Aksi Bank Mandiri Mendorong Pembiayaan Energi Terbarukan yang Lebih Bersih

Senin, 11 November 2024 | 07:18 WIB
Aksi Bank Mandiri Mendorong Pembiayaan Energi Terbarukan yang Lebih Bersih
[ILUSTRASI. Mandiri - kontan native online]
Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - Energi baru dan terbarukan (EBT) memiliki potensi besar di Indonesia dalam penyediaan tenaga listrik, guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mengatasi permasalahan iklim. Pengembangan EBT diharapkan bukan hanya bisa meningkatkan taraf hidup, tetapi juga kelestarian lingkungan. 

Tahun ini, sumber energi bersih pun menjadi fokus dalam penyediaan energi. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebutkan, pemerintah akan lebih agresif mendorong transisi energi dan menurunkan emisi. Pengembangan EBT dan bioenergi menjadi target percepatan atau quick win di sektor energi. 

Untuk menurunkan emisi, selain transisi energi, pemerintah juga akan mendorong efisiensi energi. Dengan efisiensi, emisi bisa dikurangi hingga 32%. 

Memang mendorong energi bersih lewat EBT tidak mudah. Sekadar informasi, sampai pada 2023 lalu, bauran EBT baru mencapai 13,1%, di bawah target 27,9%. Penambahan kapasitas terpasang pembangkit EBT sebesar 539,52 megawatt (MW) sehingga total kapasitas terpasang pembangkit EBT 2023 sebesar 13.155 MW.

Pemerintah tadinya menargetkan bauran EBT menjadi 23% di tahun 2025. Namun, lantaran pertumbuhan per tahun hanya sekitar 1%-2% poin, maka target bauran EBT dipangkas menjadi 17%-19% saja pada tahun depan. 

Bank Mandiri turut menyambut percepatan pertumbuhan EBT di dalam negeri.  Pembiayaan untuk EBT ini merupakan bagian dari portofolio kredit berkelanjutan yang memenuhi prinsip lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance) atau ESG. 

Per September 2024, portofolio Bank Mandiri di sektor energi terbarukan telah mencapai Rp 10 triliun, atau naik sebesar 6,1% year on year (yoy).  

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan, Bank Mandiri secara konsisten meningkatkan pembiayaan untuk energi terbarukan. Langkah ini sejalan dengan rencana jangka panjang yang tertuang di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060. 

“Rencana tersebut mencakup pencapaian sebesar 25% dari campuran energi terbarukan pada tahun 2030 dan mencapai 100% energi terbarukan pada tahun 2060,” kata Alexandra pada Senin (4/11).

Menurut Persatuan Bangsa-Bangsa atau PBB, listrik murah dari sumber terbarukan bisa menyuplai 65% ketersediaan listrik dunia pada 2030. Dengan efisiensi saja, bisa mengurangi emisi karbon sampai 90%. emisi karbon dan gas rumah kaca di sektor energi listrik pada tahun 2050 mendatang.

Bank Mandiri terus membidik proyek-proyek energi terbarukan lain yang sangat potensial seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung, pembangkit listrik tenaga angin (PLTA), dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Mobil listrik

Pertumbuhan pesat terlihat dari penyaluran pembiayaan untuk mendorong perkembangan kendaraan rendah emisi. Di bidang korporasi, Bank Mandiri memberikan kredit untuk Transportasi Ramah Lingkungan sebesar Rp 7,2 triliun atau meningkat sebanyak 94,6% yoy. 

Lalu, tercatat penyaluran kredit retail untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) hingga September 2024 telah mencapai Rp 673 miliar atau meningkat sebesar 129,9% yoy. 

Menurut Alexandra, hal ini selaras dengan minat kendaraan listrik yang semakin besar serta kesadaran masyarakat yang mulai meningkat terkait dengan energi bersih.  

Selain menyediakan kredit kepemilikan kendaraan listrik secara retail, Bank Mandiri secara penuh mendukung pengembangan ekosistem mobil listrik dari hulu ke hilir dengan memberikan pembiayaan beberapa sektor terkait, seperti sektor otomotif dan sektor energi terbarukan. 

“Pembiayaan ekosistem mobil listrik mendorong penciptaan mobilitas rendah karbon dan membangun kemampuan manufaktur lokal untuk membangun kendaraan listrik dan sarana penunjangnya,” terang Alexandra.

Pembiayaan listrik dari energi terbarukan yang semakin besar turut menggemukkan penyaluran kredit hijau Bank Mandiri. Total pembiayaan hijau mencapai Rp 142 triliun di akhir kuartal III-2024 atau naik 16,4% yoy dari sebelumnya Rp 122 triliun.

Komposisi portofolio hijau Bank Mandiri juga paling besar disumbangkan oleh pengelolaan sumber daya alam (SDA) Hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan, transportasi ramah lingkungan, hingga pengelolaan limbah.

Pembiayaan hijau merupakan bagian dari sustainable financing Bank Mandiri. Di dalamnya juga ada social financing yang mencapai sebesar Rp 143 triliun September lalu, naik 9,16% dari periode yang sama tahun sebelumnya di Rp 131 triliun. 

Dengan begitu, total pembiayaan portofolio berkelanjutan atau sustainable financing Bank Mandiri mencapai Rp 285 miliar. Angka ini naik 12,8% year on year. 

Beberapa pembiayaan proyek yang penting selama 9 bulan pertama 2024 antara lain pembiayaan Rp 5,9 triliun untuk pengembangan fasilitas light rail transit (LRT) kepada PT KAI. Lalu, Pt Rp 2,9 triliun untuk proyek hydropower PT Malea Energy di Tana Toraja. 

Ada juga pembiayaan infrastruktur untuk PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebesar Rp 2,2 triliun untuk proyek green toll road di Jawa Barat. Untuk sosial, penyaluran Rp 1 triliun lewat PNM untuk membiayai usaha perempuan yang dianggap belum layak perbankan.  

“Ke depannya, kami akan terus meningkatkan layanan ESG kami, khususnya pada instrumen keuangan berkelanjutan seperti Sustainability-Linked Loan, Green Loan, Corporate-in-Transition Financing, dan Social Loan di berbagai sektor,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan dalam paparan kinerja kuartal III akhir Oktober lalu.

Darmawan bilang, ke depan, akan terus fokus menyalurkan pembiayaan ke sektor strategis secara berkelanjutan seperti pertanian & perkebunan, telekomunikasi, industri makanan dan minuman, serta sektor padat karya. Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 16%-18%.

Dalam menjalankan praktik ESG, Bank Mandiri memiliki pilar sebagai pegangannya. Pilar pertama, Sustainable Banking, yang di dalamnya terdapat pembiayaan hijau, produk dan layanan berkelanjutan, serta upaya integrasi ESG dalam proses bisnis. 

Pilar kedua yang menjadi kerangka ESG Bank Mandiri yaitu operasional bank berkelanjutan atau Sustainable Operation. Target Bank Mandiri yaitu emisi nol pada tahun 2030. Inisiatifnya, operasional nol emisi, keamanan dan perlindungan data, serta kesetaraan gender. Misalnya dengan mengoperasikan 143 kendaraan bertenaga listrik (EV) dengan 26 titik charging. Lalu penggunaan 727 panel surya, 3 green building, serta 241 smart branches.

Lalu, pilar ketiga adalah Sustainability Beyond Banking, di mana Bank Mandiri memacu pertumbuhan majemuk untuk sosial guna mencapai target dari tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB). 

Ajak nasabah

Bukan hanya mendorong untuk internal, Bank Mandiri juga mengajak nasabah untuk berkontribusi pada penanaman pohon dan menghitung jejak karbon pribadi dengan Livin’ Planet di fitur Livin’ Sukha Bank Mandiri. 

Di dalam Livin’ Planet, nasabah bisa menghitung jejeak karbon dari aktivitas sehari-hari. Nasabah bisa mengisi pemakaian karbon per hari untuk menghitungnya. Lalu, nasabah juga bisa menyumbang dana untuk kontribusi pohon, yang dananya diambil dari tabungan, kartu kredit, dan paylater. 

Analis Binaartha Sekuritas Achmadi Hangradhika dalam risetnya menilai, kredit keberlanjutan Bank Mandiri yang tumbuh 12,8% merupakan segmen yang berkembang pesat. Saat ini, kredit keberlanjutan dengan nilai Rp 285 miliar menyumbang sampai 18% dari total kredit Bank.

Manajemen Bank Mandiri menargetkan, kontribusi kredit berkelanjutan bisa mencapai 20% di masa mendatang. 

Secara keseluruhan, Achmadi menilai pertumbuhan kredit Bank Mandiri tumbuh di atas ekspektasi. Dia memperkirakan, kredit Bank Mandiri akhir 2024 mencapai Rp 1.657 triliun, mencerminkan pertumbuhan 18,5%. Achmadi memberikan rekomendasi buy Bank Mandiri dengan target harga Rp 8.025 per saham.

Head of Research Panin Sekuritas Nico Laurens masih mempertahankan rekomendasi buy Bank Mandiri dengan target Rp 7.200 per saham. Menurut dia,  Bank Mandiri memiliki sumber dana murah yang kuat, didukung inovasi digital ecosystem seperti Livin’ dan Kopra.

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Tarif Listrik Tidak Naik pada Kuartal I-2026
| Jumat, 02 Januari 2026 | 07:04 WIB

Tarif Listrik Tidak Naik pada Kuartal I-2026

Cu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024 tentang Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan oleh PT PLN (Persero). Penetapan tarif ini menga

Mengawali Tahun 2026 di Hari Kejepit, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (2/1)
| Jumat, 02 Januari 2026 | 07:04 WIB

Mengawali Tahun 2026 di Hari Kejepit, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (2/1)

Pasar masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang berpotensi mempengaruhi arah IHSG ke depan. 

Awal Tahun, Harga BBM  di SPBU Kompak Turun
| Jumat, 02 Januari 2026 | 07:01 WIB

Awal Tahun, Harga BBM di SPBU Kompak Turun

PT Pertamina (Persero) menurunkan harga seluruh jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku efektif per 1 Januari 2026

Lifting Minyak Nasional 2025 Capai Target
| Jumat, 02 Januari 2026 | 06:59 WIB

Lifting Minyak Nasional 2025 Capai Target

Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras tim hulu migas dalam menghadapi tren penurunan produksi minyak mentah

Beban Ekspor Sawit akan Meningkat Tahun Ini
| Jumat, 02 Januari 2026 | 06:52 WIB

Beban Ekspor Sawit akan Meningkat Tahun Ini

Target penerapan B50 pada tahun ini bisa mengerek pungutan ekspor sawit lebih dari 10% karena menjada ketersediaan pasokan CPO

Inilah Racikan Portofolio Investasi Mengarungi 2026
| Jumat, 02 Januari 2026 | 06:30 WIB

Inilah Racikan Portofolio Investasi Mengarungi 2026

Strategi portofolio investasi yang seimbang menjadi kunci berinvestasi investor di 2026, di tengah ketidakpastian pasar

Pom-Pom Level Dewa
| Jumat, 02 Januari 2026 | 06:12 WIB

Pom-Pom Level Dewa

Pekerjaan pemerintah adalah menjaga fundamental ekonomi dan memastikan rodanya bisa berputar lebih baik, bukan menjadi pemandu sorak di bursa.

PT United Tractors (UNTR) Hadapi Tantangan: Laba Turun, Banjir Ganggu Operasi
| Jumat, 02 Januari 2026 | 05:30 WIB

PT United Tractors (UNTR) Hadapi Tantangan: Laba Turun, Banjir Ganggu Operasi

Analisis kinerja UNTR 2025, tantangan operasional tambang Martabe, dan proyeksi penurunan produksi emas serta penjualan alat berat di 2026.

Industri Tekstil Minta Negosiasi Tarif Resiprokal AS
| Jumat, 02 Januari 2026 | 05:25 WIB

Industri Tekstil Minta Negosiasi Tarif Resiprokal AS

Pasar AS yang saat ini menjadi pasar ekspor terbesar dari produk garmen dan tekstil Indonesia, seharusnya mendapatkan atensi lebih serius

Melirik Prospek Komoditas Andalan Sepanjang Tahun 2026
| Jumat, 02 Januari 2026 | 05:00 WIB

Melirik Prospek Komoditas Andalan Sepanjang Tahun 2026

Tahun 2025 jadi masa yang menantang bagi pasar komoditas global. Perang dagang dan kelesuan ekonomi menekan harga komoditas. 

INDEKS BERITA

Terpopuler