Penjualan Ritel di Jepang selama Oktober Terbantu Penjualan Bahan Bakar

Senin, 29 November 2021 | 10:47 WIB
Penjualan Ritel di Jepang selama Oktober Terbantu Penjualan Bahan Bakar
[ILUSTRASI. FILE PHOTO - Gerai ritel di Tokyo, Jepang di masa prapandemi. REUTERS/Kim Kyung-Hoon/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Untuk pertama kalinya selama tiga bulan terakhir, penjualan ritel Jepang di bulan Oktober mencatatkan kenaikan. Namun sejumlah catatan mengiringi kenaikan itu, seperti besarannya yang lebih rendah daripada yang diharapkan. Konsumsi masyarakat, yang mendasari penjualan ritel, juga cenderung bergulir pelan, meski sudah ada pelonggaran pembatasan yang berhubungan dengan Covid-19 .

Setelah mengalami kontraksi yang lebih besar dari perkiraan selama  Juli-September, ekonomi Jepang diperkirakan analis akan pulih pada kuartal ini, berkat kenaikan konsumsi rumah tangga. Kecemasan masih membayangi sisi penawaran, terutama bisnis yang bergantung pada ekspor.

“Karena masyarakat masih mewaspadai gelombang infeksi berikutnya, mereka tidak pergi keluar rumah dan membelanjakan uang secara aktif,” kata Masato Koike, ekonom senior di Dai-ichi Life Research Institute. Ia menambahkan, upah yang tumbuh stagnan semakin menghambat upaya memelihara pertumbuhan yang solid.

Baca Juga: Bursa Asia memerah dibayangi varian Covid-19 Omicron Senin (29/11) pagi

Penjualan ritel pada Oktober naik 0,9% dari tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkan pada hari Senin. Nilai itu lebih rendah daripada median perkiraan ekonom, yaitu kenaikan sebesar 1,1%. Hasil itu mengikuti penurunan sebesar 0,5% pada bulan September.

Lonjakan 25,9% dalam penjualan bahan bakar, karena kenaikan harga produk minyak bumi, menjadi pendorong utama pertumbuhan angka penjualan ritel. Sementara penjualan barang selain bahan bakar turun 1,2% dalam basis tahun-ke-tahun. 

Yang mengkhawatirkan, penjualan mobil turun 19,5% dari tahun sebelumnya. Penurunan bulanan terbesar sejak Januari 2011 itu terseret oleh kendala pasokan, menurut seorang pejabat pemerintah.

Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penjualan ritel tumbuh 1,1% berdasarkan penyesuaian musiman di Oktober, menyusul kenaikan 2,8% yang direvisi naik di September.

Baca Juga: Virus corona varian Omicron terus menyebar, Australia mendeteksi dua kasus baru

Jepang telah melonggarkan pembatasan coronavirus pada jam buka restoran, acara berskala besar, serta kontrol perbatasan. Langkah itu diambil setelah jumlah infeksi turun secara dramatis, dan lebih dari tiga perempat populasi negeri itu telah divaksinasi secara penuh.

Statistik sektor swasta, bagaimanapun, menunjukkan belanja konsumen pada Oktober menunjukkan pemulihan secara bertahap. Analis memprediksi pemulihan secara penuh di sektor-sektor yang terpukul keras pandemi, seperti layanan yang melibatkan kegiatan tatap muka, akan memakan waktu lebih lama.

“Memang, ada tanda-tanda bahwa konsumen akhirnya melepaskan kehati-hatian mereka karena mobilitas pada November mulai melampaui kisaran di sepanjang 2020," kata Marcel Thieliant, ekonom senior Jepang di Capital Economics. “Pengeluaran untuk layanan akhirnya harus mulai pulih dengan sungguh-sungguh sekarang.”

Untuk mendorong pemulihan ekonominya yang kini berjalan pelan, Pemerintah Jepang awal bulan ini mengumumkan paket stimulus dengan nilai rekor US$ 490 miliar, atau setara Rp 7.025,6 triliun. Paket itu termasuk pembayaran dana tunai ke keluarga yang memiliki anak, serta subsidi untuk bisnis yang terkena dampak Covid-19.

Bagikan

Berita Terbaru

Efek Perang Permintaan PLTS Melonjak, Ekspor Panel Surya Cina Capai Rekor Tertinggi
| Senin, 27 April 2026 | 10:00 WIB

Efek Perang Permintaan PLTS Melonjak, Ekspor Panel Surya Cina Capai Rekor Tertinggi

Skala program ini membuka peluang industri nyata, yakni manufaktur panel surya domestik, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi hijau.

Sideways Sepanjang April 2026, Ke Mana Arah Harga Emas?
| Senin, 27 April 2026 | 09:00 WIB

Sideways Sepanjang April 2026, Ke Mana Arah Harga Emas?

Pembukaan Selat Hormuz jadi kunci penting, jika harga minyak stabil di bawah US$ 80 per barel, maka harga emas bisa terangkat lagi.

Badai Krismon Tahun 1998 Pasti Kembali?
| Senin, 27 April 2026 | 08:42 WIB

Badai Krismon Tahun 1998 Pasti Kembali?

Badai krisis bisa kembali! Pelajaran dari 1998 sangat penting. Pemerintah harus bertindak cepat. Cari tahu langkah krusialnya.

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG
| Senin, 27 April 2026 | 08:00 WIB

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG

Implementasi program MBG masih menopang kinerja JPFA, program ini menambah konsumsi ayam nasional secara signifikan di 2026.

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May
| Senin, 27 April 2026 | 07:41 WIB

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May

Bursa saham Indonesia tertatih-tatih berjalan. Apakah fenomena Sell in May berpeluang memperparah IHSG?

Prospek  Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis
| Senin, 27 April 2026 | 07:22 WIB

Prospek Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencetak laba fantastis 2025. Prediksi pertumbuhan 2026 tidak lagi tiga digit, simak proyeksi terbarunya!

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 27 April 2026 | 06:57 WIB

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Badai menerjang IHSG, investor asing lepas saham besar-besaran. Jangan sampai salah langkah, pahami risikonya sebelum Anda bertindak.

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu
| Senin, 27 April 2026 | 06:55 WIB

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu

​Kredit konsumer perbankan melambat seiring daya beli masyarakat melemah, mendorong bank semakin ketat menyalurkan pembiayaan.

Dolar AS Melemah Tapi Bakal Bangkit: Kejutan di Tengah Ketegangan Global?
| Senin, 27 April 2026 | 06:45 WIB

Dolar AS Melemah Tapi Bakal Bangkit: Kejutan di Tengah Ketegangan Global?

Dolar AS sempat melemah di akhir pekan, namun kini berpotensi kembali menguat. Ketegangan geopolitik AS-Iran jadi pemicu. 

Hasil Stress Test, Perbankan Tanah Air Masih Kuat Hadapi Gejolak Ekonomi
| Senin, 27 April 2026 | 06:35 WIB

Hasil Stress Test, Perbankan Tanah Air Masih Kuat Hadapi Gejolak Ekonomi

​Stress test menunjukkan perbankan Indonesia tetap kuat menghadapi gejolak global, namun ekspansi kini dibuat lebih hati-hati 

INDEKS BERITA

Terpopuler