Perhutani Memacu Produksi Tanaman Biomassa Sebagai Pendapatan Baru

Rabu, 10 Juli 2019 | 07:35 WIB
Perhutani Memacu Produksi Tanaman Biomassa Sebagai Pendapatan Baru
[]
Reporter: Andy Dwijayanto, Muhammad Julian | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perum Perhutani terus berupaya memperbesar portofolio bisnis demi meningkatkan valuasi perusahaan. Saat ini, perusahaan pelat merah tersebut sedang fokus mengembangkan jenis tanaman biomassa sebagai sumber pendapatan baru.

Menurut Perum Perhutani, tanaman biomassa lebih cepat dipanen dan memiliki potensi pasar yang besar. "Kalau saat ini, secara total ada gap antara pasokan dan permintaan biomassa hampir US$ 17 juta," ujar Denaldy Mulino Mauna, Direktur Utama Perhutani, Selasa (9/7).

Sebagai gambaran, Perhutani biasa memanen jati setelah 60 tahun-80 tahun ditanam. Sebaliknya, mereka bisa memanen tanaman biomassa tiap dua tahun selama daur hidup 15 tahun. Potensi pendapatan kayu biomassa mencapai Rp 60 juta per hektare (ha). Potensi itu bisa naik menjadi Rp 180 juta per ha jika diolah menjadi wood pallet.

Dalam lima tahun ke depan, Perhutani berharap memiliki kluster tanaman biomassa seluas 122.882 ha. Target luas kluster tahun ini 20.000 ha. Kalau rencana berjalan mulus, mereka memperkirakan total kluster itu akan menghasilkan 2 juta wood pallet atau 3,5 juta ton tanaman biomasa dengan proyeksi kontribusi pendapatan Rp 3,5 triliun.

Target pasar Perhutani tak cuma pasar dalam negeri tetap juga luar negeri. Perhutani menargetkan pendapatan ekspor US$ 43 juta pada tahun 2021. Empat tahun setelahnya atau 2025, mereka berharap pendapatan ekspor naik menjadi US$ 247 juta.

Dalam pengembangan tanaman biomassa, Perhutani melibatkan petani dalam sistem agroforestri. Jadi, komposisi penanaman lahan terdiri dari 70% tanaman biomassa dan 30% tanaman pertanian. Tahun ini, penyediaan lahan melalui sistem agroforestri akan mencapai 6.000 ha. Perhutani bakal memberikan bagi hasil produksi atas partisipasi petani dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Sementara sepanjang tahun ini, Perhutani mengejar pertumbuhan pendapatan 8%–9% year on year (yoy). Tahun lalu, perusahaan tersebut mencatatkan kenaikan pendapatan 20,99% yoy menjadi Rp 4,38 triliun. Sementara laba bersihnya naik 49,42% yoy menjadi Rp 653,98 miliar.

Asal tahu, sejauh ini penjualan gondorukem dan terpentin merupakan tulang punggung utama Perhutani dengan kontribusi 49%. Gondorukem adalah olahan getah hasil sadapan pada batang pinus. Hasil destilasinya berupa terpentin. Menyusul penjualan kayu jati pada posisi kedua dengan kontribusi 39%.

Selain bisnis tanaman, Perhutani mengantongi pendapatan dari sejumlah destinasi wisata alam berupa eco park. Mereka berniat menambah eco park di Jawa Barat. "Perkiraan investasi miliaran dollar AS, nanti akan pakai lahan Perhutani," tutur Denaldy.

Bagikan

Berita Terbaru

Matahari Putra Prima (MPPA) Divestasi Anak Usaha Senilai Rp 61,64 Miliar
| Jumat, 10 April 2026 | 09:26 WIB

Matahari Putra Prima (MPPA) Divestasi Anak Usaha Senilai Rp 61,64 Miliar

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) Melepas seluruh kepemilikannya di PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) kepada PT Fortuna Optima Distribusi (FOD). 

Perintis Triniti (TRIN) Bersiap Akuisisi Prima Pembangunan Propertindo
| Jumat, 10 April 2026 | 09:22 WIB

Perintis Triniti (TRIN) Bersiap Akuisisi Prima Pembangunan Propertindo

Kedua pihak sepakat untuk menjajaki kerja sama strategis melalui aksi akuisisi mayoritas saham Prima Pembangunan Propertindo oleh TRIN. ​

Pembangkit Listrik Beroperasi, Kinerja Emiten EBT Bervariasi
| Jumat, 10 April 2026 | 09:12 WIB

Pembangkit Listrik Beroperasi, Kinerja Emiten EBT Bervariasi

Prospek kinerja emiten EBT pada 2026 berpotensi melesat lebih tinggi, sejalan dengan mulai beroperasinya deretan proyek pembangkit listrik hijau.​

Efisiensi Biaya Memacu Laba Emiten Rokok Mengepul di 2025
| Jumat, 10 April 2026 | 09:06 WIB

Efisiensi Biaya Memacu Laba Emiten Rokok Mengepul di 2025

Kinerja laba emiten rokok pada 2025 terutama dipengaruhi faktor efisiensi biaya dan beban non operasional. ​

Laju Saham Bahan Baku Masih Menderu
| Jumat, 10 April 2026 | 09:01 WIB

Laju Saham Bahan Baku Masih Menderu

Dari 11 indeks sektoral di BEI, IDX Basic Materials jadi satu-satunya indeks yang mencatat kinerja positif sejak awal 2026. ​

ABMM Menggenjot  Aset Tambang Baru
| Jumat, 10 April 2026 | 09:00 WIB

ABMM Menggenjot Aset Tambang Baru

ABMM mengandalkan kontribusi dari aset pertambangan baru, serta penguatan sinergi antar lini bisnis guna menjaga daya saing

Minyak Naik, Hitung Harga BBM Non Subsidi
| Jumat, 10 April 2026 | 08:50 WIB

Minyak Naik, Hitung Harga BBM Non Subsidi

Pemerintah perlu mencermati potensi peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi sebelum menaikkan harga

Pebisnis Terusik Pengalihan Gas Industri ke Elpiji 3 Kg
| Jumat, 10 April 2026 | 08:31 WIB

Pebisnis Terusik Pengalihan Gas Industri ke Elpiji 3 Kg

Kementerian ESDM berencana mengalihkan jatah pasokan elpiji industri untuk memenuhi kebutuhan produksi gas melon bersubsidi tersebut.

Krisis Energi dan Risiko Fiskal-Moneter
| Jumat, 10 April 2026 | 08:16 WIB

Krisis Energi dan Risiko Fiskal-Moneter

Jika subsidi bahan bakar minyak (BBM) dipertahankan, atau harga BBM tidak naik, beban fiskal semakin berat.

Optimisme Semu
| Jumat, 10 April 2026 | 08:08 WIB

Optimisme Semu

Betul, tugas pemerintah memang harus menenangkan keadaan. Tapi setelah itu buru-buru melakukan perbaikan, jangan optimisme semu atau kepedean.

INDEKS BERITA

Terpopuler