Pasar Emas Diliputi Ketidakpastian, Jangka Menengah Prospeknya Masih Menjanjikan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas sepekan ke depan masih akan diwarnai dengan ketidakpastian merespon perundingan perdamaian kedua yang dilakukan di Timur Tengah.
Menengok seminggu ke belakang, harga emas terpantau menguat ditopang oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meredanya kekhawatiran inflasi setelah jalur pelayaran di selat Hormuz sempat dibuka di tengah gencatan senjata, namun kembali ditutup.
Pada Jumat (17/4), harga emas spot naik 0,85% ke level uS$ 4.831 per ons troi sekaligus menandai kenaikan sebesar 1,72% dalam sepekan.
Melansir Reuters, Menteri Luar Negeri Iran memastikan jalur pelayaran tetap berjalan melalui rute yang terkoordinasi. Di sisi lain Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan damai berpotensi berlangsung dalam waktu dekat dan pihaknya optimistis kesepakatan mengakhiri konflik dengan Iran bisa tercapai dalam waktu dekat.
"Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan peristiwa penting. Dengan harga minyak yang tertekan, diperkirakan kekhawatiran inflasi ikut meredakan bisa menghidupkan kembali ekspetasi pemangkasan suku bunga,"Tutur Vice President and Senior Metals Startegist Zaner Metals, Peter Grant sebagaimana dikutip dari Reuters.
Dia mengatakan bahwa harga emas bisa melanjutkan kenaikan dalam jangka pendek dan menembus level psikologis ke US$ 5.000 per ons troi.
Di sisi lain Chief Doo Financial Futures Lukman Leong menyampaikan pergerakan harga emas ke depan masih penuh ketidakpastian, mengingat kenaikan harga emas merespon kebijakan geopolitik yang ada antara Amerika Serikat dengan Iran.
"Perkembangan terakhir masih berubah-ubah, terutama mengenai pembukaan Selat Hormuz," tutur Lukman Leong kepada KONTAN, Minggu (19/4).
Namun dia juga menyiratkan bahwa pasar masih optimis. Menurutnya, selagi belum ada perjanjian resmi yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, maka segala hal masih bisa terjadi dan mesti diantisipasi.
Sementara Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan emas di dalam negeri. Dia memproyeksi bahwa harga logam mulia saat ini memiliki beberapa level teknikal penting yang perlu diperhatikan.
Dia menyampaikan pada sisi bawah, level support pertama berada di kisaran Rp 2.838.000 per gram. Jika harga mengalami penurunan, ada potensi koreksi sekitar Rp 30.000. Apabila tekanan jual berlanjut, maka support berikutnya berada di sekitar Rp 2.785.000 per gram. Dengan demikian, jika harga emas dunia melemah, ada kemungkinan harga logam mulia turun hingga menembus level Rp 2.800.000 per gram.
Sebaliknya, jika harga emas dunia menguat, maka level resistance pertama berada di sekitar Rp 2.898.000 per gram, yang juga mencerminkan kenaikan sekitar Rp 30.000 dari posisi sebelumnya.
Dalam skenario kenaikan yang lebih kuat, harga berpotensi bergerak lebih tinggi, bahkan menembus level psikologis tertentu. Dalam jangka pendek, ada kemungkinan harga logam mulia dapat mencapai Rp 3.100.000 per gram pada minggu depan, terutama jika didukung oleh faktor fundamental. Pergerakan ini juga berkaitan dengan potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang bisa mendekati Rp 17.300 per dolar AS.
Dia menjabarkan, fluktuasi harga emas dunia, logam mulia, indeks dolar, serta harga minyak mentah seperti WTI dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Empat faktor yang paling dominan adalah kondisi geopolitik, dinamika politik di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral, serta perkembangan perang dagang global.
"Dari sisi geopolitik, terdapat dua kawasan utama yang menjadi sorotan, yaitu Eropa Timur dan Timur Tengah. Di Eropa Timur, konflik antara Rusia dan Ukraina masih memanas. Ukraina dilaporkan melakukan serangan terhadap kilang minyak Rusia menggunakan drone, yang memicu kebakaran besar dan meningkatkan ketegangan dengan Rusia serta negara-negara NATO yang mendukung Ukraina," urainya.
Sementara itu di Timur Tengah, terjadi gencatan senjata sementara antara Lebanon dan Israel selama sekitar 10 hari. Situasi ini memberikan sentimen positif, terutama karena Iran turut membuka jalur Selat Hormuz sebagai bentuk penghormatan terhadap gencatan senjata tersebut.
Kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia, berpotensi menekan harga minyak dan menurunkan inflasi global.
Di sisi lain, tertangkap pula adanya pembahasan mengenai isu pengayaan uranium antara Amerika Serikat dan Iran serta dana Iran yang telah lama dibekukan sejak revolusi Islam, dengan nilai mencapai sekitar US$ 20 miliar dolar .
Menurut Ibrahim, jika terjadi kesepakatan atau bahkan gencatan senjata yang lebih luas antara kedua negara, hal ini dapat berdampak positif terhadap harga emas, namun sebaliknya menekan harga minyak mentah.
Faktor berikutnya adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Saat ini, arah kebijakan masih belum sepenuhnya jelas, namun terdapat potensi perubahan kepemimpinan dari Jerome Powell ke Kevin Warsh dalam waktu dekat. Jika kebijakan suku bunga lebih longgar diterapkan, maka dolar AS berpotensi melemah dan pelemahan dolar biasanya mendorong kenaikan harga emas. Namun, di sisi lain, kondisi fiskal Indonesia yang mengalami defisit mendekati 3% dapat menyebabkan rupiah tetap melemah meskipun dolar melemah.
Dari sisi politik Amerika, dinamika juga cukup memanas. Pernyataan Donald Trump terkait kemungkinan pemecatan Jerome Powell, meskipun disampaikan secara santai, dinilai serius oleh pelaku pasar.
Ketidakpastian politik ini justru menjadi sentimen positif bagi harga emas sebagai aset safe haven. Selain itu, konsolidasi politik antara Partai Republik dan Demokrat menjelang pemilu juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.
Terakhir, faktor perang dagang juga menjadi perhatian. Ibrahim melanjutkan, bahwa ada indikasi bahwa kebijakan perang dagang Amerika Serikat akan kembali diperketat sekitar bulan Juli. Saat ini, fokus Amerika masih tertuju pada konflik di Timur Tengah, namun jika konflik berlanjut dan eskalasi meningkat meskipun Selat Hormuz tetap terbuka, maka ketidakpastian global akan tetap tinggi dan berpotensi mendorong harga emas naik lebih lanjut.
"Secara keseluruhan, prospek harga logam mulia masih cenderung positif dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut. Terdapat optimisme bahwa harga emas dapat terus menguat, bahkan berpotensi mencapai Rp 3.500.000 per gram dalam jangka menengah," tandasnya.
