Sikap Ngegas, yang Muncul Karena Orang Cenderung Ingin Mengubah Dunia

Minggu, 11 April 2021 | 10:00 WIB
Sikap Ngegas, yang Muncul Karena Orang Cenderung Ingin Mengubah Dunia
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Ada satu kosa kata bahasa gaul yang lazim dipakai saat ini, terutama oleh kaum milenial, yakni: ngegas. Idiom ini berasal dari kata pedal gas kendaraan bermotor, yang difungsikan jika ingin memacu laju kecepatan. Dalam penggunaan keseharian, ngegas acapkali ditujukan untuk menggambarkan reaksi seseorang yang sontak penuh emosi dan berbicara dengan nada tinggi.

Beberapa kata yang serupa makna dengan istilah ini adalah nyolot, temperamental ataupun gampang mendidih.

Saat ini, kita mudah menemukan perilaku ngegas di dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kita bisa menyaksikan tutur kata ngegas antara penuntut dan pengacara di ruang pengadilan. Kita juga dapat melihat debat ngegas antara kubu yang saling berseberangan dalam sebuah partai politik.

Kita pun dengan mudah bisa membaca ungkapan ngegas dalam perseteruan antara warganet fans dan haters di berbagai platform media sosial. Demikian halnya dalam kehidupan keseharian di sekitar lingkungan rumah dan kerja kita.

Dulu, saya sendiri pernah bertemu seorang bos yang gampang meledak. Orangnya begitu emosional. Ada hal kecil saja yang berjalan tak sesuai dengan keinginannya, mukanya seketika menjadi merah, dan dari mulutnya meluncur sejumlah mantra yang pahit untuk didengar.

Terkadang, gawai di tangannya bisa melayang. Bahkan, yang agak menyeramkan, laptop di mejanya bisa tersungkur ke lantai akibat dibanting keras. Orang-orang di sekitarnya hanya bisa diam saja, seribu bahasa, dengan perasaan campur aduk; antara takut, tak berdaya, dan sedikit geli menyaksikan tingkah laku bersumbu pendek itu.

Biasanya kita menamai orang-orang yang mudah ngegas seperti ini sebagai sosok yang tak sabar. Ya, tidak sabar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tertulis dua makna sabar, yakni : (1) tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan (2) tenang (tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu).

Berlawanan dengan perilaku ngegas, jelaslah bahwa sifat sabar adalah kualitas diri yang positif. Tak heran semua agama dan ajaran kehidupan sangat mengutamakan sifat sabar. Ada ajaran yang menuturkan bahwa sabar itu sifat ilahi, dan juga ada yang menuliskan kasih itu sabar.

Walaupun begitu ditekankan dalam ajaran-ajaran kehidupan, studi juga menunjukkan bahwa kesabaran adalah sebuah kualitas diri yang tak gampang diraih. Begitu sulitnya memiliki sifat itu, saya pernah mendengar guyonan, sabar memang susah, karena hadiahnya surga. Coba kalau gampang, paling hadiahnya payung lipat.

Mengapa sabar itu begitu sulit? Seorang rekan psikolog dengan lugas menyebutkan alasannya, yakni karena orang punya kecenderungan ingin mengubah dunia. Memaksa orang dan situasi sekitarnya untuk mengikuti pikiran dan kehendaknya. Seketika itu juga!

Mengubah diri

Dari sinilah, persoalan acapkali dimulai. Mari kita simak cerita klasik ini, yang saya kutip dari buku tua, Burung Berkicau (1994), karya Anthony de Mello SJ.

Alkisah, Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: "Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan selalu berdoa, Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia. Ketika aku telah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi, Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas. Sekarang, ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematian menjelang, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah, Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!.

Di akhir cerita, Anthony de Mello menulis selarik pesan: setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia dan hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri.

Pesan ini menyiratkan bahwa alih-alih berpikir untuk memaksa orang lain atau situasi di sekitar (dengan seketika) berubah menyesuaikan diri dengan kehendak kita, lebih baik kita menata diri-sendiri untuk menyiasati keadaan yang ada.

Mengapa? Karena, sekali kita terpancing untuk memaksakan kehendak kepada orang lain dan lingkungan sekitar, seketika itu juga perilaku ngegas menjadi tak terhindarkan.

Di dalam ilmu problem solving dan negosiasi, kita mengenal istilah pause alias berhenti sejenak. Pause biasanya dilakukan pada saat proses penyelesaian masalah atau negosiasi perkara menemui jalan buntu.

Kita pasti sudah tahu apa yang akan terjadi jika kita menginjak pedal gas kendaraan kencang-kencang saat berhadapan dengan jalan buntu. Tabrak dan terpelanting.

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:30 WIB

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut

Persaingan bisnis rumah sakit semakin sengit sehingga akan memengaruhi ekspansi, khususnya ke kota-kota tier dua.

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:26 WIB

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menggeber ekspansi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) miliknya.

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:06 WIB

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1

Saham bonus yang akan dibagikan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham tahun buku 2024.

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:02 WIB

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)

Momentum Ramadan dinilai bakal menjadi salah satu katalis positif bagi emiten farmasi. Salah satunya PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.​

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:56 WIB

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI

Proyek hilirisasi Danantara juga membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi.

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48 WIB

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025

Segmen selular jadi kontributor utama pertumbuhan kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) di sepanjang tahun 2025.

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:33 WIB

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi

Pelaksanaan aturan ini tidak langsung, tapi ada waktu transisi. Ini penting agar pemilik dan pengendali punya waktu menyusun strategi 

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11 WIB

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026

Sentimen positif bagi BMRI di tahun 2026 berasal dari fundamental yang solid dan efisiensi berkelanjutan.

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:57 WIB

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026

Penjualan periode Lebaran menyumbang hampir 30% dari total target penjualan tahunan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:43 WIB

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun

Indonesia perlu belajar dari India yang mengalami masalah serupa pada 2012 namun bisa bangkit dan berhasil merebut kembali kepercayaan investor.

INDEKS BERITA

Terpopuler