Terpicu Tren Kenaikan Harga, Produsen CPO Bersiap Mengerek Produksi Tahun Ini

Selasa, 05 Januari 2021 | 07:20 WIB
Terpicu Tren Kenaikan Harga, Produsen CPO Bersiap Mengerek Produksi Tahun Ini
[ILUSTRASI. Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia sempat menyentuh angka RM 3.934 per ton atau 39% dalam setahun terakhir. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/04/12/2014]
Reporter: Dimas Andi | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para pekebun sawit dalam negeri siap menggenjot produksi CPO sepanjang tahun ini. Tren kenaikan harga crude palm oil (CPO) mendorong agenda bisnis tersebut.

Mengacu data Bloomberg, Senin (4/1), harga kontrak CPO di Bursa Malaysia sempat menyentuh angka RM 3.934 per ton. Level Harga itu menanjak 39% dalam setahun terakhir.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Putusan MSCI Memicu Asing Terus Net Sell, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (8/7)
| Rabu, 08 Juli 2026 | 08:19 WIB

Putusan MSCI Memicu Asing Terus Net Sell, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (8/7)

Asing terus net sell akibat pembekuan saham Indonesia dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI) pada MSCI Index Review Agustus 2026.

Harga Saham KRAS Menguat di Tengah Agenda Restrukturisasi , Simak Prospeknya
| Rabu, 08 Juli 2026 | 08:18 WIB

Harga Saham KRAS Menguat di Tengah Agenda Restrukturisasi , Simak Prospeknya

KRAS masih harus membuktikan divestasi anak usaha benar-benar mampu menghasilkan perbaikan kinerja operasional yang berkelanjutan.

Dapat Amunisi Dana IPO, JELI Bidik Pendapatan Tumbuh 26% di Tahun 2026
| Rabu, 08 Juli 2026 | 08:10 WIB

Dapat Amunisi Dana IPO, JELI Bidik Pendapatan Tumbuh 26% di Tahun 2026

PT Niramas Utama (JELI) bidik pendapatan naik 26% usai IPO. Dana segar difokuskan untuk ekspansi produksi.

Prospek Harga Emas 2026: The Fed, Data Ekonomi AS, hingga IPO OpenAI Jadi Penentu
| Rabu, 08 Juli 2026 | 07:53 WIB

Prospek Harga Emas 2026: The Fed, Data Ekonomi AS, hingga IPO OpenAI Jadi Penentu

Secara fundamental, permintaan terhadap aset safe haven tetap tinggi karena ketidakpastian ekonomi global dan risiko geopolitik.

Status Freeze MSCI Berlanjut, Dana Asing Semakin Tertahan
| Rabu, 08 Juli 2026 | 07:44 WIB

Status Freeze MSCI Berlanjut, Dana Asing Semakin Tertahan

Pembekuan status saham Indonesia oleh MSCI menghambat kenaikan bobot di indeks global. Peluang masuknya dana asing pun tertahan

Voksel Electric (VOKS) Bidik Peluang Proyek Kelistrikan
| Rabu, 08 Juli 2026 | 07:09 WIB

Voksel Electric (VOKS) Bidik Peluang Proyek Kelistrikan

Sektor kelistrikan masih akan menjadi motor utama pertumbuhan permintaan, ditopang pembangunan, penguatan dan modernisasi jaringan transmisi 

Akal Imitasi Angkat Permintaan Pusat Data
| Rabu, 08 Juli 2026 | 07:00 WIB

Akal Imitasi Angkat Permintaan Pusat Data

Asosiasi menyebut pertumbuhan industri data center secara global berada pada kisaran 20% hingga 25% per tahun.

Margin Keuntungan Bank Bisa Tertekan
| Rabu, 08 Juli 2026 | 06:50 WIB

Margin Keuntungan Bank Bisa Tertekan

Margin keuntungan perbankan berpotensi semakin tertekan sampai akhir tahun. Ini seiring dengan kenaikan BI rate yang akan mengerek biaya dana.

Kinerja Bank Asing Tampak Menyusut di Tengah Isu Cash Out
| Rabu, 08 Juli 2026 | 06:50 WIB

Kinerja Bank Asing Tampak Menyusut di Tengah Isu Cash Out

Kinerja bank asing kurang menggembirakan di tengah sorotan setelah investor asing dilaporkan menarik dana besar dari Indonesia

Surya Semesta Internusa (SSIA) Bidik Pergeseran Pusat Industri
| Rabu, 08 Juli 2026 | 06:47 WIB

Surya Semesta Internusa (SSIA) Bidik Pergeseran Pusat Industri

Manajemen SSIA melihat wilayah Subang bisa menggantikan Bekasi dan Karawang sebagai pusat kawasan industri.

INDEKS BERITA

Terpopuler