Transaksi Mitra Bukalapak.com Menjadi Pendorong Kinerja

Rabu, 27 April 2022 | 03:40 WIB
Transaksi Mitra Bukalapak.com Menjadi Pendorong Kinerja
[]
Reporter: Aris Nurjani | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sukses mencatatkan pertumbuhan pendapatan sepanjang tahun lalu. Sayangnya, rugi bersih BUKA masih naik menjadi Rp 1,67 dari Rp 1,35 triliun pada tahun 2020.

Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy mengatakan, realisasi pendapatan BUKA sebesar Rp 1,87 triliun di tahun 2021 sesuai dengan estimasi mereka. Kenaikan pendapatan lantaran total purchasing value (TPV) alias nilai transaksi yang benar terjadi meningkat sebesar 44% menjadi Rp 122 triliun. "TPV-nya memenuhi 99% dari proyeksi kami sedangkan realisasi pendapatan memenuhi 95%," ujar Paulus, Selasa (26/4).

Kinerja BUKA ditopang dari peningkatan penjualan offline yang bekerjasama dengan BUKA (Mitra). Paulus mengatakan, nilai transaksi Mitra naik lebih dari 146% secara tahunan menjadi Rp 56 triliun pada tahun 2021.

Baca Juga: Harga Saham GOTO & BUKA Beda Nasib di Perdagangan Bursa Selasa (26/4)

Sementara penjualan di marketplace BUKA hanya naik 7% menjadi Rp 66 triliun ini artinya pertumbuhan cukup besar ditopang dari Mitra. Mitra sekarang menyumbang sebesar 45,8% dari total TPV BUKA.

Pada tahun ini, Paulus yakin, BUKA mencatatkan TPV Rp 166 trilliun dengan pendapatan sebesar Rp 2,8 trilliun. Pendorongnya masih dari TPV Mitra. Margin Mitra juga naik 49 bps menjadi 1,36% di tahun 2021. Dia mengatakan, inisiatif mengerek tarif perdagangan dan keterlibatan pengguna membantu pendapatan ke depan.

Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Henry Wibowo dalam riset 11 April juga mengatakan, Mitra masih akan menjadi pendorong pertumbuhan utama. BUKA juga akan ditopang dari inisiatif bisnis baru seperti bank digital dan e-groceries akan menjadi nilai tambahan pada sum of the parts (SOTP) BUKA.

Henry menjelaskan, penilaian SOTP BUKA berasal dari bisnis e-commerce marketplace dan Mitra Bukalapak. Selanjutnya dengan mengasumsikan diskon 50% dari kapitalisasi pasar PT Allo Bank Tbk (BBHI) saat ini untuk menilai 11,5% saham BUKA. Tak hanya itu, BUKA memiliki saldo kas bersih Rp 20 triliun.

Kontribusi groceries

Paulus juga menilai biaya investasi BUKA sebesar 35% pada saham Allo Fresh akan menjadi nilai tambah. BUKA meluncurkan Allo Fresh, platform khusus grosir online, bekerja sama dengan Trans Retail Indonesia, cabang ritel CT Corp. 

Baca Juga: Bukalapak (BUKA) Masih Fokus Meningkatkan Take Rate di Tahun 2022

Allo Fresh memiliki lebih dari 150.000 stock keeping unit (SKU) dari 53 toko Transmart di daerah perkotaan yang tinggi nilai transaksi sebagai hub dan berencana mengembangkan menjadi 300.000 SKU dari 128 toko. Allo Fresh nantinya bisa mengirim dalam waktu tiga jam dan bisa 30 menit pengiriman ke depannya. 

"Allo Fresh diyakini membantu meningkatkan pendapatan secara keseluruhan sementara kepemilikan BUKA pada Allo Bank akan meningkatkan literasi keuangan Mitra dan pengguna," ucap Paulus.

Selain itu, investasi BUKA di Allo Bank akan mendorong kinerja setelah aplikasi digital siap diluncurkan ke publik pada kuartal II-2022. "Saat ini aplikasi tersebut dalam tahap pengujian beta yang hanya tersedia untuk karyawan CT-Corp. Tapi BUKA hanya memiliki 11,5% saham di Allo Bank, sehingga hasilnya tidak akan dikonsolidasikan ke dalam pembukuan BUKA," tutur Analis Bahana Sekuritas Nathania Giovanna dan Baruna Arkasatyo dalam riset.

Henry mengatakan, risiko BUKA berasal dari persaingan bisnis e-commerce seperti Mitra Tokopedia, Mitra Shopee, Warung Pintar. Selain itu, tren monetisasi biaya perdagangan yang lebih lemah dari yang diharapkan. Selain itu biaya pemasaran yang tinggi dan biaya akuisisi pelanggan.

Pada tahun ini, Nathania memperkirakan, TPV BUKA akan menjadi Rp 168 triliun pada 2022 dan jadi Rp 219 triliun tahun depan.

Bahana Sekuritas menyarankan hold saham BUKA dengan target Rp 322 per saham. Target harga tersebut sudah dipangkas dari proyeksi semula di Rp 510 per saham. Kalau Henry rekomendasi overweight dengan target di Rp 600 per saham. Kalau Paulus rekomendasi buy dengan target Rp 830 per saham.  

Baca Juga: Sejumlah Indikator Kinerja Bukalapak.com (BUKA) Membaik Sepanjang 2021

 

Bagikan

Berita Terbaru

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia
| Senin, 12 Januari 2026 | 10:15 WIB

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia 2026 diprediksi US$ 56 per barel, begini rekomendasi saham RATU, ELSA, MEDC, ENRG, hingga PGAS.

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer
| Senin, 12 Januari 2026 | 09:23 WIB

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer

Kenaikan UMP 2026 rata-rata 5,7% & anggaran perlindungan sosial Rp 508,2 triliun dukung konsumsi. Rekomendasi overweight konsumer: ICBP top pick.

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:57 WIB

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional

Akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen seasonal jadi amunisi pertumbuhan industri poultry.

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:30 WIB

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang

Kendala pembangunan rumah subsidi saat ini mencakup keterbatasan lahan, lonjakan harga material, hingga margin pengembang yang semakin tertekan.

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:29 WIB

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga

Ada risiko koreksi yang cukup dalam apabila proses transaksi akuisisi BULL pada akhirnya hanya sebatas rumor belaka.

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:20 WIB

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak

Selama ini, perusahaan tersebut dikenal cukup kuat di segmen properti bertingkat atawa high rise dan strata title.

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:11 WIB

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?

RLCO sebelumnya mendapatkan negative covenant dari Bank BRI dan Bank Mandiri karena rasio utang belum memenuhi rasio keuangan yang dipersyaratkan.

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:10 WIB

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026

Pasar dalam negeri masih menjadi tumpuan bagi industri gelas kaca. APGI pun berharap, tingkat konsumsi dan daya beli bisa membaik.

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:04 WIB

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api

Harga tembaga seakan tak lelah berlari sejak 2025 lalu. Mungkinkah relinya bisa mereda setelah menyentuh rekor?

ESG ESSA: Efisiensi Sambil Wujudkan Niat Memangkas Emisi dari Energi Baru
| Senin, 12 Januari 2026 | 07:48 WIB

ESG ESSA: Efisiensi Sambil Wujudkan Niat Memangkas Emisi dari Energi Baru

Berikut ekspansi yang dilakukan PT Essa Industries Tbk (ESSA) ke bisnis lebih hijau dan berkelanjutan

INDEKS BERITA

Terpopuler