Wahai IHSG, How Low Can You Go?

Sabtu, 14 Oktober 2023 | 10:54 WIB
Wahai IHSG, How Low Can You Go?
[ILUSTRASI. Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta Utama]
Wawan Hendrayana | Vice President Infovesta Utama

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di  tahun 2023, hingga bulan Oktober ini, pergerakan indeks saham cenderung sideways dan penurunan harga sering terjadi. Tapi, koreksi dalam berinvestasi  bukan sesuatu yang aneh di bursa saham. Kejadian terburuk 10 tahun terakhir  terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2020 hanya melorot 5% karena pandemi.

Namun bila Anda berinvestasi di IHSG, potensi kerugian maksimal yang Anda derita adalah masuk di 3 Januari 2020 ketika indeks berada di level  tertinggi 6323 dan keluar tanggal 24 Maret 2020 saat IHSG terjun bebas ke level  terendah di 3.937. Dengan kata lain, Anda buntung sebesar 37%.

Betul, IHSG rebound setelah itu. Namun potensi kerugian ini dapat menjadi pertimbangan bagi investor. Potensi kerugian maksimal dalam waktu tertentu, dalam istilah investasi dikenal sebagai maximum draw down (MDD). Walau umumnya indeks mengalami return positif,  selalu ada potensi bagi investor "kurang beruntung”  mengalami kerugian setiap tahun bila membeli pada saat harga tertinggi dan cut loss rata-rata 10 tahun terakhir indeks selalu jatuh sebesar 14% dari titik tertinggi. 

Kejatuhan ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Di tahun 2015 nyaris dalam 9 bulan, IHSG terus melemah. Koreksi HSG hingga rebound tercepat terjadi di  2022 yang mencapai 22 hari. Pada tahun 2023, IHSG pernah melemah berturut-turut sebanyak 30 hari dan di bawah rata-rata 10 tahun sebanyak 80 hari.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Rawan Koreksi untuk Pekan Depan, Simak Rekomendasi Saham Berikut

IHSG sendiri masih dalam tren recovery pasca pandemi dan risiko MDD menurun. Tentu investor berharap tren ini berlanjut hingga tahun depan. Apalagi di tahun politik umumnya IHSG selalu positif menyambut program baru dari presiden terpilih nantinya.  Tapi, proyeksi pertumbuhan ekonomi pasca pandemi dipandang belum sesuai ekspektasi. Banyak katalis negatif menghambat pertumbuhan laba para emiten, seperti krisis geopolitik dan tren inflasi meningkat. 
Walau angka kerugian terlihat mengerikan investor saham, perlu memiliki horizon investasi jangka panjang. 

Pada kerugian sangat dalam di tahun 2020 pun IHSG rebound kembali di tahun 2021. MDD pada emiten rata-rata akan di atas IHSG.  Sehingga walau koreksi, investor sebaiknya selalu memiliki strategi. Salah satunya melalui pengelolaan oleh manajer investasi profesional melalui reksadana. Hakikat dari reksadana saham adalah kita menitipkan uang kita ke  manajer investasi (MI) untuk dikelola. Atas jasa penitipan dan pengelolaan tersebut maka MI memungut fee/biaya dalam bentuk  persentase yang besarannya tetap. 

Dengan kata lain, baik saat kita untung ataupun rugi, MI akan terus memotong fee, tentu saja investor mengharapkan MI mampu mengalahkan pasar sehingga tidak sia sia kita membayar fee ke MI.   Bentuk mengalahkan pasar ini bermacam-macam salah satunya adalah bila pasar sedang turun maka reksadana saham diharapkan turun lebih kecil dari IHSG. 

Di  tahun 2024, Infovesta memproyeksi, IHSG di 7.500-7.800. Investor dapat berinvestasi pada reksadana saham yang secara historis potensi kerugian lebih kecil dari IHSG.

Bagikan

Berita Terbaru

SSSG Akhirnya Menghijau, Analis Ramai-Ramai Kerek Target Harga Saham ACES
| Senin, 16 Maret 2026 | 10:10 WIB

SSSG Akhirnya Menghijau, Analis Ramai-Ramai Kerek Target Harga Saham ACES

Tekanan depresiasi rupiah terhadap renminbi serta masih lemahnya daya beli kelas menengah atas menjadi tantangan berat.

Eskalasi Konflik Terus Meningkat, Harga Batubara Ditaksir bisa Capai US$ 200 per Ton
| Senin, 16 Maret 2026 | 09:44 WIB

Eskalasi Konflik Terus Meningkat, Harga Batubara Ditaksir bisa Capai US$ 200 per Ton

Kenaikan harga batubara tidak cukup mampu untuk menolong perekonomian domestik meski permintaan global meningkat.

Jaga Likuiditas Saham, Emiten Menggelar Aksi Buyback
| Senin, 16 Maret 2026 | 09:13 WIB

Jaga Likuiditas Saham, Emiten Menggelar Aksi Buyback

Hingga pertengahan Maret tahun ini, sudah ada beberapa emiten yang sedang dan berencana melaksanakan aksi buyback saham.​

Laba PRDA Tergerus 23%, Ini Fokus Ekspansi Prodia dan Rekomendasi Sahamnya
| Senin, 16 Maret 2026 | 09:05 WIB

Laba PRDA Tergerus 23%, Ini Fokus Ekspansi Prodia dan Rekomendasi Sahamnya

Penurunan laba bersih PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) murni dipicu oleh siklus normalisasi permintaan pasca-pandemi.

OJK Menargetkan Nilai Kapitalisasi Bursa Indonesia Bisa Tembus Rp 25.000 Triliun
| Senin, 16 Maret 2026 | 09:03 WIB

OJK Menargetkan Nilai Kapitalisasi Bursa Indonesia Bisa Tembus Rp 25.000 Triliun

Pada 2031, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan nilai kapitalisasi pasar atau market cap bursa saham Indonesia mencapai Rp 25.000 triliun​.

Buyback Jadi Sinyal Optimisme, Fair Value Saham ADRO Ditaksir Rp 2.600–Rp 2.800
| Senin, 16 Maret 2026 | 08:25 WIB

Buyback Jadi Sinyal Optimisme, Fair Value Saham ADRO Ditaksir Rp 2.600–Rp 2.800

Arus kas yang masih kuat dari bisnis batubara membuka ruang bagi ADRO untuk tetap membagikan dividen yang menarik bagi investor.

Saham Emiten Batubara Terjepit Perang dan Kuota Produksi
| Senin, 16 Maret 2026 | 06:45 WIB

Saham Emiten Batubara Terjepit Perang dan Kuota Produksi

Sentimen perang Timur Tengah dan pemangkasan kuota produksi nasional dapat mempengaruhi permintaan dan harga batubara

TOBA Siapkan Duit US$ 200 Juta Garap Pengolahan Limbah
| Senin, 16 Maret 2026 | 06:16 WIB

TOBA Siapkan Duit US$ 200 Juta Garap Pengolahan Limbah

TOBA siapkan US$200 juta untuk bisnis pengelolaan limbah, targetkan pertumbuhan di 2026. Simak bagaimana strategi TOBA tahun ini

Harga Minyak Bertahan di Level Tinggi, Selat Hormuz Jadi Kunci
| Senin, 16 Maret 2026 | 06:00 WIB

Harga Minyak Bertahan di Level Tinggi, Selat Hormuz Jadi Kunci

Pulau Kharg punya peran vital lantaran memegang kendali atas 2,79 juta hingga 2,97 juta barel ekspor minyak Iran.

Mengawali Pekan Pendek, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (16/3)
| Senin, 16 Maret 2026 | 05:20 WIB

Mengawali Pekan Pendek, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (16/3)

Kenaikan harga minyak dunia juga menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap dampak ke kondisi fiskal domestik.​

INDEKS BERITA

Terpopuler