Permintaan China Susut, Harga Logam Industri Kompak Menurun

Kamis, 27 Oktober 2022 | 04:35 WIB
Permintaan China Susut, Harga Logam Industri Kompak Menurun
[]
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren harga komoditas logam industri dalam tekanan di sepanjang tahun ini. Kekhawatiran resesi global dan berkurangnya penyerapan komoditas bahan baku dari China membuat permintaan komoditas logam industri kompak melemah tahun ini. 

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan, sebenarnya harga aluminium, tembaga, nikel dan timah cukup baik pada awal tahun ini. Harga berbagai komoditas tersebut sempat mencapai level tertinggi secara historis pada Maret 2022. 

Namun, biaya energi yang melesat akibat perang antara Rusia dan Ukraina menyebabkan kendala produksi. Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya permintaan dari China sebagai negara importir terbesar nomor empat logam industri. Berikut prospek berbagai komoditas logam mulia ke depan.

Baca Juga: Naik 54%, Investasi Sektor Manufaktur Lampaui Rp 365 Triliun

Timah 

Harga logam industri yang melemah cukup dalam adalah timah. Per Selasa (25/10), harga timah kontrak bergulir tiga bulan di LME ada di US$ 18.477 per ton. Jadi sepanjang tahun ini, harga timah telah turun sebesar 52,42%. 

Penurunan harga timah terjadi karena kekhawatiran resesi global, yang membuat permintaan menurun. Kebijakan moneter ketat di berbagai negara dan lockdown sejumlah wilayah di China untuk mencegah penularan virus Covid-19 membuat permintaan merosot tajam. 

Ke depan, Sutopo memperkirakan, harga timah masih akan menurun dan menguji level support di US$ 15.000 per ton hingga akhir tahun. Aksi jual juga masih terlihat. 

Tambah lagi, produksi global masih mengalami stagnasi karena kurangnya investasi oleh penambang besar. Di luar itu, produksi timah sempat terganggu wabah Covid-19 yang melanda negara-negara penghasil timah, termasuk Indonesia dan Malaysia. 

Baca Juga: Investasi Sektor Manufaktur Melejit, Ini Sektor Bisnis yang Beri Andil Paling Besar

Tembaga

Komoditas logam industri dengan penurunan harga terbesar kedua adalah tembaga. Hingga Selasa (25/10), harga tembaga kontrak bergulir tiga bulan di LME pengiriman tiga bulan turun 22,61% menjadi US$ 7.523 per ton. 

Founder Traderindo.com Wahyu Triwibowo Laksono menyebut, harga tembaga turun karena permintaan dari China anjlok. Padahal, China adalah konsumen terbesar tembaga dan menyerap setengah dari pasokan tembaga global, yang diperkirakan sekitar 25 juta ton pada 2022.

Perlambatan ekonomi China membuat pelemahan harga tembaga masih bisa berlanjut. Wahyu memprediksi, harga tembaga akan berkisar di US$ 6.000-US$ 10.000 per ton hingga tahun depan. 

Aluminium

Layaknya tembaga, harga aluminium juga mengalami penurunan sepanjang tahun ini. Per Selasa (25/10), harga tembaga turun 21,1% menjadi US$ 2.215 per ton. 

Baca Juga: Program Hilirisasi Mineral Cukup Berhasil, Tapi Serapan di Dalam Negeri Masih Lesu

Kondisi aluminium cukup pelik lantaran pasokan aluminium dari Rusia cukup besar. Padahal negara ini terkena sanksi ekonomi. Tambah lagi, permintaan juga turun. Hingga Jumat (21/10), stok aluminium di gudang LME melonjak 65.825 ton menjadi 433.025 ton. 

Sutopo memperkirakan, harga aluminium belum akan berubah hingga akhir tahun nanti. Harga dapat menguji US$ 2.000-US$ 2.100 per ton. "Kekhawatiran resesi ekonomi dan perlambatan manufaktur menjadi penyebab utama penurunan harga aluminium," ujar dia.

Nikel 

Dari sejumlah komoditas logam industri, hanya nikel yang masih mencatatkan penguatan harga sepanjang tahun ini. Berdasarkan data Bloomberg, hingga Selasa (25/10), harga nikel menguat 7,54% ke US$ 22.322 per ton.

Analis DCFX Futures Lukman Leong bilang, harga nikel masih naik karena didukung permintaan kendaraan listrik yang naik. Tapi, Lukman memperkirakan, harga nikel akan bergerak ke US$ 21.500 per ton di akhir tahun. "Harga nikel bisa tertekan keperkasaaan dollar AS dan resesi global," terang dia.

Namun harga nikel pada Juni 2023 diproyeksikan membaik, menuju ke US$ 25.000 per ton. Ini dengan asumsi ekspektasi kenaikan suku bunga mereda dan lockdown di China berkurang, sehingga permintaan naik.

Baca Juga: Investasi Asing Diperkirakan Tetap Tinggi Meski Ekonomi Global Terancam Resesi

Bagikan

Berita Terbaru

Asing Akumulasi ASII, Tekanan Otomotif Dinilai Masih Wajar
| Selasa, 14 April 2026 | 22:38 WIB

Asing Akumulasi ASII, Tekanan Otomotif Dinilai Masih Wajar

Penurunan market share otomotif ASII menjadi 49% memang memberi tekanan terhadap volume penjualan, tapi dampaknya terhadap laba relatif terbatas.

Harga Amonia serta Proyek SAF dan Blue Amonia Menyengat Saham ESSA
| Selasa, 14 April 2026 | 18:52 WIB

Harga Amonia serta Proyek SAF dan Blue Amonia Menyengat Saham ESSA

Proyeksi harga rata-rata amonia tahun ini pun diprediksi masih akan tinggi mengingat konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum usai.

SRBI Makin Menarik di 2026: Yield Naik, Asing Masuk Agresif
| Selasa, 14 April 2026 | 14:06 WIB

SRBI Makin Menarik di 2026: Yield Naik, Asing Masuk Agresif

Imbal hasil SRBI melesat hingga 5,76%, tertinggi sejak Agustus 2025. Waspada dampak pada suku bunga bank dan harga obligasi.

Mekar Sejak Juli, Kini Dana Kelolaan Reksadana Layu pada Maret 2026
| Selasa, 14 April 2026 | 12:00 WIB

Mekar Sejak Juli, Kini Dana Kelolaan Reksadana Layu pada Maret 2026

Penurunan tajam harga saham dan obligasi, menjegal tren pertumbuhan dana kelolaan industri. Masih bisa mekar di tengah dinamika pasar?

Jaga Pengeluaran biar WFH Tak Bikin Boncos
| Selasa, 14 April 2026 | 11:24 WIB

Jaga Pengeluaran biar WFH Tak Bikin Boncos

Kebijakan WFH bisa mengurangi berbagai pengeluaran. Bagaimana cara agar pengeluaran tak jebol saat WFH? 

Menelisik Dana Kelolaan Reksadana Kuartal Pertama Tahun 2026
| Selasa, 14 April 2026 | 10:33 WIB

Menelisik Dana Kelolaan Reksadana Kuartal Pertama Tahun 2026

Penyebab utama koreksi tentu saja perang Iran yang memicu kenaikan harga energi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi 15% di  Maret 2026.

Daya Beli Tercekik, Emiten Consumer Staples Dihantui Ancaman Pertumbuhan Semu!
| Selasa, 14 April 2026 | 09:30 WIB

Daya Beli Tercekik, Emiten Consumer Staples Dihantui Ancaman Pertumbuhan Semu!

Fokus utama emiten saat ini bukan lagi memburu pertumbuhan yang meroket, melainkan mempertahankan pangsa pasar.

Kinerja Tahun 2025 Menguat, Prospek Darya-Varia (DVLA) Pada 2026 Masih Sehat
| Selasa, 14 April 2026 | 08:29 WIB

Kinerja Tahun 2025 Menguat, Prospek Darya-Varia (DVLA) Pada 2026 Masih Sehat

Prospek PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) diproyeksi masih sehat, meski ada potensi kenaikan harga bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.​

Emiten Siap Membayar Dividen, Investor Bisa Mengalap Cuan
| Selasa, 14 April 2026 | 08:23 WIB

Emiten Siap Membayar Dividen, Investor Bisa Mengalap Cuan

Sejumlah emiten akan melakukan pembayaran dividen pada April ini​. Bagi para pemburu dividen, masih ada kesempatan untuk meraup cuan dividen.

Gencatan Senjata Ambyar, Pasar Saham Berdebar
| Selasa, 14 April 2026 | 08:15 WIB

Gencatan Senjata Ambyar, Pasar Saham Berdebar

Kekhawatiran pasar berpotensi meningkat pasca gagalnya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang.​

INDEKS BERITA

Terpopuler