Pastikan Hengkang dari New York, Saham Didi Rontok 20% Lebih dalam Sehari

Sabtu, 04 Desember 2021 | 12:48 WIB
Pastikan Hengkang dari New York, Saham Didi Rontok 20% Lebih dalam Sehari
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Aplikasi ride hailing Didi terlihat di layar ponsel di depan logo perusahaan, 1 Juli 2021. REUTERS/Florence Lo/Illustration/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HONGKONG. Cuma berselang lima bulan dari initial public offering (IPO), Didi Global berniat menghapus sahamnya dari papan perdagangan di bursa New York (NYSE). Mengikuti perintah dari regulator di negerinya, raksasa ride-hailing asal China itu kini mengejar pencatatan saham di bursa Hong Kong.

Kabar itu seketika menuai reaksi dari investor: harga saham perusahaan turun 22,17%, atau nilai pasarnya hangus sekitar US$ 8,4 miliar, atau sekitar Rp 122 triliun lebih. Harga Didi pada penutupan perdagangan Jumat (3/12) yaitu US$ 6,07, mencerminkan penurunan sebesar 57% dari harga IPO pada 30 Juni.

“Menyusul penelitian yang cermat, perusahaan akan segera mulai delisting di bursa New York dan memulai persiapan untuk listing di Hong Kong,” demikian pernyataan Didi melalui akun resminya di platform Weibo.

Didi belum mengumumkan secara rinci rencananya. Dalam pernyataan yang terpisah Didi akan mengatur pemungutan suara pemegang saham pada waktu yang tepat dan memastikan sahamnya yang terdaftar di New York akan dapat dikonversi menjadi “saham yang dapat diperdagangkan secara bebas” di bursa lain yang diakui secara global.

Baca Juga: Pasar Mulai Menerima Pembatasan Omicron, Saham-saham Eropa Dibuka Menguat

Pelaku pasar mengatakan keputusan itu meningkatkan ketidakpastian bagi investor yang memegang saham perusahaan China yang tercatat di bursa di AS. Saham Alibaba, Baidu, dan perusahaan China lainnya yang terdaftar di AS melemah pada hari Jumat.

“Jika Anda seorang pengelola uang dan tidak mengerti seperti apa aturannya, lebih mudah untuk menjual dan memindahkan uang Anda ke tempat yang lebih Anda pahami aturan permainannya,” kata Michael Antonelli, ahli strategi pasar di Baird.

Mengutip sumber yang mengetahui permasalahan, Reuters bulan lalu memberitakan bahwa regulator di China telah menekan eksekutif puncak Didi untuk menyusun rencana delisting dari NYSE dengan alasan menjaga keamanan data pengguna.

Dewan Didi menggelar sidang pada hari Kamis, dan menyetujui rencana delisting dari NYSE dan melakukan pencatatan di HK, kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut. 

Didi menggelar IPO senilai US$ 4,4 miliar pada bulan Juni lalu, kendati regulator di China meminta event itu ditunda hingga mereka menuntaskan tinjauan atas praktik pengelolaan data Didi.

Setelah Didi bersikeras menggelar IPO, Administrasi Cyberspace China (CAC) bereaksi dengan memerintahkan toko aplikasi seluler untuk menghapus 25 aplikasi milik Didi. Regulator siber superpower di China itu juga memerintahkan Didi berhenti menerima  pengguna baru, dengan alasan keamanan nasional dan kepentingan publik.

Selain ride hailing, aplikasi lain yang ditawarkan Didi terentang dari pengiriman hingga layanan keuangan. Hingga kini, penyelidikan CAC atas Didi masih bergulir.

Analis Redex Research, Kirk Boodry, dalam laporan yang dipublikasikan di Smartkarma, mengatakan, Didi mungkin perlu membeli saham dengan harga IPO US$ 14. Agar terhindar dari masalah hukum di AS, Didi setidaknya membeli kembali sahamnya lebih tinggi daripada harga di pasar saat ini.

Baca Juga: Demi Menjegal Manipulasi Pasar, China Rilis Pedoman Perdagangan Valuta Asing Baru

Namun, ketidakpastian tetap ada atas apa arti delisting bagi investor. “Mungkin juga ada harapan dengan melakukan ini, manajemen Didi akan memperbaiki hubungan regulasinya, tapi saya kurang yakin akan hal itu,” tambah Boodry.

Proses untuk menarik kembali saham yang sudah tercatat di NYSE sejatinya merupakan proses yang sulit dan berliku. Bahwa Didi memilih jalan yang sulit itu, menunjukkan betapa besarnya pengaruh regulator di China, dan betapa Beijing tak sungkan menggunakan kewenangan yang dimilikinya.

Selain Didi, miliarder Jack Ma juga pernah merasakan berbahayanya risiko bertabrakan langsung dengan otoritas otoritas di China. Ma yang pernah mengkritik secara terbuka sistim industri keuangan di negara itu, tahun lalu harus membatalkan rencana IPO Ant Group cuma tiga hari sebelum jadwal

Apa yang dialami oleh Didi kemungkinan akan menyurutkan niat perusahaan asal China melakukan pencatatan di bursa AS.

“ADR China menghadapi tantangan regulasi yang semakin meningkat, tak cuma dari otoritas di AS, tetapi juga pihak berwenang di China. Bagi sebagian besar perusahaan, itu akan seperti berjalan di atas cangkang telur, mencoba menyenangkan kedua belah pihak. Delisting hanya akan membuat segalanya lebih sederhana,” kata Wang Qi, kepala eksekutif fund manager MegaTrust Investment di Hong Kong.

Didi berencana untuk segera melanjutkan listing di Hong Kong dan tidak berencana untuk go private, sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters.

Perusahaan itu bermaksud melakukan listing kedua di bursa Hong Kong dalam tiga bulan ke depan, baru setelah itu melakukan delisting dari New York pada Juni 2022, kata seorang sumber. Ia menolak dikutip karena tidak berwenang untuk berbicara dengan media.

Didi tidak segera menanggapi permintaan komentar Reuters, dan CAC belum mengomentari pengumumannya.

Baca Juga: Tengah Malam Hari Ini Waktu Asia, Grab Akan Debut di Nasdaq, Valuasi US$ 40 miliar

“Tidak lama setelah IPO, investor AS berupaya menuntut Didi karena gagal mengungkapkan pembicaraan yang sedang berlangsung dengan otoritas China. Apa yang terjadi sekarang tidaklah membantu,” kata William Mileham, analis ekuitas di Mirabaud.

"Tampaknya Didi tidak menunggu untuk terdaftar di dua bursa, melainkan delisting dari bursa di AS, sebelum diperdagangkan di bursa saham HK."

Jalan yang harus ditempuh Didi untuk mencatatkan saham di Hong Kong kemungkinan akan berliku. Apalagi, dalam waktu tiga bulan. Mengingat, perusahaan itu kini memiliki catatan buruk dalam kepatuhan serta masih dalam penyelidikan atas kendaraan tanpa izin dan pengemudi paruh waktu.

Hanya 20% -30% dari seluruh armada bisnis ride-hailing Didi di China yang sudah memenuhi aturan yang dipersyaratkan. Yaitu, izin yang berkaitan dengan penyediaan layanan ride-hailing, lisensi kendaraan dan SIM, kata sumber sebelumnya.

Dalam prospektus IPO di New York, Didi mengatakan telah memperoleh izin ride-hailing dari pemerintah berbagai kota, di mana sebagian besar armadanya beroperasi. Perusahaan itu belum menanggapi pertanyaan lebih lanjut tentang izin.

Masalah-masalah itu yang menjadi kendala utama Didi untuk melakukan IPO di Hong Kong sebelumnya. Tidak jelas apakah bursa di Hong Kong akan memberi izin Didi untuk IPO di masa kini, kata sumber yang mengetahui hal itu, Jumat.

“Saya tidak berpikir Didi memenuhi syarat untuk terdaftar di mana pun, hingga perusahaan itu menetapkan protokol yang efektif untuk mengelola dan memastikan tanggung jawab dan manfaat pengemudi,” kata Nan Li, profesor keuangan di Universitas Shanghai Jiao Tong.

Baca Juga: Harga Saham Grab Melonjak 18% Dalam Debut Pencatatan di Bursa Nasdaq Amerika Serikat

Bursa di Hong Kong tidak mengomentari perusahaan tertentu, kata seorang juru bicara bursa saat ditanya tentang kemungkinan pencatatan saham Didi.

Didi menyediakan 25 juta perjalanan dalam sehari di China selama kuartal pertama, kata prospektus IPO-nya. Menurut keterbukaan informasi yang dipublikasikan Didi pada Juni lalu, pemegang saham terbesarnya adalah Vision Fund SoftBank dengan porsi 21,5%, dan Uber Technologies Inc (12,8%).

Sumber juga mengatakan kepada Reuters bahwa Didi sedang bersiap untuk meluncurkan kembali aplikasinya di China pada akhir tahun. Rencana itu mengantisipasi Beijing akan menuntaskan penyelidikan keamanan siber pada saat itu.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Jelang Lebaran 2026, Tiga Operator Jalan Tol Proyeksi Lonjakan Arus Kendaraan
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:51 WIB

Jelang Lebaran 2026, Tiga Operator Jalan Tol Proyeksi Lonjakan Arus Kendaraan

Per Sabtu (14/3), Jasa Marga mencatat sekitar 285.000 unit kendaraan telah meninggalkan teritori Jakarta. 

Genjot Likuiditas Saham, Alamtri Resources (ADRO) Menggelar Buyback
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:33 WIB

Genjot Likuiditas Saham, Alamtri Resources (ADRO) Menggelar Buyback

Jumlah saham yang dibeli kembali  PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tak akan melebihi 10% dari jumlah modal ditempatkan dalam perusahaan.

Tertekan Daya Beli, Laba HM Sampoerna (HSMP) Terkoreksi Pada 2025
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:24 WIB

Tertekan Daya Beli, Laba HM Sampoerna (HSMP) Terkoreksi Pada 2025

Laba bersih PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) hanya Rp 6,6 triliun pada 2025. Angka ini turun 0,54% secara tahunan.

Emiten Berburu Modal Baru Melalui Rights Issue
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:18 WIB

Emiten Berburu Modal Baru Melalui Rights Issue

Peluang keberhasilan rights issue di tengah pasar fluktuatif dinilai sangat bergantung pada kepastian pembeli siaga

Ekspansi ASEAN dan Efisiensi Biaya Bikin Prospek Saham KLBF Tetap Menarik
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:13 WIB

Ekspansi ASEAN dan Efisiensi Biaya Bikin Prospek Saham KLBF Tetap Menarik

Ekspansi ASEAN mempercepat pertumbuhan pendapatan regional, memperbesar pangsa pasar, serta mendiversifikasi risiko.

Menakar Ambisi Danantara Suntik Rp 16 Triliun ke Meikarta di Tengah Tingginya Backlog
| Minggu, 15 Maret 2026 | 10:05 WIB

Menakar Ambisi Danantara Suntik Rp 16 Triliun ke Meikarta di Tengah Tingginya Backlog

Sejumlah proyek yang digagas pemerintah terkadang ramai pada tahap pengumuman awal, namun realisasinya tidak selalu terlihat.

Kinerja Bank Digital Positif, Apakah Sahamnya Bakal Ikut Naik?
| Minggu, 15 Maret 2026 | 09:00 WIB

Kinerja Bank Digital Positif, Apakah Sahamnya Bakal Ikut Naik?

Perbaikan fundamental belum tercermin pada pergerakan saham emiten bank digital yang cenderung loyo.

Reli Semu Bitcoin: Sempat Melesat ke 73.510, Anjlok Lagi Dihantam Sentimen Perang
| Minggu, 15 Maret 2026 | 08:00 WIB

Reli Semu Bitcoin: Sempat Melesat ke 73.510, Anjlok Lagi Dihantam Sentimen Perang

Data inflasi AS bulan Februari sebesar 2,4% belum memotret dampak riil dari hantaman ekonomi akibat perang AS-Israel versus Iran. 

Jelang Dua Tahun Implementasi PPK dengan Skema FCA, Desakan Evaluasi Semakin Menguat
| Minggu, 15 Maret 2026 | 07:05 WIB

Jelang Dua Tahun Implementasi PPK dengan Skema FCA, Desakan Evaluasi Semakin Menguat

BEI saat ini tengah melakukan evaluasi terhadap Papan Pemantauan Khusus (PPK), yang ditargetkan tuntas pada kuartal II-2026. 

Rupiah Melemah Pekan Ini, Waspada Dampak Geopolitik Global!
| Minggu, 15 Maret 2026 | 06:00 WIB

Rupiah Melemah Pekan Ini, Waspada Dampak Geopolitik Global!

Nilai tukar rupiah tertekan 0,38% ke Rp16.958 di akhir pekan ini. Simak pemicu utama pelemahan dan risiko yang harus diwaspadai.

INDEKS BERITA

Terpopuler