Utang Konsumtif

Senin, 10 November 2025 | 06:10 WIB
Utang Konsumtif
[ILUSTRASI. TAJUK - Barratut Taqiyyah (Ita)]
Barratut Taqiyyah Rafie | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Total utang masyarakat melalui pinjaman daring (pinjol) dan layanan paylater menembus Rp 101,3 triliun per September 2025. Angka fantastis ini diiringi sinyal bahaya: naiknya tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) pinjol menjadi 2,82%, sebuah indikasi risiko gagal bayar yang membesar di tengah ekonomi yang tidak baik-baik saja.

Lonjakan ini mencerminkan dua sisi mata uang industri keuangan digital: perluasan inklusi di satu sisi, dan tumbuhnya ketergantungan konsumtif di sisi lain. Akses pinjaman yang mudah memang membantu masyarakat memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi di banyak kasus justru mendorong pola "utang untuk bertahan hidup" — bukan untuk membangun produktivitas.

Tingginya porsi pinjaman konsumtif menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat belum memanfaatkan fasilitas digital secara bijak. Di tengah pendapatan yang stagnan dan tekanan biaya hidup yang naik, utang digital menjadi penopang semu daya beli rumah tangga. Tanpa literasi finansial yang memadai, pinjol dan paylater mudah berubah menjadi jebakan yang menggerus pendapatan masa depan.

Kredit macet yang mulai naik menjadi peringatan dini. Jika perilaku berutang tidak terkendali, risiko gagal bayar dapat merembet ke lapisan ekonomi bawah, menekan konsumsi, dan memperlemah pertumbuhan jangka menengah. 

Namun, tidak semua pinjaman digital bersifat negatif. Sebagian masyarakat, terutama pelaku UMKM dan sektor informal, memanfaatkan pinjol untuk modal usaha. Fenomena ini menunjukkan bahwa pinjaman digital masih punya potensi produktif — asal diimbangi literasi, pengawasan, dan desain produk yang berorientasi pada keberlanjutan, bukan sekadar pertumbuhan transaksi.

Regulator memang mencatat rasio pembiayaan dan risiko industri masih dalam batas aman. Tetapi stabilitas makro tidak cukup diukur dari angka non performing loan (NPL). Ada dimensi sosial yang harus diperhatikan: pemahaman masyarakat tentang utang, kemampuan mengelola cicilan, dan kesadaran membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tanpa perubahan perilaku, kebijakan pengawasan hanya mengobati gejala.

Pertumbuhan konsumsi yang sehat seharusnya bertumpu pada peningkatan pendapatan riil, bukan kemudahan berutang. Pemerintah dan industri keuangan digital perlu menata ulang arah kebijakan, agar inklusi tidak berubah menjadi ilusi. Jika tidak, ekonomi Indonesia bisa tampak kuat di permukaan, tetapi rapuh di dalam.

Selanjutnya: Kebutuhan Elpiji Capai 10 Juta Ton di 2026

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Melihat Potensi Rebound Saham Blue Chip di Sisa Tahun 2025
| Minggu, 14 Desember 2025 | 17:29 WIB

Melihat Potensi Rebound Saham Blue Chip di Sisa Tahun 2025

Analis menyebut bahwa KLBF turut memiliki peluang rebound sebab sisi kinerja keuangan, pertumbuhan operating income dan net income masih positif.

Partisipasi Investor Milenial dan Gen Z di Pasar Saham Makin Semarak
| Minggu, 14 Desember 2025 | 10:04 WIB

Partisipasi Investor Milenial dan Gen Z di Pasar Saham Makin Semarak

Reli IHSG yang beberapa kali menembus rekor tertinggi, tak lepas dari meningkatnya aktivitas investor ritel, termasuk dari kelompok usia muda

Jantra Grupo (KAQI) Genjot Ekspansi Usai Raih Dana IPO
| Minggu, 14 Desember 2025 | 09:59 WIB

Jantra Grupo (KAQI) Genjot Ekspansi Usai Raih Dana IPO

Sebagian besar dana IPO terserap untuk belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk pembangunan infrastruktur fisik. 

BEI Siapkan Pemberlakuan Periode Non Cancellation
| Minggu, 14 Desember 2025 | 09:43 WIB

BEI Siapkan Pemberlakuan Periode Non Cancellation

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan periode non-cancellation pada sesi pra-pembukaan dan pra-penutupan mulai 15 Desember 2025

Berkah Kenaikan Trafik Data Telekomunikasi
| Minggu, 14 Desember 2025 | 09:39 WIB

Berkah Kenaikan Trafik Data Telekomunikasi

Meskipun trafik data naik, emiten sektor telekomunikasih masih dibayangi persaingan harga yang ketat

IHSG Pekan Ini Tembus Rekor Baru, Waspada Sentimen Global
| Minggu, 14 Desember 2025 | 06:00 WIB

IHSG Pekan Ini Tembus Rekor Baru, Waspada Sentimen Global

IHSG mengakumulasi kenaikan 0,32% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG menguat 22,33%.

Animo Investor Saham
| Minggu, 14 Desember 2025 | 05:50 WIB

Animo Investor Saham

​Kenaikan IHSG terdorong oleh peningkatan investor pasar modal di dalam negeri yang semakin melek berinvestasi saham.

Keandalan Menara MTEL Diuji Bencana Sumatera
| Minggu, 14 Desember 2025 | 05:35 WIB

Keandalan Menara MTEL Diuji Bencana Sumatera

Banjir dan longsor membuat layanan telekomunikasi di sejumlah wilayah Sumatera lumpuh. Dalam situasi ini, keandalan peru

Memutar Roda Bisnis yang Terhuyung di Pulau Andalas
| Minggu, 14 Desember 2025 | 05:10 WIB

Memutar Roda Bisnis yang Terhuyung di Pulau Andalas

Banjir dan longsor yang melanda Sumatera akhir November bukan hanya merenggut ratusan nyawa, tapi bikin meriang perdagangan.

 
Transaksi Pembayaran Lewat QRIS Semakin Semarak
| Sabtu, 13 Desember 2025 | 10:11 WIB

Transaksi Pembayaran Lewat QRIS Semakin Semarak

BI menargetkan volume transaksi QRIS tahun 2025 mencapai 15,37 miliar atau melonjak 146,4% secara tahunan dengan nilai Rp 1.486,8 triliun 

INDEKS BERITA

Terpopuler