Rights Issue, Fitch Beri Rating Watch Positif Pada Lippo Karawaci (LPKR)

Selasa, 19 Maret 2019 | 17:58 WIB
Rights Issue, Fitch Beri Rating Watch Positif Pada Lippo Karawaci (LPKR)
[]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana rights issue yang akan dilakukan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dinilai positif oleh lembaga pemeringkat utang. Setelah sebelumnya Moody's menaikkan outlook Lippo Karawaci menjadi stabil dari sebelumnya negatif, kini Fitch Ratings menempatkan peringkat rating watch positif (RWP) untuk Lippo Karawaci.

Peringkat mata uang lokal dan mata uang asing ditetapkan di CCC+ dengan rating watch positif. Sementara itu, peringkat nasional jangka panjang berada di BB-(idn) dengan rating watch positif. 

Rating watch positif ini menyusul pengumuman pada 12 Maret 2019 lalu mengenai rencana penerbitan saham sebesar US$ 730 juta serta penjualan aset US$ 280 juta yang akan diselesaikan di tahun ini. "Fitch percaya bahwa tambahan ekuitas baru akan memberikan likuiditas yang substansial kepada Lippo setidaknya hingga akhir 2020," ujar analis Fitch, Selasa (19/3). 

Fitch akan meninjau RWP ketika rights issue ini telah dilakukan. Setelah itu, Fitch kemungkinan dapat meningkatkan peringkat IDR Lippo Karawaci sebesar satu notch ke B- dan peringkat nasional jangka panjang hingga dua notch ke BB+(idn). 

Lippo telah mendapatkan conditional sale and purchase agreement untuk menjual Puri Mall sebesar US$ 200 juta. Walaupun dana yang didapatkan dapat memberikan Lippo tambahan likuiditas selama setahun hingga akhir 2021, penjualan tersebut dengan sendirinya tidak akan meningkatkan profil kredit perusahaan diatas 'B-'/'BB+(idn)'. Tindakan pemeringkatan yang lebih lanjut akan bergantung dari kemampuan Lippo menaikkan prapenjualan.

Dengan rights issue ini, Fitch juga menilai Lippo akan memiliki kapasitas finansial untuk menjalankan kembali rencana perusahaan, membayar beban bunga, dan utang jatuh tempo.

Kemampuan Lippo untuk meningkatkan arus kas operasional pada tingkat standalone perusahaan, yaitu tidak termasuk anak usaha kuncinya PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), akan bergantung pada keberhasilan penawaran perumahan yang terjangkau. Selain itu, peringkat juga akan bergantung dengan kemampuan untuk mendorong pertumbuhan volume penjualan yang tinggi, walaupun terdapat risiko eksekusi dalam jangka pendek.

Peringkat nasional di kategori 'BB' menunjukkan risiko gagal bayar yang meningkat dibandingkan emiten atau surat utang lainnya di Indonesia. Dalam konteks dalam negeri, pembayaran tidak dapat dipastikan hingga taraf tertentu dan kapasitas untuk membayar secara tepat waktu akan lebih rentan terhadap variasi perubahan kondisi ekonomi.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penggerak peringkat Lippo Karawaci. Pertama, soal pendanaan dan cadangan lahan. Fitch memperkirakan, dengan tersedianya likuiditas setelah rights issue, Lippo akan fokus ke cadangan tanah perusahaan yang besar seluas 1.297 hektare di lokasi yang atraktif.

Lippo juga berencana untuk memenangkan kembali kepercayaan pembeli dan meningkatkan prapenjualan properti dengan mempercepat penyelesaian dari persediaan atau proyek yang ada di 2019, dengan investasi sebesar US$ 100 juta. Selain itu, perusahaan ini akan mulai meluncurkan proyek baru, dengan fokus pada hunian bertingkat dengan kepadatan tinggi dan harga terjangkau, dari 2020. 

Kedua, arus kas operasional yang lebih tinggi. Lippo memperkirakan pendapatan dividen yang lebih tinggi dari anak-anak perusahaan dari 2021 dan beban bunga yang lebih rendah menyusul pembayaran utang untuk mengurangi setengah dari defisit arus kas operasional (CFFO) pada tingkat induk perusahaan standalone ke sekitar Rp 1 triliun.

Ketiga, investasi pada Meikarta. Rencana Lippo untuk investasi sebesar US$ 200 juta dari dana rights issue untuk proyek Meikarta yang tertunda tidak akan meningkatkan arus kas di tingkat standalone dalam jangka pendek. Namun, investasi ini dapat menumbuhkan kembali kepercayaan publik terhadap Lippo

Keempat, Fitch melihat penawaran tender Lippo untuk buy back sebagian dari obligasi tanpa jaminan di 2022 dan 2026 sebagai oportunistik dan bukan sebagai distressed debt exchange. Penawaran untuk buy back obligasi ada di bawah nilai par, tetapi penerimaan dari penawaran tersebut tidak bergantung dari tingkat minimum penerimaan dari pemegang obligasi dan penawaran tidak termasuk penggantian pada covenant. Terlebih lagi, buy back tersebut dengan sendirinya tidak cukup besar bagi Lippo untuk mencegah default pada obligasi tahun 2022nya.

Terakhir, soal penjualan Puri Mall. Menurut Fitch, penjualan Puri Mall akan bergantung pada risiko pasar yang material. Karena itu, Fitch tidak memasukan penjualan tersebut dalam proyeksi 2019 dan 2020.

Fitch mengekspektasikan likuiditas akan meningkat secara signifikan pada akhir Maret 2019, menyusul diterimanya uang muka sebesar US$ 280 juta dari promotor dan pemegang saham yang tidak dapat dikembalikan dan tidak berbunga. Penerimaan uang muka tersebut tidak bergantung dari suksesnya rights issue yang direncanakan, walaupun ini termasuk dari bagian rights issue promotor apabila disetujui dalam rapat pemegang saham di April 2019.

Lippo berencana untuk menggunakan uang muka tersebut untuk membayar utang bank sebesar US$ 50 juta yang akan jatuh tempo April 2019 dan memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan. Apabila rights issue sukses, Lippo juga akan membayar obligasi senior tanpa jaminan sebesar US$ 75 juta ketika jatuh tempo di 2020.

Refinancing untuk obligasi tanpa jaminannya sebesar US$ 410 juta dengan kupon 7% dan jatuh tempo pada 2022 akan bergantung dari kemampuan perusahaan untuk meningkatkan prapenjualan propertinya menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Pemerintah Siapkan Pembelaan Tuduhan AS
| Rabu, 15 April 2026 | 11:00 WIB

Pemerintah Siapkan Pembelaan Tuduhan AS

Pemerintah akan menyerahkan dokumen submission comment paling lambat 15 April 2026                  

Geser Strategi dan Menggenjot 5G, EXCL Berpeluang Besar Mencetak Laba
| Rabu, 15 April 2026 | 10:13 WIB

Geser Strategi dan Menggenjot 5G, EXCL Berpeluang Besar Mencetak Laba

Tekanan terhadap bottom line masih bersifat sementara dan mencerminkan fase transisi menuju efisiensi operasional.

ADB Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Stabil di 5,2%
| Rabu, 15 April 2026 | 09:54 WIB

ADB Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Stabil di 5,2%

Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI oleh ADB masih di bawah target pemerintah yang sebesar 5,4% pada tahun ini

Target Tax Ratio 2026 Masih Sulit Tercapai
| Rabu, 15 April 2026 | 09:47 WIB

Target Tax Ratio 2026 Masih Sulit Tercapai

Presiden Prabowo Subianto ingin rasio pajak alias tax ratio Indonesia pada tahun ini mencapai 13%   

Ongkos BI untuk Angkat Rupiah Makin Mahal
| Rabu, 15 April 2026 | 09:15 WIB

Ongkos BI untuk Angkat Rupiah Makin Mahal

Bank Indonesia mengintensifkan frekuensi lelang hingga mengerek imbal hasil SRBI                    

Fundamental Rentan, Rupiah Kian Terbenam
| Rabu, 15 April 2026 | 08:32 WIB

Fundamental Rentan, Rupiah Kian Terbenam

Rupiah menyentuh rekor terburuk Rp17.127 per dolar AS. Pelemahan bukan hanya karena perang, tetapi rapuhnya fondasi domestik. 

Mengangkat Indeks, Menarik Asing, tetapi Terus Dicurigai
| Rabu, 15 April 2026 | 08:10 WIB

Mengangkat Indeks, Menarik Asing, tetapi Terus Dicurigai

Berbagai instrumen pengawasan, notasi, penghentian sementara, dan parameter teknis kerap hadir tanpa penjelasan yang memadai.

Cadangan Devisa Turun, Ketahanan Fiskal Mengkhawatirkan, Cek Proyeksi Rupiah Hari Ini
| Rabu, 15 April 2026 | 07:54 WIB

Cadangan Devisa Turun, Ketahanan Fiskal Mengkhawatirkan, Cek Proyeksi Rupiah Hari Ini

Di domestik, pasar tertuju pada data fundamental dan persepsi ketahanan fiskal Indonesia. Ini mempengaruhi gerak rupiah.

Waspadai Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (15/4)
| Rabu, 15 April 2026 | 07:24 WIB

Waspadai Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (15/4)

Hari ini, investor perlu mewaspadai  potensi profit taking dalam jangka pendek. Mengingat kondisi IHSG yang sudah memasuki area overbought.

Legalisasi Rokok Ilegal Harus Dikaji Lebih Cermat
| Rabu, 15 April 2026 | 07:21 WIB

Legalisasi Rokok Ilegal Harus Dikaji Lebih Cermat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta produsen rokok ilegal beralih menjadi legal paling lambat Mei 2026

INDEKS BERITA

Terpopuler