Ekonominya Mulai Tumbuh Solid, Malaysia Normalisasi Kebijakan Moneter
KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Pertumbuhan ekonomi Malaysia pada kuartal pertama meningkat, dan kemungkinan akan meningkat lebih lanjut tahun ini, demikian pernyataan bank sentral negara tersebut pada Jumat. Tren itu terjadi di tengah permintaan yang berkelanjutan dan pembukaan kembali perbatasan internasional.
Produk domestik bruto (PDB) Malaysia naik 5% selama Januari-Maret, lebih tinggi daripada proyeksi hasil jajak pendapat Reuters, yaitu 4%. Angka itu juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di kuartal sebelumnya, yaitu 3,6%.
Bank Negara Malaysia (BNM) mengatakan telah mempertimbangkan gangguan rantai pasokan global, perang Rusia-Ukraina serta lockdown akibat Covid-19 di China dalam menghitung proyeksi pertumbuhannya untuk tahun 2022.
"Meskipun risiko perlambatan meningkat di front global, kami yakin dengan lintasan pertumbuhan kami dan kami tidak melihat risiko resesi di Malaysia," katanya dalam konferensi pers.
Baca Juga: Presidensi G20 Momentum Indonesia Raih Kepercayaan Investor Global
Dalam slide presentasinya, BNM memperkirakan pertumbuhan negerinya akan lebih tinggi lagi. "Pada 2022, pertumbuhan akan didukung oleh ekspansi permintaan global dan domestik yang berkelanjutan."
BNM mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2022 di antara 5,3%-6,3%, yang telah diturunkan pada bulan Maret.
Ekspansi terutama didorong oleh sektor jasa dan manufaktur, khususnya permintaan yang berkelanjutan untuk semikonduktor dan produk konsumen seperti kendaraan bermotor, kata BNM.
Malaysia, yang sempat mengalami beberapa wabah Covid-19 terburuk di kawasan, mencabut sebagian besar tindakan pencegahan virus corona di bulan ini. Pencabutan sejalan dengan penurunan tingkat infeksi dan peningkatan program vaksinasi.
Pada hari Rabu, bank sentral secara tak terduga menaikkan suku bunga acuan menjadi 2,00% dari terendah bersejarah 1,75%, mengutip jalur pertumbuhan domestik yang lebih kuat serta tekanan inflasi yang berasal dari konflik Ukraina dan gangguan rantai pasokan global.
"Jika lintasan pertumbuhan positif terus berlanjut dan mencegah guncangan yang tidak terduga, maka akan tepat bagi MPC (Komite Kebijakan Moneter) untuk lebih mengurangi tingkat akomodasi moneter," katanya.
Inflasi utama diproyeksikan rata-rata antara 2,2% - 3,2% tahun ini, tidak berubah dari perkiraan BNM sebelumnya.
Wakil Gubernur Marzunisham Omar mengatakan meski ada tekanan harga terutama pada makanan, inflasi di Malaysia tetap moderat dibandingkan dengan negara lain.
Baca Juga: Joe Biden Janji Gelontor US$ 150 Juta ke ASEAN untuk Infrastruktur hingga Keamanan
Namun, solusi jangka panjang diperlukan untuk mengendalikan inflasi karena meningkatnya biaya subsidi pemerintah, tambahnya.
Marzunisham mengatakan pemerintah sedang mencari cara untuk memperluas basis pajak negara untuk meningkatkan pendapatan, termasuk pengenalan kembali pajak barang dan jasa (GST).
"(Bank sentral) mendukung GST dan tentu saja kita harus memikirkan waktu pengenalan kembali yang akan diperhitungkan oleh pemerintah," katanya.
Ekonom Capital Economics Alex Holmes mengatakan pemulihan ekonomi Malaysia kemungkinan akan berlanjut sepanjang sisa tahun 2022, karena wabah varian COVID-19 Omicron pada kuartal pertama telah mereda.
"Dengan kasus virus yang lebih rendah dan pembatasan domestik yang semakin berkurang, belanja konsumen kemungkinan akan semakin meningkat pada kuartal ini," katanya dalam sebuah catatan.
