Pilah Pilih Emiten Minyak Saat WTI dan Brent Volatil, Antara RAJA, MEDC dan ELSA

Senin, 14 Oktober 2024 | 09:30 WIB
Pilah Pilih Emiten Minyak Saat WTI dan Brent Volatil, Antara RAJA, MEDC dan ELSA
[ILUSTRASI. Sebuah gas flare di platform produksi minyak di ladang minyak Soroush terlihat di samping bendera Iran di Teluk Persia, Iran, 25 Juli 2005. REUTERS/Raheb Homavandi/File Foto]
Reporter: Muhammad Julian | Editor: Tedy Gumilar

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak bergerak melemah menjelang akhir pekan. Mengutip Reuters Jumat (11/10/2024), harga minyak mentah Brent berjangka turun 66 sen, atau 0,8%, menjadi US$ 78,74 per barel pada pukul 13.24 GMT, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate turun 65 sen, 0,9%, menjadi US$ 75,20 per barel. Maka, reli harga yang sempat membawa harga Brent ke level US$ 81,08 per barel dan WTI US$ 77,14 pada 8 Oktober 2024 lalu, terhenti sementara.

Di saat yang sama, sebagian besar emiten dengan portofolio bisnis hulu migas juga bergerak melemah dalam sepekan. Hanya PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang pergerakan harganya hijau dalam seminggu terakhir.

Pada penutupan perdagangan Jumat (11/10/2024), saham RAJA ditutup menguat ke level Rp 1.790 per saham. Dengan harga tersebut, harga saham RAJA telah naik 7,51% dalam sepekan.

Emiten milik Hapsoro Sukmonohadi alias Happy Hapsoro, itu memang tengah diliputi berbagai sentimen positif belakangan. Selain baru saja diguyur kabar positif ihwal pertumbuhan kinerja semester pertamanya yang baru diumumkan 23 September 2024 lalu, ada pula kabar baik soal proyek yang baru dikantongi konsorsium yang dipimpin oleh anak usahanya, yakni PT Petrotech Penta Nusa, di Kalimantan Timur.

Konsorsium yang beranggotakan PT Petrotech Penta Nusa, PT Citra Panji Manunggal dan PT Bakrie Pipe Industries ini baru menandatangani perjanjian penyediaan jasa pipanisasi BBM dengan PT Pertamina Patra pada 4 Oktober 2024 lalu.

Berbeda dengan RAJA, peers yang juga memiliki bisnis hulu migas, yakni PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan  PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), kompak menurun harga sahamnya dalam sepekan. 

Tercatat, harga ENRG telah turun 2,50% ke level Rp 234 per saham dalam sepekan pada Jumat (11/10/2024). Begitu pula dengan MEDC yang menjadwalkan cum date pada Jumat (11/10/2024). Harga emiten MEDC telah susut 4,58% dalam sepekan  pada Jumat (11/10/2024).

 

Sementara itu, pergerakan mayoritas emiten-emiten jasa penunjang migas justru pada hijau harganya dalam sepekan. Yang pertumbuhannya paling gemuk ialah PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD).

Dalam sepekan, harga LEAD telah tumbuh 22,12% dalam sepekan ke harga Rp 127 per saham. Emiten jasa lepas pantai tersebut memang sedang memiliki agenda korporasi.

Menurut rencana, LEAD hendak mengkonversi utang senilai US$ 20 juta atau setara dengan Rp 325,50 miliar dengan skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih (PMTHMETD) atau private placement.

Baca Juga: Pasokan dan Permintaan Tak Imbang, Harga Batubara Naik

Prospek harga minyak

Tidak ada yang tahu pasti, seperti apa harga minyak mentah ke depan bakal bergerak. Menurut beberapa pihak, bukan tidak mungkin bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah, yakni konflik Iran-Israel yang terjadi belakangan, menjadi pendongkrak kenaikan harga minyak mentah.

Badan Informasi Energi Amerika serikat alias Energy Information Administration (EIA) dalam laporan Short Term Energy Outlook (STEO) yang terbit 8 Oktober 2024 lalu menyebutkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah memunculkan kemungkinan kenaikan harga minyak mentah lebih lanjut.

Meski begitu, mengutip artikel berjudul How High Could the Oil Price Go? yang dimuat The Economist 10 Oktober 2024 lalu, menyebutkan bahwa gejolak di Timur Tengah memang bisa memicu oil shock. Hanya, dampaknya tidak sebesar efek konflik Rusia dan Ukraina yang dimulai 2,5 tahun lalu yang mendongkrak harga minyak mentah hingga menembus level US$ 120 per barel.

Ini lantaran sederet alasan. Saat Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 lalu, pasokan minyak mentah dunia sedang tipis. Ini diperparah dengan dilayangkannya sanksi embargo  terhadap minyak oleh negara-negara Eropa terhadap minyak mentah asal Rusia. Padahal tingkat permintaan sedang kembali bergairah seturut bangkitnya dunia dari pagebluk Covid-19. 

Berbeda dengan kondisi 2022 lalu, pasokan minyak mentah dunia saat ini lebih berlimpah. Alhasil, pasar lebih kuat dalam mengantisipasi oil shock. Ikhtiar The Organisation of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan aliansi untuk menjaga tingkat harga tetap tinggi dengan cara menahan produksi gagal. 

Kegiatan produksi minyak mentah Iran, kalaupun terganggu oleh konflik bersenjata melawan Israel, diperkirakan tidak berdampak terlalu signifikan bagi pasokan minyak mentah dunia. Ini lantaran kontribusi ekspor minyak mentah Iran yang hanya berkisar 2 juta barel per hari, lebih kecil dibandingkan misalnya Rusia yang ekspornya bisa mencapai 5 juta barel per hari.

Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani mengatakan, bahwa kenaikan harga minyak berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten produsen migas dan penunjang migas, seperti MEDC, ENRG, WINS, ELSA, dan LEAD.

“Dalam jangka yang lebih panjang, selain konflik geopolitik, prospek harga minyak akan dipengaruhi seberapa berhasil paket stimulus yang dikucurkan pemerintah China untuk memulihkan ekonominya, serta keberhasilan AS dalam menjinakkan inflasi dan membuat soft landing dalam ekonominya (meningkatkan permintaan minyak) dibandingkan potensi tambahan suplai dari rencana kenaikan produksi OPEC+,” ujar Hendriko dalam siaran pers (11/10/2024).

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat, mengatakan  bahwa pergerakan harga emiten sektor minyak dan penunjangnya biasanya selaras dengan pergerakan harga minyak mentah.

Itulah sebabnya, dengan masih adanya prospek harga minyak mentah untuk kembali naik, investasi di saham emiten minyak menjadi menarik. Hanya, baiknya investor baiknya masuk ketika harga minyak mentah mendekati titik terendahnya, yakni US$ 72 per barel.

Baca Juga: Sempat Diimingi Gas Murah, Kini Status HGBT KCC Glass Korsel Dicabut Bahlil Lahadalia

Saham pilihan

Untuk pilihan saham, Teguh berpendapat bahwa saham MEDC dan ELSA menjadi emiten minyak yang menarik untuk dikoleksi, selain juga PGAS.

“Secara valuasi tiga-tiganya bagus murah dan secara kinerja juga sebenarnya bagus jadi tinggal tunggu sentimen harga minyak itu saja,” ujar Teguh kepada KONTAN (8/10/2024).

Sejalan dengan omongan Teguh, kinerja MEDC memang sedang baik. Pendapatan dan laba bersihnya kompak tumbuh di paruh pertama 2024. Tercatat, pendapatan MEDC tumbuh 4,40% secara tahunan atau year on year (yoy) dari semula US$ 1,11 miliar di semester I 2023 menjadi US$ 1,16 miliar di semester I 2024.

Pertumbuhan kinerja bottom line-nya lebih besar lagi. Laporan keuangan interim MEDC menunjukkan, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih MEDC naik 68,24% yoy dari semula US$ 112,01 juta di semester I 2023 menjadi US$ 202,27 juta di semester I 2024.

Di sisi lain, rasio harga terhadap nilai buku alias price to book value ratio (PBVR) MEDC berada di posisi 1,05x menurut data RTI. Hitungan tersebut berdasar pada data ekuitas tanggal 30 Juni 2024.

Baca Juga: Menengok Penawaran Saham IPO DAAZ, Entitas Aserra Group yang Terafiliasi dengan APEX

Kinerja ELSA sama belaka. Baik kinerja pendapatan dan laba bersihnya sama-sama tumbuh. Tercatat, pendapatan ELSA naik 7,79% yoy dari semula Rp 5,86 triliun di semester I 2023 menjadi Rp 6,31 triliun di semester I 2024.

Sedang laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersihnya tumbuh 77,12% yoy dari Rp 250,10 miliar di semester I 2023 menjadi Rp 442,98 juta di semester I 2024.

Selain memiliki kinerja yang bertumbuh, PBVR ELSA masih di bawah 1, persisnya di angka 0,76x menurut data RTI. Hitungan tersebut berdasar pada data ekuitas tanggal 30 Juni 2024.

 

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 13:18 WIB

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?

Saat tren bunga tinggi, apakah saat yang tepat untuk mengambil KPR? Simak saran dari perencana keuangan.

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi
| Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00 WIB

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi

Saat ini revisi UU Sisdiknas belum mengatur mengenai putusan MK yang mewajibkan pemerintah menggratiskan biaya pendidikan dasar.

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing
| Rabu, 22 Juli 2026 | 09:08 WIB

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing

Di tengah optimisme terhadap proyek CA-EDC, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada strategi pendanaan yang dipilih TPIA.

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:32 WIB

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?

Kenaikan harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dipicu sentimen pasar dan aksi bargain hunting.

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:30 WIB

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie

Analis menilai penguatan serentak kelima saham Grup Bakrie tak lepas dari sentimen risk-on yang sedang menyelimuti pasar secara keseluruhan.

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:27 WIB

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat

Kerja sama ini memperluas distribusi, memperkuat rantai pasok emas  dan meningkatkan akses terhadap emas melalui pembiayaan syariah. 

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:08 WIB

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?

Rally saham  PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang telah berlangsung selama berbulan-bulan membuka peluang terjadinya profit taking.

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:58 WIB

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek.

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:19 WIB

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II

Perusahaan tetap berfokus merealisasikan target ekspansi yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni menambah 300–400 gerai baru sepanjang 2026.

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:14 WIB

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat

IHSG Rabu (22/7) masih berpeluang menguat, dengan level support 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.​

INDEKS BERITA

Terpopuler