Ekonominya Mulai Tumbuh Solid, Malaysia Normalisasi Kebijakan Moneter

Jumat, 13 Mei 2022 | 14:36 WIB
Ekonominya Mulai Tumbuh Solid, Malaysia Normalisasi Kebijakan Moneter
[ILUSTRASI. Konsumen menghitung uang kertas ringgit di tempat penukaran uang di distrik bisnis Singapura, 25 Agustus 2015. REUTERS/Edgar Su/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Pertumbuhan ekonomi Malaysia pada kuartal pertama meningkat, dan kemungkinan akan meningkat lebih lanjut tahun ini, demikian pernyataan bank sentral negara tersebut pada Jumat. Tren itu terjadi di tengah permintaan yang berkelanjutan dan pembukaan kembali perbatasan internasional.

Produk domestik bruto (PDB) Malaysia naik 5% selama Januari-Maret, lebih tinggi daripada proyeksi hasil jajak pendapat Reuters, yaitu 4%. Angka itu juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di kuartal sebelumnya, yaitu 3,6%. 

Bank Negara Malaysia (BNM) mengatakan telah mempertimbangkan gangguan rantai pasokan global, perang Rusia-Ukraina serta lockdown akibat Covid-19 di China dalam menghitung proyeksi pertumbuhannya untuk tahun 2022.

"Meskipun risiko perlambatan meningkat di front global, kami yakin dengan lintasan pertumbuhan kami dan kami tidak melihat risiko resesi di Malaysia," katanya dalam konferensi pers.

Baca Juga: Presidensi G20 Momentum Indonesia Raih Kepercayaan Investor Global

Dalam slide presentasinya, BNM memperkirakan pertumbuhan negerinya akan lebih tinggi lagi. "Pada 2022, pertumbuhan akan didukung oleh ekspansi permintaan global dan domestik yang berkelanjutan."

BNM mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2022 di antara 5,3%-6,3%, yang telah diturunkan pada bulan Maret.

Ekspansi terutama didorong oleh sektor jasa dan manufaktur, khususnya permintaan yang berkelanjutan untuk semikonduktor dan produk konsumen seperti kendaraan bermotor, kata BNM.

Malaysia, yang sempat mengalami beberapa wabah Covid-19 terburuk di kawasan, mencabut sebagian besar tindakan pencegahan virus corona di bulan ini. Pencabutan sejalan dengan penurunan tingkat infeksi dan peningkatan program vaksinasi.

Pada hari Rabu, bank sentral secara tak terduga menaikkan suku bunga acuan menjadi 2,00% dari terendah bersejarah 1,75%, mengutip jalur pertumbuhan domestik yang lebih kuat serta tekanan inflasi yang berasal dari konflik Ukraina dan gangguan rantai pasokan global.

"Jika lintasan pertumbuhan positif terus berlanjut dan mencegah guncangan yang tidak terduga, maka akan tepat bagi MPC (Komite Kebijakan Moneter) untuk lebih mengurangi tingkat akomodasi moneter," katanya.

Inflasi utama diproyeksikan rata-rata antara 2,2% - 3,2% tahun ini, tidak berubah dari perkiraan BNM sebelumnya.

Wakil Gubernur Marzunisham Omar mengatakan meski ada tekanan harga terutama pada makanan, inflasi di Malaysia tetap moderat dibandingkan dengan negara lain.

Baca Juga: Joe Biden Janji Gelontor US$ 150 Juta ke ASEAN untuk Infrastruktur hingga Keamanan

Namun, solusi jangka panjang diperlukan untuk mengendalikan inflasi karena meningkatnya biaya subsidi pemerintah, tambahnya.

Marzunisham mengatakan pemerintah sedang mencari cara untuk memperluas basis pajak negara untuk meningkatkan pendapatan, termasuk pengenalan kembali pajak barang dan jasa (GST).

"(Bank sentral) mendukung GST dan tentu saja kita harus memikirkan waktu pengenalan kembali yang akan diperhitungkan oleh pemerintah," katanya.

Ekonom Capital Economics Alex Holmes mengatakan pemulihan ekonomi Malaysia kemungkinan akan berlanjut sepanjang sisa tahun 2022, karena wabah varian COVID-19 Omicron pada kuartal pertama telah mereda.

"Dengan kasus virus yang lebih rendah dan pembatasan domestik yang semakin berkurang, belanja konsumen kemungkinan akan semakin meningkat pada kuartal ini," katanya dalam sebuah catatan.

Bagikan

Berita Terbaru

Rupiah Ambruk, Emiten dengan Beban Dolar Terpuruk
| Jumat, 25 September 2026 | 07:38 WIB

Rupiah Ambruk, Emiten dengan Beban Dolar Terpuruk

Emiten yang menanggung kewajiban berdenominasi dolar AS terancam oleh tren pelemahan nilai tukar rupiah

Dinamika Yield US Treasury
| Jumat, 25 September 2026 | 07:31 WIB

Dinamika Yield US Treasury

Arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal dipengaruhi dinamika yield US Treasury pada Jumat (25/9)

Megalestari Epack (EPAC) Kejar Pertumbuhan Penjualan 15%
| Jumat, 25 September 2026 | 07:10 WIB

Megalestari Epack (EPAC) Kejar Pertumbuhan Penjualan 15%

Selain tekanan harga bahan baku, kinerja EPAC juga dipengaruhi oleh tingginya beban operasional pada segmen usaha kemasan.

Genjot Bisnis Bullion, HRTA Borong 50 Kilo Gram Emas dari Freeport
| Jumat, 25 September 2026 | 07:06 WIB

Genjot Bisnis Bullion, HRTA Borong 50 Kilo Gram Emas dari Freeport

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memperkuat bisnis bullion melalui kerja sama pembelian emas murni dengan PT Freeport Indonesia 

Rupiah Masih Mendapat Tekanan Besar dari Eksternal
| Jumat, 25 September 2026 | 07:00 WIB

Rupiah Masih Mendapat Tekanan Besar dari Eksternal

Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,55% secara harian ke level Rp 17.916 per dolar AS pada Kamis (24/9)

Pam Mineral (NICL) Sebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar Rp 63,81 Miliar
| Jumat, 25 September 2026 | 07:00 WIB

Pam Mineral (NICL) Sebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar Rp 63,81 Miliar

PT Pam Mineral Tbk (NICL) akan membagikan dividen interim sebesar Rp 6 per saham untuk setiap pemegang saham. 

Di Tengah Booming Data Center, Saham DCII Masih Tertekan
| Jumat, 25 September 2026 | 06:53 WIB

Di Tengah Booming Data Center, Saham DCII Masih Tertekan

Dalam sebulan terakhir, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) terkoreksi -1,33%. Dihitung sejak awal 2026, harga saham DCII sudah ambles -8,64%. ​

Status Force Majeur Dicabut dan RKAB Disetujui, Prospek BYAN Kembali Cerah
| Jumat, 25 September 2026 | 06:46 WIB

Status Force Majeur Dicabut dan RKAB Disetujui, Prospek BYAN Kembali Cerah

Persetujuan RKAB muncul berdekatan dengan rencana transaksi Jhonlin Baratama untuk mengambil sekitar 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Net Sell Terus Berlanjut, Sebelum Libur Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 25 September 2026 | 06:38 WIB

Net Sell Terus Berlanjut, Sebelum Libur Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

 Menjelang akhir pekan, penentu arah IHSG berasal dari dinamika pergerakan yield US Treasury yang terus menanjak.

Kucuran Dana Segar dari Induk untuk Anak Usaha
| Jumat, 25 September 2026 | 06:37 WIB

Kucuran Dana Segar dari Induk untuk Anak Usaha

Emiten guyur modal jumbo ke anak usaha. Dana ini untuk menambah kapasitas fasilitas produksi sekaligus modal kerja anak usaha. 

INDEKS BERITA

Terpopuler