Pendapatan Negara Meningkat 8,21% YoY, Penerimaan Pajak Tumbuh 4,66% YoY

Rabu, 20 Maret 2019 | 06:15 WIB
Pendapatan Negara Meningkat 8,21% YoY, Penerimaan Pajak Tumbuh 4,66% YoY
[]
Reporter: Benedicta Prima, Lidya Yuniartha | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendapatan negara hingga Februari tumbuh 8,21% secara tahunan alias year on year menjadi Rp 217,21 triliun. Angka itu setara 10,03% dari target penerimaan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019.

Penerimaan pajak masih menjadi penyumbang terbesar penerimaan negara. Nilai kontribusinya Rp 160,84 triliun atau 10,2% dari target tahun ini sebesar Rp 1.577,56 triliun. Penerimaan Bea dan Cukai Rp 16,39 triliun, setara 7,85% dari target. Penerimaan negara bukan pajak Rp 39,91 triliun atau setara 10,55% dari target.

Meski penerimaan pajak berkontribusi terbesar, namun kinerja pajak sejatinya tak memuaskan. Realisasi penerimaan pajak hanya tumbuh 4,66% yoy dari tahun lalu.

Melemahnya pertumbuhan penerimaan pajak bersumber dari penerimaan dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) yang turun 10,40%. Penerimaan PPN per Februari 2019 sebesar Rp 57,4 triliun, sedangkan tahun lalu Rp 64,1 triliun.

Adapun PPN dalam negeri (DN) menunjukkan penurunan cukup dalam. Merujuk data Kekmeu, jika Februari 2018 tercatat masih mampu tumbuh 16,2%, saat ini terjadi penurunan 18,3% dengan nilai Rp 29,18 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, penurunan ini terjadi karena adanya percepatan restitusi sejak Mei tahun 2018 lalu. Para pebisnis memanfaatkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 39/PMK.03/2018 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak. Dengan begitu,"(Penerimaan) PPN negatif growth tidak berarti kondisi ekonomi turun," tandas Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (19/3).

Mantan direktur World Bank ini menjelaskan kebijakan percepatan restitusi berdampak baik bagi arus kas perusahaan atau wajib pajak (WP) badan usaha. Harapanya: kebijakan ini bisa mendorong ekonomi.

Berdasarkan industri, industri sawit meminta restitusi terbesar Rp 4,9 triliun, pertambangan Rp 3,3 triliun, industri logam dasar Rp 2,9 triliun, industri kendaraan dan industri kertas masing-masing Rp 1,9 triliun. "Mereka ekspor dan minta restitusi. Itu berarti bagus," ujar Menkeu.

Saat kinerja pajak tertekan, penerimaan Bea Cukai tumbuh menjulang yakni 18,08% dengan realisasi Rp 16,39 triliun atau 7,48% dari target.

Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) mencatat, penerimaan Bea Cukai saat ini masih dalam tren naik. Hingga Senin (18/3), Bea Cukai sudah mengantongi Rp 23,11 triliun atau 11,07% dari target Rp 208,82 triliun. "Sebagian besar dari cukai, pertumbuhan 436,07% secara tahunan," ujar Kepala Subdirektorat Jenderal (Kasubdit) Humas Bea Cukai Deni Surjantoro saat berkunjung ke redaksi KONTAN, Selasa (19/3).

Bagikan

Berita Terbaru

Negosiasi WTO Alot di Kamerun, Nasib Pajak Digital E-Commerce Global Terancam
| Minggu, 29 Maret 2026 | 16:32 WIB

Negosiasi WTO Alot di Kamerun, Nasib Pajak Digital E-Commerce Global Terancam

Negosiasi WTO tentang bea masuk digital terancam buntu. Dunia usaha was-was tarif baru, AS ancam kredibilitas WTO. Akankah ada jalan tengah?

Kerugian Garuda Indonesia (GIAA) Membengkak Sepanjang 2025, Masih Layak Diselamatkan?
| Minggu, 29 Maret 2026 | 11:00 WIB

Kerugian Garuda Indonesia (GIAA) Membengkak Sepanjang 2025, Masih Layak Diselamatkan?

Manajemen Garuda menyebutkan bahwa momen keluarnya GIAA dari papan pemantauan khusus menjadi momen penting untuk memperbaiki persepsi pasar.

Harga Batubara Melonjak, Tapi Pengusaha Dalam Negeri Belum Bisa Pesta-Pora
| Minggu, 29 Maret 2026 | 09:00 WIB

Harga Batubara Melonjak, Tapi Pengusaha Dalam Negeri Belum Bisa Pesta-Pora

Kenaikan harga minyak membebani biaya operasional perusahaan karena biaya bahan bakar mencakup sekitar 25%-35% dari biaya operasional perusahaan.

Perluas 5G dan Perkuat Segmen Enterprise, Begini Rekomendasi Saham EXCL
| Minggu, 29 Maret 2026 | 08:00 WIB

Perluas 5G dan Perkuat Segmen Enterprise, Begini Rekomendasi Saham EXCL

Dari sisi memperluas layanan, nantinya seluruh infrastruktur BTS 4G milik EXCL juga akan dilengkapi dengan teknologi 5G.

Sahamnya Terus Koreksi, Portofolio Investor Institusi Asing di Saham BREN Merugi
| Minggu, 29 Maret 2026 | 07:00 WIB

Sahamnya Terus Koreksi, Portofolio Investor Institusi Asing di Saham BREN Merugi

Secara teknikal, posisi pergerakan BREN saat ini masih berada di fase down trend-nya dengan tekanan jual dan volume yang tidak begitu besar.

Mencari Jalan Agar Botol Yakult Bisa Kembali Pulang
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:51 WIB

Mencari Jalan Agar Botol Yakult Bisa Kembali Pulang

Untuk mengurangi emisi karbon, PT Yakult Indonesia Persada memasang PLTS atap di dua unit pabriknya. Perusahaan juga men

 
Juragan Bioskop Berburu Penonton ke Kota-Kota Kecil
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:48 WIB

Juragan Bioskop Berburu Penonton ke Kota-Kota Kecil

Pengelola bioskop semakin masif mengembangkan layar di kota tier dua dan tier tiga. Mereka melirik peluang pertumbuhan.

Mencuil Cuan dari Sepotong Roti Gandum
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:44 WIB

Mencuil Cuan dari Sepotong Roti Gandum

Tren gaya hidup sehat mendorong lonjakan permintaan roti gandum, yang membuka peluang bagi pelaku usaha meraup penjualan dari roti gandum.

 
APBN di Persimpangan
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:40 WIB

APBN di Persimpangan

​Tekanan global dan ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perlambatan ekonomi membuat ruang gerak fiskal semakin terbatas.

Saatnya Investor Melakukan Diversifikasi Sektor Saham
| Minggu, 29 Maret 2026 | 04:50 WIB

Saatnya Investor Melakukan Diversifikasi Sektor Saham

Diversifikasi tidak hanya berlaku pada saham, bisa dikombinasikan dengan aset-aset lain, seperti surat utang dan deposito.

INDEKS BERITA

Terpopuler