Aturan Pajak Penghasilan Bagi UMKM yang Berbentuk PT

Minggu, 28 Februari 2021 | 10:00 WIB
Aturan Pajak Penghasilan Bagi UMKM yang Berbentuk PT
[ILUSTRASI. ]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

PERTANYAAN:

Perusahaan saya berbentuk PT yang memiliki omzet kurang dari Rp 4,8 miliar/setahun. Pada ahun 2018 sampai dengan tahun 2020, saya membayar PPh 0,5 % kategori PP 23/2018. Pertanyaan saya, untuk pembayaran masa pajak Januari 2021, apakah kami boleh membayar angsuran PPh Pasal 25 bulanan NIHIL ? Kalau bisa, apa ada syaratnya, ataukah langsung lapor PPh Pasal 25 NIHIL ?

Mengingat tahun 2020 lalu, omzet penjualan mengalami penurunan dan kemungkinan di tahun 2021 juga masih ada penurunan, menurut aturan perpajakan apakah bisa apabila perusahaan membayar gaji karyawan termasuk direksi diturunkan karena kondisi keuangan perusahaan yang sedang tidak baik? Mohon penjelasan dari Bapak. Terima kasih sebelumnya.

Meilani, Jakarta

JAWABAN:

 

TERIMAKASIH. Perlu kami jelaskan terkait pengenaan Pajak Penghasilan bagi UMKM yang diatur dalam ketentuan Peraturan Pemerintah (PP) No. 23/2018 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Dalam aturan, dijelaskan bahwa WP yang punya bruto tertentu atas penghasilan dari usaha, dikenakan PPh yang bersifat final sebesar 0,5% dari Peredaran Bruto.

Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 0,5% punya batasan dan jangka waktu tertentu. Sesuai Pasal 5 PP No.23 Tahun 2018, jangka waktu pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final:

a. 7 Tahun Pajak bagi WP orang pribadi;

b. 4 Tahun Pajak bagi WP badan koperasi, persekutuan komanditer, atau firma; dan

c. 3 Tahun Pajak bagi WP badan berbentuk perseroan terbatas.

 

Jangka waktu terhitung sejak Tahun Pajak Wajib Pajak terdaftar. Bagi WP badan berbentuk perseroan terbatas (PT), bila menggunakan PPh Final 0,5% dari peredaran bruto sejak tahun 2018 maka jangka waktu pengenaan PPh yang bersifat final berlaku hingga 2020. Sehingga, tahun 2021 sudah harus dikenakan PPh tarif umum.

Mengenai angsuran PPh Pasal 25 sejak tahun 2021 bagi WP yang telah melewati jangka waktu tertentu, yaitu 3 tahun untuk WP Badan berbentuk PT, sesuai Pasal 9 PMK-99/PMK.03/2018 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 23/2018. Mengatur bahwa Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Tahun Pajak pertama diberlakukan seperti Wajib Pajak baru.

Berdasar Pasal 10 aturan 215/PMK.03/2018 tentang Penghitungan Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak Baru, Bank, BUMN, BUMD, Wajib Pajak Masuk Bursa, Wajib Pajak Lainnya Yang Berdasarkan Ketentuan Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala dan Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu, mengatur Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk WP Baru pada Tahun Pajak berjalan ditetapkan nihil.

Hal ini juga ditegaskan pada Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-46/PJ/2020 huruf h angka 2 huruf b bahwa Besarnya Angsuran PPh Pasal 25 bagi WP yang tidak lagi memenuhi kriteria sebagai WP berdasar PP 23/2018 termasuk yang memilih untuk dikenai PPh Berdasarkan Ketentuan Umum PPh yaitu bagi WP selain WP sebagaimana dimaksud pada huruf a) besarnya angsuran pajak nihil.

Menjawab Ibu, terhitung sejak Januari 2021, perusahaan ibu yang berbentuk PT sudah tidak lagi memenuhi kriteria sebagai WP UMKM hingga pengenaan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 ditetapkan nihil.

Pada prinsipnya perusahaan dan karyawan memiliki perjanjian kerja (PK) yang dilakukan atas dasar kesepakatan. Berdasarkan perjanjian, kebijakan perusahaan untuk menurunkan gaji/upah seluruh karyawannya, menurut hemat kami, hanya dapat dilakukan atas dasar kesepakatan dari para pihak.

Adapun berdasarkan ketentuan perpajakan sejatinya tidak mengatur terkait penurunan gaji atau upah. Karena ini sifatnya kesepakatan antara pihak pemberi kerja dengan pihak karyawan, bila kedua belah pihak sepakat, dapat dilakukan dengan pembuktian melalui perjanjian kerja, slip gaji dan bukti pembayaran gaji. Demikian.

 

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan

Dengan kondisi pasar saham yang memerah, bagaimana saran keputusan investasi saat ini?              

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

INDEKS BERITA

Terpopuler