Target Investasi Energi Terbarukan Menciut Jadi US$ 1,79 Miliar

Rabu, 09 Januari 2019 | 07:55 WIB
Target Investasi Energi Terbarukan Menciut Jadi US$ 1,79 Miliar
[]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Dian Pertiwi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah agaknya realistis melihat prospek investasi di sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE). Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan investasi sektor energi hijau tahun ini mencapai US$ 1,79 miliar. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan target investasi pada tahun lalu sebesar US$ 2,01 miliar.

Tapi target investasi tahun ini lebih tinggi dari realisasi investasi energi hijau tahun lalu senilai US$ 1,60 miliar atau 79,60% dari target sepanjang 2018 sebesar US$ 2,01 miliar.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana beralasan, penurunan target investasi tahun ini tidak mempertimbangkan gagal tercapainya realisasi investasi pada 2018. Penetapan target ini mengikuti panduan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019–2027. "Jadi mengikuti RUPTL. Karena kita berbasis rencana," ungkap dia, Selasa (8/1).

Secara rinci, target investasi EBTKE 2019 senilai US$ 1,79 miliar meliputi investasi panas bumi sebesar US$ 1,23 miliar, bioenergi US$ 0.051 miliar, aneka energi EBT US$ 0,51 miliar, dan konservasi energi US$ 0,007 miliar.

Salah satu faktor yang menyurutkan minat investasi di sektor EBTKE adalah penerapan Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Salah satu poin yang mengganjal berkenaan dengan skema penyerahan aset ketika kontrak berakhir atau build, own, operate, and transfer (BOOT).

Rida bilang, sudah banyak pelaku usaha memberikan masukan terkait Permen ESDM dan skema BOOT. Ia pun mengaku pemerintah bersikap terbuka. Namun, perubahan Permen itu tergantung pertimbangan dan keputusan Menteri ESDM Ignatius Jonan. "Pak Menteri sudah menerima masukan. Jadi karena itu Permen, kita tunggu arahan Pak Menteri. Yang jelas, kami tidak alergi dengan perubahan," tutur Rida.

 

Minta insentif

Berdasarkan data terkini Ditjen EBTKE, dari 70 proyek pembangkit EBT yang sudah menandatangani kontrak jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA), baru empat proyek yang telah memasuki tahap commercial operation date (COD) dengan total kapasitas 27 megawatt (MW) dan nilai investasi Rp 718,9 miliar.

Kemudian sebanyak 29 proyek dalam masa konstruksi dengan total kapasitas 282 MW dan nilai investasi Rp 21,1 triliun.

Adapun sisanya 37 proyek masih dalam proses mendapatkan kepastian pendanaan atau financial close (FC) dengan total kapasitas 404 MW dan nilai investasi sebesar Rp 13,3 triliun.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pengembang Listrik Tenaga Air (APPLTA), Riza Husni menilai, Permen 50/2017 khususnya skema BOOT yang ada di dalamnya, sangat tidak ideal bagi investasi di sektor energi terbarukan.

Hal itu terutama untuk proyek pembangkit kecil di bawah 10 MW yang dianggap tidak menarik bagi perbankan, sehingga sulit mencari pendanaan.

Riza pun meminta pemerintah memberikan insentif bagi pengembang dalam negeri. Sebab, proyek pembangkit listrik mini ini rentan diakuisisi oleh perusahaan asing.

Direktur EksekutifInstitute for Essential Services Reform(IESR) Fabby Tumiwa juga menilai, beleid itu menjadi tantangan untuk investasi kelistrikan EBT. "Permen itu masih menjadi hambatan bagi perusahaan untuk mendapatkan pembiayaan secara umum," ungkap dia.

Alhasil, pengembangan energi baru terbarukan pada tahun ini diproyeksikan stagnan.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Diguyur Net Sell Triliunan Rupiah, Apakah Kenaikan Tiga Hari TLKM Cuma Bull Trap?
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Diguyur Net Sell Triliunan Rupiah, Apakah Kenaikan Tiga Hari TLKM Cuma Bull Trap?

Karakter bisnis yang relatif defensif, arus kas yang stabil, serta rekam jejak pembagian dividen turut menjadi daya tarik PT Telkom Indonesia Tbk.

Tekanan Kredit Sektor Konstruksi, Indikasi Tingginya Risiko Likuiditas
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Tekanan Kredit Sektor Konstruksi, Indikasi Tingginya Risiko Likuiditas

Masalah utamanya bukan sekadar jumlah utang, melainkan ketidaksesuaian jadwal pembayaran dengan penerimaan kas proyek.

Tak Hanya CIMB Niaga, Ada 14 Bank Punya Asing dengan Free Float di Bawah 15%
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:15 WIB

Tak Hanya CIMB Niaga, Ada 14 Bank Punya Asing dengan Free Float di Bawah 15%

Guntur menambahkan, jika banyak perusahaan berkualitas memilih delisting, market cap, likuiditas, dan investable universe BEI akan berkurang.

Hari Ini Saham PTSN dan ERAA Naik 24,46% dan 1,75%, Efek Wacana Pemberian HP Gratis?
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Hari Ini Saham PTSN dan ERAA Naik 24,46% dan 1,75%, Efek Wacana Pemberian HP Gratis?

Pemerintah berencana akan membagikan handphone gratis untuk sekurang-kurangnya 25 juta warga berusia dewasa yang masuk dalam kategori desil 1-4.

Trafik Kargo IPCC Naik, Pemulihan Logistik Kendaraan Domestik Topang Kinerja
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 12:37 WIB

Trafik Kargo IPCC Naik, Pemulihan Logistik Kendaraan Domestik Topang Kinerja

Tim Riset UOB Kay Hian memasukkan saham IPCC sebagai salah satu dari 10 saham yang berpotensi memberikan imbal hasil dividen tinggi.

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:53 WIB

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) memproyeksikan belanja modal atau capital expenditure (capex) di sepanjang 2026 akan melampaui Rp 4 triliun.

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:46 WIB

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun

Aksi korporasi ini akan berlangsung selama tiga bulan dan dimulai pada Kamis 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027.​

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:42 WIB

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar

Kemarin, emiten perkebunan sawit tersebut telah melaksanakan pembayaran dividen interim tahun 2026 senilai Rp 258,93 miliar dari buku tahun 2026. 

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino

Pada September 2026 lalu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:38 WIB

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik

Pertumbuhan SSSG PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) di sembilan bulan 2026 berbalik dari kontraksi 3,6% yoy pada periode sama di tahun 2025.

INDEKS BERITA

Terpopuler