Prospek Saham di Kuartal Terakhir 2021

Senin, 04 Oktober 2021 | 07:20 WIB
Prospek Saham di Kuartal Terakhir 2021
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Kinerja saham sepanjang kuartal ketiga tahun ini mulai positif. Ini antara lain ditunjukkan oleh pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 5,04% secara kuartalan dan indeks LQ45 yang naik 5,90% di periode yang sama.

Bandingkan dengan kinerja IHSG di kuartal dua tahun ini yang flat, sementara indeks LQ45 turun 6,42%. Bandingkan juga dengan kinerja di kuartal satu tahun ini, di mana IHSG naik 0,11% dan indeks LQ45 turun 3,43%.

Yang cukup menarik dari angka-angka ini adalah mulai positifnya indeks LQ45, setelah di dua kuartal sebelumnya mencetak kinerja negatif dan berseberangan dengan kinerja IHSG. Selanjutnya bagaimana prospek saham di kuartal empat tahun ini? Apakah tren positif di kuartal ketiga akan berlanjut ke kuartal keempat?

Jujur saja sebenarnya tidaklah mudah menjawab pertanyaan mengenai proyeksi kinerja saham, di tengah situasi pandemi yang tidak menentu. Namun penulis mencoba memberikan gambaran dari beberapa data, yang tentu saja bisa meleset karena faktor ketidakpastian yang masih besar akibat pandmei Covid-19.

Baca Juga: Investasi Saham Mulai Kembali Menghasilkan Cuan

Selain itu juga ada risiko global seperti tapering dan plafon utang di US yang diusulkan dinaikkan untuk menghindari gagal bayar. Lalu ada krisis utang Evergrande, plus kenaikan harga komoditas.

Namun ada sisi positif yang menaikkan rasa optimisme kita menyongsong perbaikan ekonomi, sejalan dengan meredanya kasus aktif Covid-19, yang juga diikuti dengan peningkatan vaksinasi serta relaksasi pembatasan sosial. Perdagangan luar negeri Indonesia juga melonjak di periode Agustus 2021, akibat naiknya ekspor hingga 20,9% secara bulanan dan 44,4% secara tahunan. Ini seirama dengan permintaan global yang solid dan kenaikan harga komoditas.

Indeks Kepercayaan Bisnis juga naik ke 18,98 poin di semester kedua dari 4,50 pada kuartal I-2021. IMF pun memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sepanjang tahun 2021 ini mencapai 3,9% dan tahun depan menjadi 5,9%.

Angka pembelian bersih (net buy) saham oleh investor asing di pasar reguler mulai terjadi. Total net buy investor asing mencapai Rp 15,22 triliun di periode kuartal tiga tahun ini.

Baca Juga: Eyang Ratman Ada di Kelas Investasi IFEF 2021, Bahas Tema Menjadi Trader & Investor

Berbekal penanganan pandemi yang membaik, salah satu cara menghitung target return yang relatif mudah dan umum dipakai ialah dengan memperkirakan price earning ratio (PER) dari indeks LQ45. Berdasar data dari Infovesta, PER indeks LQ45 per akhir kuartal III-2021 ada di posisi 19,31 kali, atau sekitar 1 standar deviasi lebih tinggi dari rata-rata PER indeks LQ45 di periode lima tahun terakhir.

Dari data bursa, indeks LQ45 ada di posisi 894,68 pada penutupan perdagangan di akhir September lalu. Sehingga laba bersih per sahamnya adalah 894,68 dibagi 19,31, yaitu sebesar 46,34.

Jika PER bisa mencapai +1,25 Standar Deviasi di 20,86 kali dan asumsi EPS konstan, maka indeks LQ45 berpotensi melaju ke 20,86 dikali 46,34, yaitu di level 966,54. Dengan demikian, ada potensi kenaikan sebesar 8,0% sepanjang kuartal empat tahun ini.

Untuk data IHSG yang meliputi perhitungan seluruh saham di bursa, hampir tidak ada yang sanggup menghitung, karena jumlah emiten yang lebih dari 750 perusahaan sangat menyulitkan. Sehingga diambil proxy, yaitu indeks LQ45 sebagai pendekatan. Dengan demikian, jika di asumsikan kenaikan IHSG sama seperti indeks LQ45, maka target IHSG pada akhir tahun adalah di sekitar level 6.792.

Cara lain adalah dengan menghitung rata-rata return bulanan indeks LQ45 selama Oktober, November dan Desember. Dengan mengambil data 10 tahun terakhir, dengan rata-rata return Oktober sebesar 3,25% dibanding bulan sebelumnya, November turun 0,51% dan Desember naik 3,64% secara bulanan, maka bisa dihitung return akumulasinya, yaitu 6,46%.

Baca Juga: Emiten Saham Mewaspadai Kenaikan Harga Energi

Jika kita memakai data rata-rata return bulanan dari IHSG, yaitu 2,46% secara bulanan selama Oktober, turun 0,45% di November dan di Desember masih naik 3,23% secara bulanan, didapat potensi akumulasi kenaikan sebesar 5,29%.

Dari kedua metode sederhana itu, tampaknya lebih konservatif jika memakai data historis return bulanan. Sehingga bila memakai asumsi kisaran potensi return 5%-6% selama kuartal empat, IHSG berpeluang menyentuh level 6.436-6.508 di akhir tahun, angka yang relatif lebih kecil dibanding konsensus sejumlah sekuritas yang mencapai 6.800, yang notabene mirip perhitungan menggunakan metode PER.

Yang perlu dipahami investor, potensi return ini sangat tergantung asumsi yang belum tentu terjadi. Misalnya perubahan kondisi tahun ini yang ekstrem akibat pandemi, dan asumsi bahwa hingga akhir tahun ini tidak terjadi gelombang selanjutnya dari penyebaran Covid-19.

Periode investasi jangka pendek memang berisiko tinggi, terlebih di saat pandemi dan belum pulihnya ekonomi. Sehingga disarankan untuk menggunakan dana yang benar-benar menganggur.

Selanjutnya: Boeing Dikabarkan Siap Merilis Pesawat Berbadan Lebar 787 Dreamliner

 

Bagikan

Berita Terbaru

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas
| Senin, 06 April 2026 | 07:23 WIB

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas

Selesainya program peningkatan transparansi, integritas dan kredibilitas informasi kepemilikan saham dalam waktu cukup singkat hanya dua bulan. 

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar
| Senin, 06 April 2026 | 07:05 WIB

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar

Lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar ru[iah diperkirakan akan mengerek biaya impo 

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 06 April 2026 | 07:03 WIB

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Bersamaan minggatnya asing, kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) mencapai Rp 17.015 per dolar AS. Paling buruk sepanjang sejarah. 

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat
| Senin, 06 April 2026 | 06:43 WIB

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat

Segmen bisnis obat resep berkontribusi ke pendapatan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada 2025. Segmen ini tumbuh 11,00% yoy jadi Rp 10,24 triliun. ​

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah
| Senin, 06 April 2026 | 06:40 WIB

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah

Risiko terbesarnya adalah gagal panen yang berujung pada kerugian petani akibat biaya produksi tidak kembali dan turunnya pendapatan

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi
| Senin, 06 April 2026 | 06:37 WIB

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi

Pemerintah akan menerbitkan aturan rusun bersubsidi sehingga bisa mempercepat pembangunan dan mengejar target 3 juta rumah

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli
| Senin, 06 April 2026 | 06:36 WIB

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli

Emiten properti masih menemukan tantangan di 2026 akibat kondisi geopolitik. Ini memicu ketidakpastian ekonomi, yang bisa menurunkan daya beli.​

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol
| Senin, 06 April 2026 | 06:32 WIB

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol

USGBC merupakan organisasi nirlaba internasional yang mewakili produsen dan pemangku kepentingan industri biji-bijian

Saham Emiten Rumahsakit Diprediksi Cuan di 2026, Ini Pendorong Utamanya
| Senin, 06 April 2026 | 06:30 WIB

Saham Emiten Rumahsakit Diprediksi Cuan di 2026, Ini Pendorong Utamanya

Beban depresiasi, rupiah lemah, dan tarif BPJS tipis bisa menekan profit. Pahami risiko sebelum berinvestasi di saham RS

WIKA Masih Bukukan Rugi Jumbo Rp 9,7 Triliun
| Senin, 06 April 2026 | 06:29 WIB

WIKA Masih Bukukan Rugi Jumbo Rp 9,7 Triliun

WIKA mengantongi kontrak baru Rp 17,46 triliun, yang mendongkrak total kontrak berjalan (order book) hingga menyentuh angka Rp 50,52 triliun

INDEKS BERITA

Terpopuler