Berita Global

Berbagai Bank Sentral Tetap Menjadikan Pengendalian Inflasi sebagai Misi Utama

Jumat, 11 Maret 2022 | 11:05 WIB
Berbagai Bank Sentral Tetap Menjadikan Pengendalian Inflasi sebagai Misi Utama

ILUSTRASI. Pejalan kaki di depan gedung Bank of England (BOE) di London, Inggris, 11 Maret 2020. REUTERS/Henry Nicholls/File Photo

Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID. Aksi militer Rusia di Ukraina tidak mengubah agenda berbagai bank sentral utama di dunia. Kendati krisis Ukraina bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menjadi risiko ekonomi yang baru, otoritas moneter di banyak negara besar tetap fokus ke upaya penanggulangan laju inflasi.

Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (10/3) menyatakan tidak dapat mengabaikan inflasi yang melonjak di zona euro. Eropa dianggap sebagai kawasan dunia yang paling rentan terhadap goncangan ekonomi yang lebih luas dari perang.

Menyebut perang sebagai "momen penting" yang dapat mengekang pertumbuhan tetapi meningkatkan inflasi, ECB memutuskan untuk berhenti memompa uang ke pasar di musim panas ini. Kebijakan itu untuk membuka jalan bagi kemungkinan kenaikan suku bunga akhir tahun ini.

Baca Juga: Saham Keuangan dan Teknologi Mengangkat Kinerja Bursa AS  

"Anda dapat memotong inflasi dengan cara apa pun yang Anda inginkan dan melihat ukuran inti apa pun, itu di atas target dan meningkat. Kami memiliki mandat 2% dan kami gagal," kata seorang pembuat kebijakan di ECB, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Narasi serupa muncul di negara-negara Barat lain, termasuk Amerika Serikat (AS). Para pejabat otoritas moneter menimbang potensi kerusakan ekonomi mereka dari perang melawan kenaikan inflasi yang terus-menerus.

Pertumbuhan diperkirakan akan tetap berada di atas tren di negara-negara ekonomi utama. Situasi ini memungkinkan mereka untuk fokus pada inflasi yang berjalan jauh lebih cepat daripada patokan umum 2% persen mereka.

Di Kanada, otoritas moneter menaikkan suku bunga di awal bulan ini.

 Baca Juga: Menanti Arah Bunga The Fed, Harga Obligasi Indonesia Jatuh

Bank of England dan Federal Reserve diperkirakan akan melakukan kenaikan bunga minggu depan. Masing-masing diharapkan akan melanjutkan kenaikan sukubunga beberapa kali dalam beberapa bulan mendatang.

Bahkan pejabat kebijakan fiskal - yang lebih peka terhadap politik perkembangan ekonomi dan sering kali menjadi pendukung kebijakan bank sentral yang lebih longgar - sangat menyadari kekuatan korosif dari kenaikan harga yang tidak terkendali.

Inflasi "menjadi perhatian yang luar biasa," kata Menteri Keuangan Janet Yellen pada hari Kamis. "Ini memukul orang Amerika dengan keras. Itu membuat mereka khawatir tentang masalah dompet dasar."

Selanjutnya
Halaman   1 2

Baca juga