Wall Street Dibayangi Kasus Corona Baru, S&P Naik Tipis, Dow Jones Turun

Jumat, 19 Juni 2020 | 05:17 WIB
Wall Street Dibayangi Kasus Corona Baru, S&P Naik Tipis, Dow Jones Turun
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Traders wear masks as they work on the floor of the New York Stock Exchange as the outbreak of the coronavirus disease (COVID-19) continues in the Manhattan borough of New York, U.S., May 28, 2020. REUTERS/Lucas Jackson - RC2OXG966WR9/File Pho]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kenaikan jumlah kasus virus corona masih mewarnai pergerakan bursa Wall Street. Kamis (18/6), ketiga indeks saham utama Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi.

Dow Jones Industrial Average masih turun 39,51 poin, atau 0,15%, menjadi 26.080,1, Sementara itu indeks S&P 500 berhasil naik tipis 1,85 poin, atau 0,06%, menjadi 3.115,34 dan Nasdaq Composite naik 32,52 poin, atau 0,33% menjadi 9.943,05.

Baca Juga: S&P 500, Dow dip on rising virus cases, elevated jobless claims

Pasar masih dibayangi kasus infeksi virus corona yang meningkat. Hal ini membuat pasar pesimis kalau ekonomi Paman Sam belum akan bangkit dengan cepat.

Kenaikan indeks S&P 500 didorong oleh empat sektor dari 11 sektor utama di indeks ini. Saham energi naik paling tinggi, sementara sektor real estat menjadi penghambat pergerakan indeks. 

Wall Street cukup volatile sepanjang hari, meski S&P dan saham padat teknologi Nasdaq berhasil mengakhiri sesi di zona hijau. Mayoritas saham blue chip Dow Jones masih melemah. 

Chuck Carlson, Chief Executive Officer Horizon Investment Service di Hammond, Indiana mengatakan, pasar mungkin tengah mencari dorongan besar berikutnya. "Ada banyak impuls di pasar bagi investor untuk menimbang, menyaring, dan memperhitungkan arah selanjutnya," ujarnya seperti dilansir Reuters. 

Baca Juga: Wall Street turun akibat lonjakan infeksi corona, US Treasury diburu

Seperti diketahui, beberapa negara bagian AS telah melaporkan lonjakan kasus Covid-19 baru setelah perekonomian kembali dibuka. Presiden AS Donald Trump sendiri telah menegaskan kalau ia tidak akan memberlakukan pembatasan putaran kedua untuk menahan penyebaran pandemi.

Investor memang tengah wait and see. Ahli strategi pasar senior untuk Allianz Investment Management di Minneapolis mengatakan, investor melihat bahwa saat ini memang ekonomi tengah masuk ke fase pemulihan. Namun, peningkatan jumlah kasus corona bisa menjadi penghambat. 

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan, klaim jumlah pengangguran seikit turun di pekan lalu menjadi 1,51 juta. Jumlah ini masih berada di bawah perkiraan konsensus. 

Angka pengangguran yang masih tetap tinggi hingga 20,54 juta menunjukkan pemulihan ekonomi masih harus menempuh jalan panjang. 

Saham yang naik dan turun

Sejumlah saham mencuri perhatian pasar. Saham ritel Kroger Co turun 3%. Sementara itu, saham Spotify Technology SA melonjak 12,7% setelah perusahaan musik streaming ini meneken kesepakatan dengan AT&T Inc Warner Brothers dan DC Entertainment untuk menambahkan podcast karakter DC Comics yang populer ke daftarnya. 

Baca Juga: Bursa Asia memerah terseret lonjakan kasus virus corona baru di AS dan China

Lalu, saham operator pelayaran Carnival Corp turun 1,4% setelah melaporkan kerugian kuartalan senilai US$ 4,4 miliar akibat terdampak pandemi.

Saham Biogen Inc turun 7,5% setelah pengadilan distrik AS memutuskan mendukung pembuat obat generik Mylan NV dalam sengketa paten. Mylan NV naik 2,3%.

Kemudian, saham penyedia layanan industri Team Inc anjlok 16,9% setelah kehilangan estimasi pendapatan kuartalan di tengah penurunan permintaan.

Adapun volume perdagangan bursa Wall Street mencapai 10,16 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 12,90 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Bagikan

Berita Terbaru

Adhi Commuter Properti (ADCP) Hadapi Gugatan PKPU Ketiga Sepanjang Semester I-2026
| Jumat, 19 Juni 2026 | 20:49 WIB

Adhi Commuter Properti (ADCP) Hadapi Gugatan PKPU Ketiga Sepanjang Semester I-2026

Adhi Commuter menghadapi gugatan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) untuk yang ketiga kalinya di paruh pertama 2026.

Pasar Kripto Masih Akan Bearish Walau Rebound Tipis
| Jumat, 19 Juni 2026 | 17:57 WIB

Pasar Kripto Masih Akan Bearish Walau Rebound Tipis

Harga Bitcoin bangkit dari US$60.000, tapi apakah momentum ini akan berlanjut? Analis ungkap level resistensi dan support krusial untuk raih cuan.

Saham Konglomerasi dan Bank Jumbo Mengangkat IHSG, MSCI Jadi Penentu Selanjutnya
| Jumat, 19 Juni 2026 | 13:12 WIB

Saham Konglomerasi dan Bank Jumbo Mengangkat IHSG, MSCI Jadi Penentu Selanjutnya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pulih tipis dari lembah, beberapa saham raksasa melonjak drastis pekan lalu.

Dahsyat! Bank Indonesia Menadah SBN Hampir Rp 200 Triliun dalam Hitungan Hari
| Jumat, 19 Juni 2026 | 12:35 WIB

Dahsyat! Bank Indonesia Menadah SBN Hampir Rp 200 Triliun dalam Hitungan Hari

Dalam periode 11 Juni hingga 17 Juni saja, kepemilikan SBN BI bertambah Rp 99,73 triliun, dari Rp 1.944,41 triliun menjadi Rp 2.044,14 triliun.

Perkuat Ekspansi Global dan Domestik, Apakah Saham AMRT Masih Menarik?
| Jumat, 19 Juni 2026 | 11:50 WIB

Perkuat Ekspansi Global dan Domestik, Apakah Saham AMRT Masih Menarik?

Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) baru saja masuk ke Bangladesh sebagai negara baru untuk ekspansi di Asia.

Pengendali Baru Mitra Adiperkasa (MAPI) Menggelar Penawaran Tender Wajib
| Jumat, 19 Juni 2026 | 10:10 WIB

Pengendali Baru Mitra Adiperkasa (MAPI) Menggelar Penawaran Tender Wajib

Pacific Universal Investments melakukan penawaran tender wajib maksimal 8,13 miliar saham, setara 49% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. 

Suku Bunga Melambung Tinggi, Emiten Properti Semakin Tak Bertaji
| Jumat, 19 Juni 2026 | 10:05 WIB

Suku Bunga Melambung Tinggi, Emiten Properti Semakin Tak Bertaji

Kinerja indeks saham properti di sepanjang tahun berjalan paling jeblok di antara 11 indeks sektor saham lain di Bursa Efek Indonesia (BEI).​

Efek Ganda Akibat Tinggi Suku Bunga
| Jumat, 19 Juni 2026 | 09:58 WIB

Efek Ganda Akibat Tinggi Suku Bunga

Kenaikan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% berpotensi memperkuat rupiah, tapi menekan valuasi saham.

Piala Dunia, Daya Tawar China dan Biaya Mahal Indonesia
| Jumat, 19 Juni 2026 | 09:50 WIB

Piala Dunia, Daya Tawar China dan Biaya Mahal Indonesia

China gagal mencetak gol di Piala Dunia 2026, tetapi tetap masuk ke dalam arus pendapatan yang mengelilingi pertandingan.

Jejak Revisi UU P2SK
| Jumat, 19 Juni 2026 | 09:30 WIB

Jejak Revisi UU P2SK

Mengapa dokumen revisi UU P2SK terkesan disembunyikan? Apa saja perubahan dalam UU sapu jagad industri keuangan itu?

INDEKS BERITA

Terpopuler