Terbebani Bunga Obligasi, Laba Bersih Inalum Anjlok

Rabu, 26 Juni 2019 | 15:47 WIB
Terbebani Bunga Obligasi, Laba Bersih Inalum Anjlok
[]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beban keuangan membuat kinerja PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) turun drastis. Sepanjang kuartal I-2019, laba bersih holding BUMN pertambangan ini anjlok hingga 89,7%.

Per akhir Maret 2019, Inalum hanya membukukan laba bersih sebesar Rp 287 miliar. Padahal, pada periode sama tahun lalu, Inalum masih mampu mencetak laba bersih hingga Rp 2,79 triliun.

Pendapatan Inalum sepanjang tiga bulan pertama tahun ini sejatinya masih meningkat. Per akhir Maret 2019, pendapatan Inalum tercatat sebesar Rp 17,48 triliun. Jumlah tersebut naik 17,38% dibandingkan pendapatan periode sama tahun 2018.

Namun, beban yang harus Inalum tanggung selama tiga bulan pertama tahun ini mengalami kenaikan cukup tinggi.

Kinerja Indonesia Asahan Aluminium
(dalam juta rupiah)
  31 Maret 2019 31 Maret 2018 Perubahan
(%)
Pendapatan 17.478.625 14.890.027 17,38
Beban Pokok Pendapatan -13.637.379 -10.833.795 25,88
Laba Kotor 3.841.246 4.056.232 -5,30
Beban Umum dan Administrasi -1.104.339 -814.289 35,62
Beban Penjualan dan Pemasaran -633.877 -361.566 75,31
Laba Usaha 2.103.030 2.880.377 -26,99
Biaya Keuangan -1.344.535 -218.789 514,54
Laba Sebelum Pajak 1.509.042 3.876.318 -61,07
Laba Bersih 286.995 2.792.847 -89,72
Sumber: Laporan Keuangan Inalum

Beban pokok pendapatan, misalnya, naik sebesar 25,9%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan. Per akhir Maret 2019, Inalum membukan beban pokok pendapatan sebesar Rp 13,64 triliun.

Yang paling mencolok adalah melonjaknya biaya keuangan yang naik hingga lebih dari enam kali lipat. Per akhir Maret 2018 lalu, beban keuangan Inalum hanya sebesar Rp 218,79 miliar. Sementara di akhir Maret tahun ini, beban keuangan Inalum mencapai Rp 1,34 triliun.

Dari jumlah tersebut, beban bunga dari utang obligasi tercatat menjadi penyumbang terbesar. Per 31 Maret 2019, Inalum membukukan beban bunga dari utang obligasi sebesar Rp 1,13 triliun. Sementara beban bunga dari pinjaman bank dan sewa pembiayaan tercatat sebesar Rp 228,38 miliar.

Seperti diketahui, untuk membiayai akuisisi 40% saham PT Freeport Indonesia, Inalum menerbitkan obligasi global senilai US$ 4 miliar pada 15 November 2018 lalu.

Inalum memecah obligasi tersebut dalam empat seri. Obligasi 2021 senilai US$ 1 miliar memberikan kupon sebesar 5,23%. Obligasi 2023 senilai US$ 1,25 miliar menjanjikan kupon 5,71%.

Lalu, Obligasi 2028 senilai US$ 1 miliar memberikan kupon 6,53%. Sementara Obligasi 2048 senilai US$ 750 juta memberikan kupon 6,76%.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Surplus Neraca Dagang Meningkat, AS Masih Jadi Penyumbang Terbesar
| Senin, 05 Januari 2026 | 13:56 WIB

Surplus Neraca Dagang Meningkat, AS Masih Jadi Penyumbang Terbesar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 2,66 miliar pada November 2025. ​

Inflasi per Desember 2025 Mencapai 2,92%, Naik dari 1,57% Tahun Lalu
| Senin, 05 Januari 2026 | 13:22 WIB

Inflasi per Desember 2025 Mencapai 2,92%, Naik dari 1,57% Tahun Lalu

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (YoY) pada Desember 2025 sebesar 2,92%.

ESG Mandiri Investasi (MMI): Menimbang Reksadana ESG yang Tak Melulu Soal Cuan
| Senin, 05 Januari 2026 | 09:22 WIB

ESG Mandiri Investasi (MMI): Menimbang Reksadana ESG yang Tak Melulu Soal Cuan

Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) menyodorkan produk reksadana ESG. Bagaimana return, risiko, dan prospeknya?

Restrukturisasi Sebatas Demi Bertahan Hidup, Ini Tantangan Danantara di WSKT & KAEF
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:52 WIB

Restrukturisasi Sebatas Demi Bertahan Hidup, Ini Tantangan Danantara di WSKT & KAEF

Kasus yang menimpa WSKT dan KAEF menunjukkan garansi nama pemerintah terbukti tidak selalu mampu melindungi kepentingan pemegang saham ritel.

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:43 WIB

Saham Big Caps Jadi Buruan dan Buangan Investor Asing

Pada 2026, asing diproyeksi akan kembali berburu saham bank big caps​.  Di sepanjang 2025, investor asing mencatatkan net sell Rp 17,34 triliun.​

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:40 WIB

Dana Asing Dukung Stabilitas Rupiah 2026

Arus modal asing pada 2026 diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke pasar saham Indonesia         

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:23 WIB

Data Transaksi Kripto Masuk Radar Ditjen Pajak

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 108 Tahun 2025 mengatur pelaporan transaksi kripto di atas US$ 50.000

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap
| Senin, 05 Januari 2026 | 08:18 WIB

Kontradiksi Grup Salim: Saat BUMI Melesat 210%, Raksasa Konsumer Justru Terjerembap

Prospek saham Grup Salim 2026 memasuki fase matang. Intip analisis performa BUMI yang melesat 210% hingga rekomendasi trading buy ICBP..

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:59 WIB

Saham TLKM Jadi Unggulan Sektor Telko di 2026, Diborong JP Morgan, FMR dan Invesco

Fundamental dinilai kuat, simak peluang saham TLKM mencapai target harga Rp 4.000 per saham di tahun 2026.​

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama
| Senin, 05 Januari 2026 | 07:33 WIB

Direktur Utama KB Bank: Corporate Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Utama

Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank, mengandalkan disiplin risiko dan kecepatan eksekusi sebagai kunci transformasi. 

INDEKS BERITA

Terpopuler