Pentingnya Analisa Fundamental dan Valuasi dalam Investasi

Senin, 25 Oktober 2021 | 07:35 WIB
Pentingnya Analisa Fundamental dan Valuasi dalam Investasi
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Pandemi Covid-19 mengubah beberapa aspek kehidupan. Salah satu dampak pandemi adalah naiknya investor ritel di pasar modal. Selain itu, banyak orang dipaksa melek teknologi. Hadirnya era digital membawa istilah old economy dan new economy.

Pasar saham saat ini didominasi investor ritel yang rata-rata kaum milenial, yang akrab dan dekat dengan teknologi. Mereka cenderung terpancing membeli saham-saham teknologi yang dianggap new economy. Akibatnya terjadi kenaikan harga-harga saham terkait teknologi, juga saham bank digital.

Saat membeli saham, investor ritel harus rasional dan kembali ke analisa fundamental. Sesuatu yang tanpa fundamental kuat akan bersifat sementara. Tanpa fundamental jangka panjang, pasar akan menghukum kenaikan saham teknologi dan bank digital dengan koreksi yang tajam dan dalam.

Dalam melakukan analisa fundamental, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni kinerja perusahaan di masa lalu, prospek perusahaan di masa depan, dan valuasi harga saham. Ketiga aspek ini saling terkait dan harus menjadi dasar seorang investor melakukan pembelian saham di bursa.

Baca Juga: Lihat Laba, Jangan Label Bank Digitalnya

Kinerja masa lalu menunjukan kekuatan perusahaan, kemampuan perusahaan menghasilkan laba, efisiensi perusahaan dan kebijakan manajemen perusahaan. Perusahaan yang memiliki kinerja masa lalu kuat cenderung mampu bertahan ketika terjadi perubahan ekonomi. Perusahaan tetap mampu tumbuh dan dapat menghadapi badai ketika krisis datang.

Prospek masa depan bicara peluang perusahaan mempertahankan atau bahkan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Prospek masa depan menggambarkan kemampuan perusahaan di masa yang akan datang untuk menghasilkan keuntungan, meningkatkan efisiensi, dan menjaga struktur permodalan yang optimal.

Pertanyaannya, apakah di masa depan hanya perusahaan berbasis digital saja yang akan tetap tumbuh dan berkembang? Di beberapa sektor, teknologi memang meningkatkan efisiensi, mendapatkan konsumen, mengkomunikasikan informasi dan keunggulan.

Pertanyaan berikutnya, apakah hanya perusahaan rintisan baru (startup) saja yang berhak atas teknologi tersebut? Jawabannya pasti tidak. Perusahaan yang dianggap old economy pasti tidak tinggal diam. Mereka akan berinvestasi di teknologi supaya pasarnya tidak dimakan perusahaan rintisan tadi.

Baca Juga: Wajar Harga Saham BHIT Milik Hary Tanoe Anjlok Terus, Investor Kakapnya Rajin Jualan

Jadi harusnya investor di pasar modal tidak mudah percaya dengan rencana sebuah perusahaan yang ingin berubah menjadi digital. Jangan mudah terpancing membeli saham perusahaan yang mengaku akan menjadi perusahaan digital.

Dalam dunia teknologi ini ada istilah winner takes all. Perusahaan teknologi dan bank digital dalam sektor yang sama mungkin hanya akan sisa beberapa yang benar-benar menjadi pemenang. Sisanya akan hilang atau diambil alih pemenang.Artinya investor harus hati-hati agar membuat pilihan yang rasional dan bisa menemukan calon pemenang.

Digitalisasi tidak lepas dari ekosistem yang dibangun perusahaan bersama afiliasinya. Contoh, di bank konvensional, informasi tentang transaksi nasabah cenderung terpotong. Bank hanya mengetahui jumlah dana dan mutasi transaksi yang dilakukan nasabah, tanpa tahu mutasi tersebut untuk apa.

Maka bank digital ingin membangun ekosistem, di mana bank akan terhubung dengan alat pembayaran, marketplace, penjualan tiket, hotel, transportasi, logistik, dan lain-lain. Tujuannya agar sebuah transaksi yang dilakukan nasabah dapat diketahui dan dianalisa dari A sampai Z.

Dengan menganalisa pola dan nilai konsumsi saja, sebuah perusahaan teknologi bisa memperkirakan level pendapatan dan kesukaan orang tersebut. Belum lagi bila ada data belanja yang dilakukan nasabah. Tentu banyak informasi yang akan didapat, termasuk sampai hobi, dan lain-lain.

Setelah dua aspek di atas terpenuhi, maka sekarang investor tidak boleh juga membeli terlalu mahal. Memang perusahaan yang punya growth tinggi cenderung dihargai lebih mahal dibandingkan perusahaan yang sudah mapan.

Tapi, kembali lagi valuasi sangat penting, karena growth bisa diwakili asumsi pertumbuhan yang tinggi dalam proses valuasi. Karena itu, tidak masuk akal sebuah bank digital yang bisnis dasarnya perbankan diperdagangkan dengan PBV sampai puluhan bahkan ratusan kali.

Baca Juga: Minat Investor atas Aset Hijau Meningkat, Produsen Mobil Tenaga Surya Ini Daftar IPO

Valuasi bank biasanya dinilai dengan pendekatan PBV, karena nilai buku sebuah bank biasanya sudah mencerminkan nilai pasar dari aset dan kewajiban bank tersebut. Biasanya bank yang punya jutaan nasabah dengan aset ratusan trilun, dinilai dengan PBV di angka 2–4 kali.

Investor yang membeli sebuah aset atau perusahaan terlalu mahal harus bersiap menderita kerugian, bahkan bisa nyangkut dalam jangka waktu sangat lama. Harus selalu diingat pasar saham mengalami rotasi, dan dana berpindah dari satu sektor ke sektor lain.

Ketika ekonomi mulai normal, dan suku bunga terpaksa naik akibat inflasi yang meningkat, perusahaan teknologi akan mulai ditinggal pelaku pasar. Perusahaan teknologi biasa bertumbuh dengan pesat ketika suku bunga rendah.

Baca Juga: Direksi dan Komisaris Bank BRI Terima Bonus 4,3 Juta Saham BBRI, Sunarso Paling Gede

Investor global selama ini bersedia meminjam dengan bunga rendah dan atau mendapatkan dana dengan cost of capital yang murah untuk diinvestasikan di perusahaan teknologi.

Ketika banyak bank sentral mulai mengubah kebijakan, pelaku pasar harus hati-hati. Bila membeli saham dengan fundamental baik dan valuasi murah, ketika terjadi koreksi, penurunan saham tidak akan terlalu besar dan lebih cepat rebound ketika kepanikan berlalu.

Tetapi hal berbeda bila membeli perusahaan dengan valuasi yang mahal dan fundamental tidak solid, siap-siap untuk boncos dalam waktu yang lama. Bahkan, mungkin dana investasi tidak akan kembali.

Jadilah investor yang rasional dan bukan investor yang ikut-ikutan atau investor kecelakaan. Pahami saham yang akan dibeli. Terutama pilih fundamental yang kuat dan valuasi yang masuk akal.

Selanjutnya: Demam Aset Digital NFT Merambah India, Artis Bollywood dan Pemain Kriket Bergabung

 

Bagikan

Berita Terbaru

Agar Pembetulan SPT  Tidak Menjadi Beban
| Senin, 05 Oktober 2026 | 08:18 WIB

Agar Pembetulan SPT Tidak Menjadi Beban

Pembetulan SPT semestinya menjadi ruang untuk memperbaiki laporan pajak                             

Dana Asing Terus Minggat, Langkah IHSG Makin Berat
| Senin, 05 Oktober 2026 | 08:18 WIB

Dana Asing Terus Minggat, Langkah IHSG Makin Berat

Pada kuartal IV-2026, tren positif kinerja IHSG diperkirakan akan sulit mengulangi pencapaian pada tahun sebelumnya. 

Mengawali Pekan Saatnya Cari Cuan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (5/10)
| Senin, 05 Oktober 2026 | 08:09 WIB

Mengawali Pekan Saatnya Cari Cuan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (5/10)

Investor sebaiknya  tidak terburu-buru menganggap setiap kenaikan IHSG sebagai awal bull market, selama aksi jual asing masih berlangsung

Nasib Cadangan Devisa September
| Senin, 05 Oktober 2026 | 08:06 WIB

Nasib Cadangan Devisa September

Cadangan devisa pada bulan September berpotensi naik, stagnan, bahkan turun dari bulan sebelumnya   

Tambah 500 Ha Lahan di Kendal, Prospek KIJA Semakin Menarik untuk Dipantau
| Senin, 05 Oktober 2026 | 07:59 WIB

Tambah 500 Ha Lahan di Kendal, Prospek KIJA Semakin Menarik untuk Dipantau

Faktor kunci jangka pendek yang mutlak harus dipantau adalah realisasi konversi pipeline 42 hektare di semester II-2026.

Emiten Batubara Masih Punya Katalis Positif, Analis Pasang Rekomendasi Beli
| Senin, 05 Oktober 2026 | 07:50 WIB

Emiten Batubara Masih Punya Katalis Positif, Analis Pasang Rekomendasi Beli

Katalis positif berasal dari harga batubara global yang mulai pulih dan pasokan domestik yang lebih ketat.

Perketat Pengawasan untuk Kejar Penerimaan
| Senin, 05 Oktober 2026 | 07:38 WIB

Perketat Pengawasan untuk Kejar Penerimaan

Pejabat kantor pusat ditugaskan memantau kinerja Kanwil dan potensi penerimaan per wilayah          

Biaya Dana Masih Tinggi, Emiten Memilih Obligasi Tenor Pendek
| Senin, 05 Oktober 2026 | 07:37 WIB

Biaya Dana Masih Tinggi, Emiten Memilih Obligasi Tenor Pendek

Tingginya biaya dana membuat pemulihan pasar obligasi korporasi belum sepenuhnya solid dan mendorong emiten memilih tenor yang lebih pendek.

Manuver Pengendali RAAM dan Ambisi Menggeber Bioskop Tier-2 Saat Valuasi Masih Merah
| Senin, 05 Oktober 2026 | 07:32 WIB

Manuver Pengendali RAAM dan Ambisi Menggeber Bioskop Tier-2 Saat Valuasi Masih Merah

Di tahun 2027 manajemen PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) menargetkan produksi 11 judul film yang mencakup genre horor, drama, dan komedi.

Buka Bioskop di Maros, Cinema XXI Ada di 270 Lokasi
| Senin, 05 Oktober 2026 | 07:21 WIB

Buka Bioskop di Maros, Cinema XXI Ada di 270 Lokasi

Perusahaan ini melebarkan sayap ke Grand Mall Maros XXI, bioskop pertama di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

INDEKS BERITA

Terpopuler