain.

Beberapa analis memperkirakan Beijing akan melakukan pelonggaran lebih lanjut untuk menahan perlambatan ekonomi. Namun para ekonom belum satu suara mengenai skala dan jadwal pelonggaran.

Sejumlah indikator ekonomi baru-baru ini, termasuk penjualan ritel dan pertumbuhan investasi, menunjukkan ekonomi yang melambat. Sementara pengetatan peraturan pada sektor teknologi telah meredam sentimen investor. Pembatasan baru untuk memerangi peningkatan kasus Covid-19 dapat semakin menekan pertumbuhan.

"Kami mengharapkan pemangkasan 45 basis poin (bps) lebih lanjut untuk LPR satu tahun selama 2022," kata Mark Williams, kepala ekonom Asia di Capital Economics, dalam sebuah catatan.

Xing ANZ mengharapkan pemotongan RRR lainnya pada awal 2022 di tengah meningkatnya risiko kredit di sektor properti.

Baca Juga: Pasar Menjauhi Aset Berisiko, Rupiah Hari Ini Berpeluang Tertekan

Yan Se, kepala ekonom di Founder Securities, mengatakan bank sentral China menurunkan suku bunga dengan margin yang lebih kecil daripada rekan-rekan global selama puncak pandemi tahun lalu. Ini yang memberi ruang bagi Beijing untuk pelonggaran tambahan sekarang.

Dia memperkirakan bank sentral akan memangkas bunga pinjaman jangka menengah (MLF) sebesar 10 bps pada kuartal pertama 2022, yang diikuti oleh pemangkasan LPR.

Namun, Li Wei, ekonom senior untuk China di Standard Chartered, memperkirakan tidak ada pemotongan RRR berbasis luas atau penurunan suku bunga kebijakan pada tahun 2022.

"Kami mempertahankan pandangan bahwa tingkat repo tujuh hari dan tingkat MLF satu tahun pada tahun 2022 tidak berubah. Alasannya, bank sentral di negara besar lainnya akan memperketat kebijakan moneter dan indeks harga konsumen di China cenderung lebih tinggi, karena paparan indeks harga produsen dan kenaikan harga daging babi, " kata Li.

Bagikan

Berita Terbaru

Insentif Properti Dorong Asuransi, Namun Terbatas
| Rabu, 25 Maret 2026 | 08:24 WIB

Insentif Properti Dorong Asuransi, Namun Terbatas

Insentif PPN DTP 100% diperpanjang hingga 2026. Benarkah ini angin segar bagi industri asuransi properti? 

Pelepasan 20 Unit Asuransi Tersendat
| Rabu, 25 Maret 2026 | 08:22 WIB

Pelepasan 20 Unit Asuransi Tersendat

Upaya spin off terkendala modal dan infrastruktur.                                                   

Konsultan Pajak Wajib Setor Data ke Pemerintah
| Rabu, 25 Maret 2026 | 08:10 WIB

Konsultan Pajak Wajib Setor Data ke Pemerintah

Kebijakan ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 8 Tahun 2026 yang mempertegas UU tentang KUP

Strategi Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Bidik 580.000 Pengunjung
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:56 WIB

Strategi Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Bidik 580.000 Pengunjung

Estimasi 580.000 orang merupakan target menyeluruh periode libur Lebaran 2026 yang berlangsung pada 19 Maret - 5 April 2026.

Pasokan Gas Hambat Utilisasi Industri Keramik
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:45 WIB

Pasokan Gas Hambat Utilisasi Industri Keramik

Asaki menargetkan rata-rta utilitsi industri keramik pada tahun ini mencapai 80%, namun saat ini rat-rata utilisasi hanya 70%-72%.

Ada Efisiensi Anggaran, Setoran Pajak Bakal Ikut Tertekan
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:37 WIB

Ada Efisiensi Anggaran, Setoran Pajak Bakal Ikut Tertekan

Efisiensi hingga WFH diperkirakan akan menekan penerimaan pajak dari sektor administrasi pemerintahan dan jaminan sosial

Efek Mini, Anggaran MBG Juga Perlu Efisiensi
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:26 WIB

Efek Mini, Anggaran MBG Juga Perlu Efisiensi

Alokasi anggaran makan bergizi gratis (MBG) pada tahun ini mencapai Rp 335 triliun                  

Pemerintah Kebut Proyek Sekolah Rakyat Tahap Kedua
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:07 WIB

Pemerintah Kebut Proyek Sekolah Rakyat Tahap Kedua

Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul.

Sektor Informal Bisa Terdampak WFH
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:03 WIB

Sektor Informal Bisa Terdampak WFH

Presiden FSpeed Budiman Sudardi bilang, pengemudi ojol memahami wacana kebijakan ini memiliki tujuan  untuk efisiensi dan pengurangan kemacetan.

Momen Lebaran Ungkit Pertumbuhan Ekonomi
| Rabu, 25 Maret 2026 | 06:58 WIB

Momen Lebaran Ungkit Pertumbuhan Ekonomi

Periode Lebaran tahun ini bisa mendorong belanja Rp 135 triliun atau setara 0,56% dari pendapatan dometik bruto

INDEKS BERITA

Terpopuler