Perusahaan Global Memprediksi Pasar China Loyo, Usai Lockdown Berkepanjangan

Kamis, 26 Mei 2022 | 16:57 WIB
Perusahaan Global Memprediksi Pasar China Loyo, Usai Lockdown Berkepanjangan
[ILUSTRASI. Seorang perempuan memakai masker pelindung mengendarai sepeda bersama di sebuah jalan yang ditutup saat penguncian, di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di Shanghai, China, Kamis (19/5/2022). REUTERS/Aly Song]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI/HONG KONG. Setelah melalui masa penguncian Covid-19 selama dua bulan, ekonomi China berjalan bak orang yang sempoyongan. Tidak cuma mencekik rantai pasokan global, lockdown di China, menurut para pebisnis, akan memperlambat penjualan karena konsumen di China mengerem belanja mereka.

Penjualan mobil di pasar mobil terbesar di dunia itu melambat secara dramatis. Gamer membeli lebih sedikit konsol. Konsumen juga enggan mengganti smartphone, laptop, dan TV yang ada karena periode lockdown yang berkepanjangan mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Tentu, daya beli merosot.

"Penguncian yang dilakukan China saat ini memiliki implikasi terhadap penawaran dan permintaan," kata Colette Kress, kepala keuangan di produsen chip terkemuka Nvidia. Produsen chip Amerika Serikat itu memproyeksikan pembatasan di China menggerus nilai penjualan game hingga US$ 400 juta 

"Anda menyaksikan kota-kota yang sangat besar harus melalui penguncian penuh. Mereka akan sangat fokus terhadap hal-hal penting. Itu akan memengaruhi permintaan terhadap produk kami."

Baca Juga: Pfizer Janjikan Penjualan Obat Paten dengan Harga Nirlaba di Negara-Negara Miskin

Sejalan dengan pendekatan nol-Covid yang diterapkan China, Beijing yang memiliki 22 juta penduduk, telah membatasi kehadiran di tempat kerja. Shanghai, pusat komersial negara itu, dan banyak kota raksasa lainnya juga dibelenggu oleh penguncian sebagian atau pembatasan lainnya.

Penjualan ritel di bulan April menyusut 11,1% dalam basis tahunan, setelah turun 3,5% di bulan Maret. UBS dan J.P. Morgan menurunkan perkiraan pertumbuhan produk domestisk bruto China untuk setahun penuh masing-masing menjadi 3% dan 3,7% awal pekan ini. 

Perdana Menteri Li Keqiang pada Rabu mengatakan China akan berusaha untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang wajar pada kuartal kedua, sekaligus membendung laju kenaikan pengangguran. Kabinet juga mengumumkan kredit pajak yang lebih luas dan menunda pembayaran jaminan sosial serta pembayaran pinjaman untuk mendukung ekonomi terbesar kedua di dunia itu. 

Baca Juga: Fokus Mencetak Laba, Grab Rombak Lini Bisnis Fintech yang Selama Ini Merugi

Grup e-commerce JD.com Inc mengatakan pekan lalu situasi Covid-19 di China saat ini jauh berbeda dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Di masa lalu, wabah terbatas pada area yang lebih kecil dan arus belanja online malah meningkat. 

"Pada bulan April, tingkat pembatalan pesanan secara signifikan lebih tinggi dari tahun lalu karena gangguan logistik. Ada peningkatan pada Mei, tetapi masih lebih tinggi dari tahun sebelumnya," kata CEO JD.com Xu Lei.

"Konsumen menghadapi kehilangan pendapatan dan kepercayaan, dan konsumsi secara keseluruhan lamban," imbuh Xu.

Pasar otomotif juga tidak lepas dari pukulan lockdown. Setelah mengalami pertumbuhan yang luar biasa selama bertahun-tahun, para pembuat mobil global kini menghadapi permintaan yang lesu. Tesla yang masih harus berjuang untuk mengembalikan produksinya ke tingkat pra-pandemi hampir, menyaksikan pasarnya di China nyaris musnah bulan lalu. 

Penjualan mobil ritel untuk tiga minggu pertama bulan Mei memang mulai membaik, dengan naik 34% dari periode yang sama di bulan April. Namun angka penjualan 16% lebih rendah dari tahun sebelumnya, dengan data yang diterbitkan Asosiasi Mobil Penumpang China pada Rabu. Asosiasi pun meminta lebih banyak dukungan dari pemerintah. 

Badan industri itu mengatakan penurunan pendapatan akibat Covid-19 menekan penjualan. Itu bahkan terjadi di beberapa bagian China yang tidak mengalami lockdown.

Lenovo, pembuat PC terbesar di dunia, pada Kamis melaporkan pertumbuhan pendapatan kuartalan paling lambat dalam tujuh kuartal terakhir. Permintaan untuk personal computer berkurang setelah mengalami peningkatan selama dua tahun terakhir akibat pandemi.

Pengiriman PC China, termasuk desktop, notebook dan workstation, turun 1% pada periode Januari-Maret. Tren yang berlangsung selama tujuh kuartal terakhir secara beruntun telah berakhir, demikian pernyataan perusahaan data pasar Canalys pada Kamis.

Baca Juga: Taipei Menggerebek 10 Perusahaan China yang Dicurigai Memburu Insinyur Chip Taiwan

Tencent, yang merupakan perusahaan paling bernilai di China, mencatat kinerja kuartalan terburuk sejak go public pada tahun 2004. Perusahaan itu menyalahkan pemotongan belanja iklan oleh konsumen, e-commerce dan bisnis perjalanan.

Pemasok Apple, Foxconn, memperingatkan bahwa permintaan ponsel pintar di China sedang menurun, dan negara tersebut, yang baru-baru ini menjadi kiblat bagi pembuat barang mewah seperti LVMH, telah mengalami penurunan penjualan barang mewah.

"Bahkan ketika China keluar dari isolasi, kebangkitan kembali tidak akan secepat dan secepat yang kita lihat di Eropa dan Amerika Serikat," Johann Rupert, Ketua perusahaan Swiss Richemont mengatakan pekan lalu.

Bagikan

Berita Terbaru

Yield Global Tinggi Bikin Waswas, Bentengi Portofolio Investasi
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 15:30 WIB

Yield Global Tinggi Bikin Waswas, Bentengi Portofolio Investasi

Kenaikan yield global, harga minyak dan risiko bubble saham AI, bikin pasar investasi kian penuh ketidakpastian. Bagaimana investor menyikapi?

Jurus Hadapi Kesalahan Finansial Anak
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:37 WIB

Jurus Hadapi Kesalahan Finansial Anak

Simak langkah yang bisa orangtua lakukan saat anak melakukan kesalahan keuangan.                     

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:33 WIB

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi

Sejak awal tahun hingga 12 Oktober 2026, baru ada tujuh emiten melantai di BEI, dengan total dana yang dihimpun Rp 2,16 triliun. 

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:28 WIB

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok

Saham-saham big caps rontok pada perdagangan Senin (12/10) akibat rumor sanksi OJK terhadap sejumlah emiten.

 

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:12 WIB

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600

Dalam penawaran ini, PT Astra International Tbk (ASII) berencana membeli saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) paling banyak 238.442.293 lembar.

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:04 WIB

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar

 PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membagikan dividen interim sebesar Rp 30,75 miliar dari buku tahun 2026.

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:19 WIB

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara

Sekitar separuh menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) telah terhubung dengan jaringan serat optik. 

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:53 WIB

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%

Bisnis jasa manufaktur atau maklon untuk industri kosmetik turut menambah pundi-pundi PT Martina Berto Tbk (MBTO). 

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Yang ditakutkan pasar, temuan manipulasi bisa memengaruhi perlakuan MSCI dan FTSE tepat menjelang keputusan November mendatang.

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membidik volume produksi minyak sawit mentah tumbuh 31% di sepanjang tahun ini

INDEKS BERITA

Terpopuler