Penjualan Kapuas Prima Coal (ZINC) di Semester I 2019, Belum Separuh Jalan

Senin, 01 Juli 2019 | 06:40 WIB
Penjualan Kapuas Prima Coal (ZINC) di Semester I 2019, Belum Separuh Jalan
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manajemen PT Kapuas Prima Coal Tbk memperkirakan perolehan penjualan sebesar Rp 430 miliar selama semester I 2019 atau tumbuh 15,43% year on year (yoy). Sementara realisasi pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi alias EBITDA naik 45,52% yoy menjadi Rp 195 miliar.

Pencapaian penjualan Kapuas Prima Coal pada paruh pertama tahun ini masih jauh dari target sepanjang 2019. Berdasarkan catatan KONTAN, perusahaan berkode saham ZINC di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut mengincar penjualan Rp 1,4 triliun dan laba bersih Rp 210 miliar pada tahun ini.

Namun Kapuas Prima Coal yakin bisa memenuhi target. Operasional fasilitas floatasi baru berpotensi menambah volume produksi konsentrat sebesar 1.926 ton seng dan 366 ton timbal.

Dalam lima bulan pertama tahun ini, Kapuas Prima Coal memproduksi 150.395 ton bijih timah atau 33,42% terhadap total target tahun ini yakni 450.000 ton bijih timah. Mereka kemudian mengolah produksi bijih timah menjadi 7.528 ton timbal (Pb) dan 23.729 ton seng (Zn).

Sebagai perbandingan, tahun 2018 Kapuas Prima Coal memproduksi 341.451 ton bijih timah. Sementara realisasi produksi seng mencapai 41.367 ton dan olahan timbal sebanyak 19.425 ton.

Sejak Mei 2019, Kapuas Prima Coal juga menambah peralatan baru berupa magnetic separator yang berguna untuk meningkatkan kadar olahan bijih besi. "Penambahan peralatan diharapkan dapat menambah angka penjualan perusahaan untuk 2019 sebesar Rp 50 miliar," kata Hendra William Direktur Keuangan PT Kapuas Prima Coal Tbk saat dihubungi KONTAN, Sabtu (29/6) pekan lalu.

Hingga Maret 2019, Kapuas Prima Coal sudah membelanjakan Rp 28,4 miliar dari total alokasi dana belanja modal US$ 10 juta tahun ini. Senilai Rp 23 miliar terpakai untuk membeli kendaraan dan membangun infrastruktur tambahan. Lalu, Rp 5,4 miliar untuk membeli peralatan.

Pada saat yang bersamaan, Kapuas Prima Coal berencana mencari pendanaan dari pihak ketiga. Targetnya adalah mengantongi kredit perbankan senilai US$ 80 juta hingga US$ 100 juta. "Untuk memperbesar kapasitas produksi perusahaan dalam tiga tahun ke depan," terang Hendra.

Maklum saja karena aset tambang Kapuas Prima Coal membesar. Perusahaan tersebut sudah mengantongi perluasan izin pinjam pakai kawasan hutan hingga seluas 1.519 hektare (ha) atau meluas ketimbang catatan sebelumnya yakni 390 ha.

Hingga akhir 2018, volume sumber daya Kapuas Prima Coal naik sekitar dua kali lipat ketimbang tahun sebelumnya menjadi 14,4 juta. Sementara volume cadangan naik 41,3% yoy menjadi 6,5 juta ton.

Dividen Rp 25,25 miliar

Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Kapuas Prima Coal Tbk Sabtu (29/6) pekan lalu menyetujui pembagian dividen tunai 2018 sebesar Rp 10 miliar untuk 25,25 miliar unit saham. Pemilik setiap unit saham berhak atas dividen senilai Rp 0,39.

Sepanjang tahun lalu, Kapuas Prima Coal mengantongi laba tahun berjalan Rp 110,15 miliar. "Sekitar Rp 99 miliar dialokasikan dan dibukukan sebagai laba ditahan untuk menambah modal kerja perusahaan," ungkap Hendra William. RUPST pekan lalu juga melaporkan sisa dana hasil penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) tahun 2017 senilai Rp 84,40 juta telah terpakai. Jadi, ZINC sudah menggunakan seluruh dana IPO.

Bagikan

Berita Terbaru

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas
| Senin, 06 April 2026 | 07:23 WIB

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas

Selesainya program peningkatan transparansi, integritas dan kredibilitas informasi kepemilikan saham dalam waktu cukup singkat hanya dua bulan. 

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar
| Senin, 06 April 2026 | 07:05 WIB

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar

Lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar ru[iah diperkirakan akan mengerek biaya impo 

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 06 April 2026 | 07:03 WIB

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Bersamaan minggatnya asing, kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) mencapai Rp 17.015 per dolar AS. Paling buruk sepanjang sejarah. 

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat
| Senin, 06 April 2026 | 06:43 WIB

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat

Segmen bisnis obat resep berkontribusi ke pendapatan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada 2025. Segmen ini tumbuh 11,00% yoy jadi Rp 10,24 triliun. ​

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah
| Senin, 06 April 2026 | 06:40 WIB

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah

Risiko terbesarnya adalah gagal panen yang berujung pada kerugian petani akibat biaya produksi tidak kembali dan turunnya pendapatan

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi
| Senin, 06 April 2026 | 06:37 WIB

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi

Pemerintah akan menerbitkan aturan rusun bersubsidi sehingga bisa mempercepat pembangunan dan mengejar target 3 juta rumah

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli
| Senin, 06 April 2026 | 06:36 WIB

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli

Emiten properti masih menemukan tantangan di 2026 akibat kondisi geopolitik. Ini memicu ketidakpastian ekonomi, yang bisa menurunkan daya beli.​

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol
| Senin, 06 April 2026 | 06:32 WIB

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol

USGBC merupakan organisasi nirlaba internasional yang mewakili produsen dan pemangku kepentingan industri biji-bijian

Saham Emiten Rumahsakit Diprediksi Cuan di 2026, Ini Pendorong Utamanya
| Senin, 06 April 2026 | 06:30 WIB

Saham Emiten Rumahsakit Diprediksi Cuan di 2026, Ini Pendorong Utamanya

Beban depresiasi, rupiah lemah, dan tarif BPJS tipis bisa menekan profit. Pahami risiko sebelum berinvestasi di saham RS

WIKA Masih Bukukan Rugi Jumbo Rp 9,7 Triliun
| Senin, 06 April 2026 | 06:29 WIB

WIKA Masih Bukukan Rugi Jumbo Rp 9,7 Triliun

WIKA mengantongi kontrak baru Rp 17,46 triliun, yang mendongkrak total kontrak berjalan (order book) hingga menyentuh angka Rp 50,52 triliun

INDEKS BERITA

Terpopuler