Raih Kontrak dari Filipina, WTON Revisi Target 2019

Sabtu, 16 Maret 2019 | 08:16 WIB
Raih Kontrak dari Filipina, WTON Revisi Target 2019
[]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) memproyeksikan target kontrak tahun ini bisa lebih tinggi 10% dibanding target yang telah dipatok perusahaan pada awal tahun ini. Semula, WTON menetapkan target kontrak tahun ini sebesar Rp 9,07 triliun.

Alasannya, perusahaan bakal mendapatkan kontrak anyar dari luar negeri. Yushadi, Manajer Investor Relation PT Wijaya Karya Beton Tbk menyebutkan, kontrak dari luar negeri yang didapatkan dari perusahaan di Filipina, itu merupakan kontrak di luar target perusahaan tahun ini.

Alhasil, kontrak tersebut akan meningkatkan target kontrak baru yang dipatok perusahaan di awal tahun. "Sebesar 5% (peningkatannya)," katanya saat dihubungi KONTAN, Jumat (15/3).

Menurut Yushadi, kontrak dari Filipina ini didapat dari hasil kolaborasi dengan dua badan usaha milik negara (BUMN) dan satu anak BUMN. "BUMN itu Inka dan Pindad, serta Wijaya Karya Beton ikut memasok untuk bantalan," terangnya.

Adapun kontrak tersebut merupakan pekerjaan pemasangan rel kereta api. Untuk tahap pertama, pengerjaan proyek sepanjang 150 kilometer (km). Yushadi menuturkan, saat ini, pihaknya masih dalam tahapan negosiasi. Alhasil, nilai pasti dari kontrak tersebut belum final.

Yushadi memproyeksikan, nilai kontrak asal luar negeri itu sekitar Rp 200 miliar hingga Rp 400 miliar. Namun, nilainya bisa berubah lantaran kebutuhan pembangunan rel di negara itu mencapai 400 kilometer (km). Tahap pembangunannya paling cepat dimulai pada semester II-2019.

Bermisi untuk mengembangkan pasar di Asia Tenggara, selain Filipina, emiten ini juga mengincar kontrak dari Singapura. Sayang, Yushadi belum mau buka-bukaan tentang rencana ekspansi dan nilai kontrak dari negeri jiran tersebut.

Soalnya, proyek di Singapura itu masih ada peluang digeser oleh pesaing. "Kami khawatir, kalau kami bilang sudah dapat, tiba-tiba pesaing lain masuk dan menawarkan harga yang lebih murah," akunya.

Yang terang, Wijaya Karya bakal mengirimkan box gilder untuk proyek dan lokasi yang belum bisa disebutkan itu. Sementara ini, perusahaan tidak menyediakan anggaran khusus untuk pengerjaan proyek di Singapura. Pertimbangannya, belum ada kepastian penandatangan kontrak lantaran belum diputuskan sebagai pemenang tender.

Selain Filipina dan Singapura, Yushadi menambahkan, pihaknya saat ini telah menerima pernyataan ketertarikan dari Bangladesh untuk menggunakan jasa Wijaya Karya Beton pada proyek-proyek yang tengah dibangun di negara itu. "Sudah dikatakan oleh mereka (Bangladesh) bahwa mereka tertarik untuk menggunakan jasa kami," klaim Yushadi.

Mengenai kinerja, anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) ini menargetkan pendapatan naik 16% menjadi Rp 8 triliun dan laba bersih bisa menembus Rp 560 miliar. Tahun ini, WTON menargetkan bisa meraih kontrak baru Rp 9 triliun atau tumbuh sekitar 18% dari tahun lalu.

Bagikan

Berita Terbaru

Percepatan Penyaluran FLPP Menjadi Katalis Pendorong Kinerja BBTN
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 20:50 WIB

Percepatan Penyaluran FLPP Menjadi Katalis Pendorong Kinerja BBTN

Prospek BBTN masih cukup positif, tetapi akan bergantung pada percepatan FLPP, kondisi pendanaan, dan kualitas aset.

Indeks Keyakinan Konsumen Menurun, Pola Konsumsi Jadi Faktor Penentu Sektor Ritel
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 16:21 WIB

Indeks Keyakinan Konsumen Menurun, Pola Konsumsi Jadi Faktor Penentu Sektor Ritel

Penurunan tipis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 ke level 118,1 dari 118,5 menempatkan persepsi masyarakat di zona optimistis.

Perdagangan Obat di Minimarket Diperketat, Bagaimana Dampaknya ke Emiten Farmasi?
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Perdagangan Obat di Minimarket Diperketat, Bagaimana Dampaknya ke Emiten Farmasi?

Emiten farmasi besar seperti KLBF, KAEF, SIDO dan TPSC masih memiliki banyak pilihan kanal distribusi sehingga tidak bergantung dengan minimarket.

Ada Perpindahan Dana, Total Kelolaan Industri Reksadana Turun pada September 2026
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 12:02 WIB

Ada Perpindahan Dana, Total Kelolaan Industri Reksadana Turun pada September 2026

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total dana kelolaan reksadana pada September 2026 tercatat sebesar Rp 641,10 triliun.

Pengembangan Industri Pusat Data di Kawasan Barelang
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 08:46 WIB

Pengembangan Industri Pusat Data di Kawasan Barelang

Industri ini membutuhkan dukungan utilitas dan konektivitas yang kuat, mulai dari pasokan listrik, air, jaringan telekomunikasi,

11 Proyek Hilirisasi  Rp 180 Triliun Diresmikan
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 08:38 WIB

11 Proyek Hilirisasi Rp 180 Triliun Diresmikan

Presiden Prabowo Subianto menyebut realisasi investasi di Kawasan IWIP mencapai lebih dari US$ 20 miliar

Beragam Respons Parpol di Parlemen
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 08:28 WIB

Beragam Respons Parpol di Parlemen

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menuturkan, tindak lanjut putusan MK akan berada di ranah politik

Internet Rakyat WIFI Sudah Jangkau 3,1 Juta Konsumen
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 07:46 WIB

Internet Rakyat WIFI Sudah Jangkau 3,1 Juta Konsumen

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge telah mengaktifkan lebih dari 3.100 site IRA–Internet Rakyat dalam tujuh bulan pada 2026. 

APEX Siap Eksekusi Private Placement 218 Juta Saham
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 07:43 WIB

APEX Siap Eksekusi Private Placement 218 Juta Saham

Dalam private placement, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) akan menerbitkan 218,09 juta saham Seri B. Nilai nominal Rp 325 per saham. ​

Jhonlin Baratama Tuntaskan Proses Akuisisi BYAN, Begini Rinciannya
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 07:37 WIB

Jhonlin Baratama Tuntaskan Proses Akuisisi BYAN, Begini Rinciannya

Haji Isam menuntaskan transaksi pembelian 10,08 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low pada 7 Oktober 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler