Semester II 2019, Buyung Poetra Sembada (HOKI) Mengandalkan Pasokan Beras Luar Jawa

Rabu, 10 Juli 2019 | 06:48 WIB
Semester II 2019, Buyung Poetra Sembada (HOKI) Mengandalkan Pasokan Beras Luar Jawa
[]
Reporter: Agung Hidayat | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai perusahaan yang mengandalkan produk pertanian berupa beras, PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) tidak cuma konsentrasi di pemasaran. Perusahaan itu juga mesti piawai mempertimbangkan musim panen. Pada semester II-2019 ini, emiten anggota indeks Kompas100 ini justru mengandalkan pasokan beras dari luar Jawa.

Secara historis, Buyung Poetra menandai jika produksi beras di Jawa pada paruh kedua tidak akan akan setinggi masa panen raya yang terjadi pada semester I. Biasanya, perusahaan berkode saham HOKI di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut kemudian mengandalkan pasokan beras dari Sulawesi Selatan dan Sumatra Selatan.

Buyung Poetra selalu berupaya mengatur keberlanjutan rantai pasokan. Selama ini, mereka tidak bergantung pada satu daerah atau satu pemasok. "Supaya dapat menjaga persediaan yang sesuai dengan aturan pemerintah dan selebihnya bisa pesan dari daerah-daerah yang masih mempunyai suplai beras," ujar Ferdinand Dion, Investor Relations PT Buyung Poetra Sembada Tbk kepada KONTAN, Selasa (9/7).

Sejauh ini, kemampuan pengolahan beras Buyung Poetra masih dalam batas normal alias tidak ada kelebihan kapasitas. Meskipun, mereka sedang dalam tahap meningkatkan kapasitas produksi pabrik Subang dari semula 30 ton per jam menjadi 50 ton per jam. Peningkatan kapasitas bertujuan mengurangi jam lembur pabrik dan mengantisipasi pertumbuhan permintaan beras kemasan sepanjang 2019.

Dalam catatan KONTAN, Buyung Poetra juga berniat membangun pabrik beras baru berkapasitas 40 ton per jam di Palembang, Sumatra Selatan. Tahap pertama yakni menambah kapasitas produksi 20 ton per jam dengan target tahun depan. Separuhnya lagi mereka harapkan terealisasi pada tahun 2021.

Biaya investasi pabrik beras di Palembang sekitar Rp 70 miliar. Anggaran tersebut menjadi bagian dari total dana belanja modal alias capital expenditure (capex) 2019 yang mencapai Rp 100 miliar. Lalu Rp 20 miliar capex untuk menambah kapasitas pabrik di Subang, Jawa Barat dan Rp 10 miliar untuk membangun pembangkit listrik tenaga sekam padi berkapasitas 3 megawatt (mw).

Hingga akhir tahun nanti, Buyung Poetra mengincar pertumbuhan kinerja penjualan maupun produksi sebesar 15% year on year (yoy). Target produksinya setara dengan 149.500 ton beras.

Namun manajemen Buyung Poetra belum bersedia embeberkan raihan kinerja semester I tahun ini. Mereka hanya menyebutkan harapan akan pertumbuhan kinerja yang lebih baik ketimbang performa kuartal I-2019. Paling tidak, pada paruh pertama kemarin, Buyung Poetra merasakan kenaikan penjualan 5%–10% selama momentum Lebaran dibandingkan dengan bulan-bulan biasa.

Kalau selama kuartal I-2019, Buyung Poetra membukukan pertumbuhan penjualan 4,78% yoy menjadi Rp 398,62 miliar. Namun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih turun 4,21% yoy menjadi Rp 25,49 miliar.

Bagikan

Berita Terbaru

IHSG Kalah Dibanding Indeks Saham Negara Lain, Apa Saja yang Perlu Diperbaiki!?
| Kamis, 30 April 2026 | 07:32 WIB

IHSG Kalah Dibanding Indeks Saham Negara Lain, Apa Saja yang Perlu Diperbaiki!?

Indonesia kini “terjepit” di antara dua tekanan, yakni kompetisi negara-negara Asia Tenggara yang agresif dan rally kuat Asia Timur.

Tambang Tersendat, Laba ASII Terhambat
| Kamis, 30 April 2026 | 07:31 WIB

Tambang Tersendat, Laba ASII Terhambat

Laba bersih ASII Q1-2026 turun drastis 15,61%. Tidak adanya kontribusi penjualan tambang emas Martabe jadi salah satu penekannya.

Asing Net Sell Rp 9,38 T, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 30 April 2026 | 07:19 WIB

Asing Net Sell Rp 9,38 T, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor asing masih melakukan aksi jual bersih aliat net sell jumbo Rp 1,19 triliun. Enam hari beruntun asing net sell senilai Rp 9,38 triliun.

Proyek Infrastruktur Digital Harus Dipercepat
| Kamis, 30 April 2026 | 07:11 WIB

Proyek Infrastruktur Digital Harus Dipercepat

Komdigi akan menjadikan jaringan 5G, kecerdasan buatan (AI), dan Data Center sebagai pilr utama ekosistem digital Indonesia

Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) Siapkan Strategi Jaga Kinerja
| Kamis, 30 April 2026 | 07:00 WIB

Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) Siapkan Strategi Jaga Kinerja

Kinerja penjualan ACES pada kuartal I-2026 tetap berada dalam tren yang positif dan sejalan dengan ekspektasi.

Kinerja Himbara Lebih Apik Berkat Eskpansi Masif Kredit
| Kamis, 30 April 2026 | 06:50 WIB

Kinerja Himbara Lebih Apik Berkat Eskpansi Masif Kredit

​Himbara unggul di kuartal I-2026 berkat ekspansi kredit agresif yang mengerek NII, sementara bank swasta tertahan pertumbuhan kredit yang lemah

Tidak Penting Kapan Perang Berakhir
| Kamis, 30 April 2026 | 06:45 WIB

Tidak Penting Kapan Perang Berakhir

Sebagai importir energi, kenaikan harga minyak menekan neraca perdagangan minyak dan meningkatkan risiko fiskal Indonesia melalui subsidi energi.

Bundamedik (BMHS) Siapkan Belanja Modal Rp 217 Miliar
| Kamis, 30 April 2026 | 06:37 WIB

Bundamedik (BMHS) Siapkan Belanja Modal Rp 217 Miliar

Memasuki tahun 2026, BMHS mulai bergerak lebih proaktif untuk mendorong pertumbuhan, namun tetap dengan disiplin yang sama.

Pertumbuhan Tabungan Valas Pesat di Saat Rupiah Loyo
| Kamis, 30 April 2026 | 06:30 WIB

Pertumbuhan Tabungan Valas Pesat di Saat Rupiah Loyo

​Tabungan valas melonjak pada Maret 2026 seiring pelemahan rupiah dan meningkatnya kebutuhan lindung nilai

Analisis JPFA: Tekanan Rupiah & SBM, Bisakah Laba Bersih Tetap Kuat?
| Kamis, 30 April 2026 | 06:25 WIB

Analisis JPFA: Tekanan Rupiah & SBM, Bisakah Laba Bersih Tetap Kuat?

JPFA hadapi kenaikan biaya produksi SBM dan pelemahan rupiah tahun ini. Namun, model bisnis terintegrasi jadi benteng kuat.

INDEKS BERITA

Terpopuler