Tolak Membayar dalam Rubel, Jerman Bersiap Melakukan Penjatahan Listrik

Rabu, 30 Maret 2022 | 19:22 WIB
Tolak Membayar dalam Rubel, Jerman Bersiap Melakukan Penjatahan Listrik
[ILUSTRASI. Ilustrasi logo Gazprom, pemasok gas Rusia untuk Eropa, 31 Januari 2022. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BERLIN/FRANKFURT. Jerman pada Rabu (30/3) menggulirkan rencana darurat untuk mengelola pasokan gas, mengantisipasi tuntutan pembayaran gas dalam rubel yang diajukan Rusia. Jika terealisasi, rencana itu akan menjadi penjatahan listrik terbesar dalam sejarah Eropa.

Tuntutan Moskow agar negara-negara yang "tidak bersahabat" melunasi pasokan gasnya dalam rubel memusingkan banyak negara Eropa. Catatan saja, pasokan gas Rusia memenuhi sepertiga dari impor gas Eropa. 

Yunani menggelar pertemuan darurat para pemasok gas. Sedang Belanda mengatakan akan mendesak konsumen untuk mengurangi penggunaan gas. Di Prancis, regulator energi menenangkan konsumen agar tidak panik.

Tuntutan pembayaran gas dalam rubel, yang telah ditolak oleh negara-negara G7, merupakan aksi Rusia membalas sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara di Eropa. Dengan menyebut tindakannya di Ukraina sebagai "operasi militer khusus", Rusia menilai sanksi ekonomi yang dijatuhkan negeri Barat tidak ubahnya "perang ekonomi."

Baca Juga: CNOOC Akan Lepas Kepemilikan Ladang Minyak Laut Utara, Ancang-ancang Jauhi Aset Barat

Kremlin pada Rabu mengisyaratkan bahwa pihaknya dapat memperluas permintaan pembayaran rubel ke komoditas lain termasuk minyak, biji-bijian, pupuk, batu bara dan logam. Permintaan semacam itu akan meningkatkan ancaman resesi di Amerika Serikat dan Eropa, yang sudah mengalami kenaikan tingkat harga yang tinggi.

Langkah yang belum pernah diambil Berlin sebelumnya merupakan isyarat jelas bahwa Uni Eropa sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan Moskow memotong pasokan gas ke wilayah tersebut, jika tidak mendapat pembayaran dalam rubel. Italia dan Latvia juga telah mengaktifkan peringatan.

Moskow diperkirakan akan mengungkap rencananya untuk pembayaran rubel pada hari Kamis. Sejauh ini, Rusia mengatakan tidak akan segera menuntut pembeli membayar ekspor gas dalam rubel.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengaktifkan "fase peringatan dini" dari rencana darurat gas yang ada. Itu berarti, tim krisis di bawah kementerian ekonomi, regulator dan sektor swasta akan memantau impor dan penyimpanan.

Baca Juga: Ini Daftar Perusahaan yang Masih Membeli Minyak Mentah Rusia

Habeck mengatakan pada konferensi pers bahwa pasokan gas Jerman dijaga untuk saat ini. Dia juga mendesak konsumen dan perusahaan untuk mengurangi konsumsi. "Setiap kilowatt per jam sangatlah penting. 
Kita harus meningkatkan tindakan pencegahan untuk bersiap menghadapi eskalasi di pihak Rusia," kata Habeck.

Jika pasokan kurang, regulator jaringan Jerman dapat menjatah pasokan gas, dengan industri menjadi yang pertama dalam antrean pemotongan. Perlakuan istimewa akan diberikan kepada rumah tangga pribadi, rumah sakit dan institusi penting lainnya.

Bahkan tanpa ancaman kekurangan gas, Jerman menghadapi risiko resesi karena biaya energi yang meledak telah memukul industri, memaksa beberapa produsen baja untuk mengurangi produksi. Dewan penasihat ekonomi pemerintah pada hari Rabu menurunkan lebih dari separuh perkiraan pertumbuhan mereka untuk tahun ini menjadi 1,8%.

Setengah dari 41,5 juta rumah tangga Jerman memanaskan dengan gas alam sementara industri menyumbang sepertiga dari 100 miliar meter kubik permintaan nasional pada tahun 2021.

Rusia adalah pemasok gas utama bagi Jerman, dengan menyumbang 40% dari impor pada kuartal pertama 2022. Berlin telah berjanji untuk mengakhiri ketergantungan energinya pada Moskow. Tetapi, Jerman tidak akan mencapai kemerdekaan penuh sebelum pertengahan 2024, tutur Habeck.

Eropa menghadapi krisis energi bahkan sebelum Rusia menginvasi Ukraina, dengan tingkat penyimpanan gas di UE sekarang sekitar 26% dari total kapasitas, di bawah tingkat normal pada tahun ini.

Komisi Uni Eropa, yang mengatakan pada hari Rabu akan bekerja sama dengan negara-negara anggota untuk mempersiapkan kekurangan gas, telah mengusulkan undang-undang yang mengharuskan negara-negara untuk mengisi tingkat setidaknya 80% pada November tetapi itu hampir tidak mungkin jika Rusia menghentikan pasokan.

Baca Juga: BOJ Tawarkan Lebih Banyak Pembelian Utang Pemerintah, Cegah Yield Naik Lewati Batas

"Tidak mungkin untuk membangun stok tahun ini dan membatasi aliran Rusia," kata Joel Hancock, wakil presiden riset komoditas di Natixis.

Jean-François Carenco, kepala regulator energi di Prancis, yang tidak memiliki ketergantungan terhadap gas Rusia setinggi Jerman, mengatakan, negara itu seharusnya tidak menghadapi masalah pasokan apa pun. "Semuanya akan baik-baik saja. Fasilitas penyimpanan gas terisi dengan baik. Kami akan berhasil melewati musim dingin," katanya kepada BFM TV.

Yunani akan mengadakan pertemuan darurat regulator energi, operator transmisi gas dan pemasok gas dan listrik terbesarnya pada hari Rabu untuk menilai keamanan pasokannya jika Rusia menghentikan pasokan.

Pemerintah Belanda mengatakan akan meluncurkan kampanye untuk membuat konsumen menggunakan lebih sedikit gas.

Baca Juga: Potensi IPO Domestik Perusahaan-perusahaan China US$ 9,4 Miliar, Tertunda Covid

Investor dengan cemas mengamati bagaimana perselisihan atas desakan Rusia terhadap pembayaran rubel terjadi di Eropa. Untuk membantu rakyatnya yang bergulat dengan kenaikan harga energi, pemerintah di berbagai negara Eropa harus mengumumkan langkah-langkah bantuan fiskal.

"Pasar gas masih cemas dengan ekspektasi aturan pembayaran rubel yang jelas pada Kamis," kata analis senior Rystad Energy Vinicius Romano. "Kedua belah pihak tetap berselisih mengenai prospek, mengubah persyaratan mata uang kontrak dolar dan euro, menunggu pihak lain berkedip terlebih dahulu."

Setelah pengumuman langkah darurat Jerman, harga listrik grosir untuk tahun depan mencapai titik tertinggi selama tiga pekan terakhir, menjadi 185 euro per megawatt jam. Harga itu naik 6,3%.

Kerstin Andreae, kepala Asosiasi Federal untuk Industri Energi dan Air (BDEW) Jerman, mengatakan negaranya harus memiliki rencana yang menjelaskan bagaimana pemerintah akan menangani penghentian pasokan gas, yang akan berujung ke penjatahan.

"Kita sekarang harus mengambil langkah-langkah konkret untuk mempersiapkan tingkat darurat, karena jika terjadi penghentian, segalanya harus bergerak cepat," kata Andreae.

Bagikan

Berita Terbaru

Populisme Ekonomi dan Ilusi Kemakmuran
| Rabu, 29 Juli 2026 | 09:51 WIB

Populisme Ekonomi dan Ilusi Kemakmuran

Kesejahteraan yang lahir dari produktivitas akan bertahan jauh lebih lama daripada kesejahteraan yang hanya ditopang popularitas.

Kontrak Baru dari Pertamina Jadi Katalis bagi SUNI, Analis Soroti Risiko Sahamnya
| Rabu, 29 Juli 2026 | 09:03 WIB

Kontrak Baru dari Pertamina Jadi Katalis bagi SUNI, Analis Soroti Risiko Sahamnya

Meningkatnya investasi di sektor hulu migas yang didorong tensi geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia menciptakan peluang bagi SUNI.

Masih Sulit Tutup Celah Shortfall
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:42 WIB

Masih Sulit Tutup Celah Shortfall

Ditjen Pajak telah mempersiapkan setidaknya sepuluh jurus pamungkas untuk mengejar penerimaan pajak di sisa tahun ini

Lunasi Obligasi, ARKO Dapat Pinjaman IIF Rp 450 Miliar
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:41 WIB

Lunasi Obligasi, ARKO Dapat Pinjaman IIF Rp 450 Miliar

ARKO menggunakan pinjaman untuk membayar pokok Obligasi Berwawasan Lingkungan Hijau I Arkora Hydro Seri A yang jatuh tempo pada 8 Agustus 2026.

UNSP Eksekusi Private Placement dan Konversi Utang Rp 4,3 Triliun
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:36 WIB

UNSP Eksekusi Private Placement dan Konversi Utang Rp 4,3 Triliun

Private placement untuk memperbaiki keuangan UNSP melalui konversi utang menjadi saham. Total utang yang akan dikonversi mencapai Rp 4,35 triliun.

Pilah-Pilih Saham Migas Di Tengah Volatilitas Harga Minyak, MEDC Paling Sensitif
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:30 WIB

Pilah-Pilih Saham Migas Di Tengah Volatilitas Harga Minyak, MEDC Paling Sensitif

Sensitivitas saham migas terhadap harga minyak tidak selalu berbanding lurus dengan fundamental emiten.

Emiten Non-Tambang Ramai-Ramai Ekspansi ke Bisnis Batubara
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:28 WIB

Emiten Non-Tambang Ramai-Ramai Ekspansi ke Bisnis Batubara

Sejumlah emiten non-tambang ekspansi ke bisnis pertambangan batubara. Ekspansi dilakukan melalui akuisisi aset tambang.

Manfaat Program MBG Diproyeksi Masih akan Menopang (CMRY) di Paruh Kedua 2026
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:26 WIB

Manfaat Program MBG Diproyeksi Masih akan Menopang (CMRY) di Paruh Kedua 2026

Meski sempat menghadapi kenaikan biaya kemasan, kinerja kuartal I-2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan maupun laba masih dapat berlanjut.

Konsumsi Rumah Tangga Makin Ditopang Utang
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:21 WIB

Konsumsi Rumah Tangga Makin Ditopang Utang

Perlu peningkatan pendapatan masyarakat agar konsumsi ditopang kapasitas keuangan sehat​            

Batas Peran Danantara di KSSK Jadi Pertanyaan
| Rabu, 29 Juli 2026 | 08:11 WIB

Batas Peran Danantara di KSSK Jadi Pertanyaan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Danantara tidak akan terlibat dalam pengambilan keputusan di KSSK

INDEKS BERITA

Terpopuler