Berita

Duit IPO Tandas, Wahana Interfood Nusantara (COCO) Menimbang Pendanaan Baru

Kamis, 12 September 2019 | 06:23 WIB

ILUSTRASI. Pabrik PT Wahana Interfood Nusantara Tbk

KONTAN.CO.ID - BANDUNG. PT Wahana Interfood Nusantara Tbk telah menghabiskan seluruh duit hasil perolehan initial public offering (IPO) sebesar Rp 33,26 miliar pada Maret 2019 lalu. Kini, produsen kakao dan cokelat merek Schoko itu tengah menimbang opsi sumber pendanaan baru.

Ketimbang surat utang, Wahana Interfood lebih memilih mencari dukungan pinjaman dari lembaga keuangan dan bank. Makanya, perusahaan berkode saham COCO di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut menahan rencana penerbitan obligasi. Duit hasil pinjaman itu akan mereka gunakan sebagai cadangan modal kerja.

Hanya saja, Wahana Interfood belum bisa mengungkapkan detail nilai maupun target pengajuan pinjaman. "Kami hanya butuh pencadangan saja dan belum memutuskan nilai pinjaman, lihat nanti sambil berjalan," tutur Reinald Siswanto, Direktur Utama PT Wahana Interfood Nusantara Tbk, usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Hotel Harris, Bandung, Rabu (11/9).

Dalam RUPLB kemarin, Wahana Interfood melaporkan seluruh penggunaan dana IPO. Dana segar itu antara lain terpakai untuk pembangunan pabrik sekitar Rp 4,8 miliar dan pembelian tanah Rp 6,9 miliar. Lalu, uang muka pembelian bahan bangunan baru dan mesin pengolah cokelat menghabiskan anggaran Rp 17 miliar. Anggaran itu sudah termasuk biaya pemasangan alat. Mereka mendatangkan mesin pengolah cokelat dari Jerman dan Belgia

Sementara itu, habisnya duit IPO tak menghalangi kelanjutan ekspansi Wahana Interfood. Sejauh ini, mereka masih mengawal pembangunan pabrik di Sumedang, Jawa Barat yang ditaksir akan menambah volume produksi sebesar 4.500 ton. Sejauh ini, mereka mampu menghasilkan 5.000 ton cokelat dan 1.000 ton cokelat bubuk dari pabrik terdahulu di Bandung.

Sebagai gambaran, pabrik Sumedang nanti berukuran sekitar 2.200 meter persegi (m²). Luasan tersebut lebih dari dua kali lipat ketimbang luas pabrik Bandung yang sekitar 900 m².

Wahana Interfood menargetkan pabrik Sumedang bisa beroperasi mulai semester II-2020. Kehadiran pabrik anyar itu akan mengerek kemampuan produksi mereka menjadi 9.500 ton–10.500 ton.

Sejalan dengan kapasitas pabrik yang naik, potensi Wahana Interfood merambah pasar lebih luas pun semakin besar. Perusahaan itu juga ingin menjaga rantai pasokan kepada pelanggan. "Kami ingin menjaga keseimbangan penjualan, memastikan cashflow tidak terhambat dan memberikan jaminan pada investor," terang Reinald.

Wahana Interfood memasarkan hampir seluruh produk di dalam negeri. Meskipun sudah membangun jaringan bisnis di luar negeri sejak tahun 2014, porsi ekspornya hanya sekitar 1%. Perusahaan tersebut lebih memilih memperkuat pasar dalam negeri.

Demi memperlancar pemasaran, Wahana Interfood memperkuat pusat distribusi. Salah satunya, mereka membangun pusat distribusi di Bali sebagai pintu utama penyebaran produk ke Indonesia bagian Timur.

Reporter: Amalia Fitri
Editor: Yuwono triatmojo

IHSG
6.219,44
1.82%
-115,41
LQ45
983,25
0.91%
-9,00
USD/IDR
14.020
0,50
EMAS
753.000
0,00%