Respons Tak Relevan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai penyedia indeks acuan bagi para pemodal dunia, wajar jika Morgan Stanley Capital International (MSCI) mencermati situasi perdagangan di banyak negara. Agar indeksnya bisa menjadi panduan bagi pengelola dana global, terutama passive fund, tak aneh MSCI mempersoalkan kelayakan investasi saham di suatu negara.
Dalam konteks menilai investability itulah, MSCI sejak dua-tiga tahun lalu mempersoalkan transparansi kepemilikan dan governance yang rendah, hingga akhirnya berujung ke coordinated trading. Puncak dari "kerewelan" MSCI adalah mengajukan usulan mereklasifikasi pasar saham Indonesia ke kategori stand alone. Ini artinya, saham-saham Indonesia tidak lagi disertakan dalam indeks acuan mereka.
Apa yang menjadi usulan MSCI, akan memicu dampak ke pasar modal lokal, karena besarnya peranan dana asing dalam menggerakkan harga saham di sini, Jangankan usul memindahkan kelas Indonesia ke stand alone, aksi MSCI membekukan perubahan saham yang menjadi konstituen indeksnya saja, mampu membuat harga sejumlah saham karam hingga batas terdalam selama beberapa hari. Situasi ini terjadi pada Januari lalu.
Tak heran beragam respons sontak muncul membuntuti wacana terbaru MSCI. Suara negatif paling kencang gaungnya. Celakanya, tanggapan minor ini tak cuma datang dari rakyat yang tanpa kuasa, tetapi juga dari kaum elit di negeri ini.
Tuduhan berbau teori konspirasi yang dilempar elit di negeri ini atas usulan MSCI sesungguhnya menyedihkan. Karena itu bisa diartikan bahwa mereka yang punya otoritas tidak punya kemauan, atau kemampuan, untuk memperbaiki iklim investasi di pasar keuangan negeri ini. Misi yang seharusnya berada di tangan para pejabat negeri ini, bukan MSCI apalagi pemodal asing.
Bahwa MSCI mengusulkan stand alone untuk pasar Indonesia menunjukkan bahwa lembaga itu siap untuk tak lagi menganggap Indonesia relevan. Demikian juga dengan para pengelola dana pasif. Kenyataannya, bobot saham Indonesia di indeks MSCI sudah lenyap duapertiga sepanjang tahun ini.
Sebaliknya, apakah elit di sini sudah siap dengan situasi yang mungkin terjadi jika Indonesia pindah kasta? Satu skenario buruk yang sangat mungkin terjadi kurs dolar akan terbang karena dana asing yang tadinya parkir di saham-saham Indonesia, yang nilainya diperkirakan paling tidak US$ 3 miliar, harus keluar dalam jangka waktu sekitar satu-dua bulan.
