Berita Bisnis

Bank Mengail Cuan dari Transaksi LCS

Jumat, 15 Oktober 2021 | 08:05 WIB
Bank Mengail Cuan dari Transaksi LCS

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS)  menjadi bisnis potensial bagi sektor perbankan. Melalui program ini, perbankan bisa menyediakan transaksi mata uang rupiah hingga ke luar negeri.

Sebanyak 11 bank ditunjuk Bank Indonesia (BI) sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Belasan bank tersebut memfasilitasi pembukaan rekening mata uang di luar negeri dengan menggandeng bank mitra di sana.
 
Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyatakan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mendukung kebijakan BI yang secara resmi memulai implementasi kerja sama LCS antara Indonesia dan China. 
 
"Saat ini BCA adalah ACCD yang memfasilitasi transaksi rupiah dan yuan sesuai kerangka kerja sama LCS yang disepakati," kata Hera, Kamis (14/10). Bank BCA berhasil mencatatkan pertumbuhan transaksi LCS lebih dari 10% year on year (yoy) pada Semester I 2021. 
 
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga memfasilitasi transaksi rupiah dan yuan sesuai kerangka kerja sama LCS. Corporate Secretary Bank BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan potensi transaksi LCS cukup besar yakni mencapai US$ 2,5 juta per bulan. 
 
"Atas kemudahan yang diberikan LCS, diproyeksikan terjadi peningkatan transaksi dengan tujuan negara China. Terlebih setiap tahunnya terjadi peningkatan pada perdagangan internasional di antara Indonesia dan China," terangnya. 
 
Hingga saat ini China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Nilai perdagangan Indonesia-China pada tahun 2020 mencapai US$ 78,37 miliar. Ekspor Indonesia ke China naik 10,13% pada 2020, meski impor dari China menurun.
 
China juga berperan penting terhadap investasi di Indonesia. Realisasi investasi China ke Indonesia tahun 2020 mencapai US$ 4,8 miliar, melonjak tajam hingga 95,6%, yang menjadikan China sebagai investor terbesar kedua, setelah Singapura dengan realisasi US$ 9,8 miliar.
 
Menurut Aestika, LCS ini tidak hanya bermanfaat bagi perbankan tapi juga korporasi non- bank. Sebab, LCS dapat memenuhi kebutuhan nasabah terutama nasabah ekspor-impor dari dan ke China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. 
 
Efisiensi biaya
 
Tak hanya itu, biaya konversi transaksi dalam valuta asing juga lebih efisien, menjadi alternatif pembiayaan perdagangan dan investasi langsung dalam mata uang lokal. Serta menjadi instrumen lindung nilai dalam mata uang lokal, dan diversifikasi eksposur mata uang untuk penyelesaian transaksi di luar negeri. 
 
Direktur Global Banking Maybank Indonesia Ricky Antariksa juga menyebut berbagai keuntungan transaksi LCS. Salah satunya, menjamin nilai likuiditas karena biaya hedging jadi lebih efisien khususnya untuk pendanaan jangka panjang. 
 
Untuk mendukung kelangsungan bisnis perdagangan ekspor impor, Maybank Indonesia  memberikan layanan cash management dan juga trade finance. Juga biaya administrasi, konversi transaksi dan remitansi yang lebih efisien.
 
BI sudah menandatangani nota kesepahaman kerja sama LCS dengan beberapa negara di kawasan ASEAN, yakni Malaysia dan Thailand, serta di kawasan Asia Pasifik, Tiongkok dan Jepang.   


Baca juga