Emiten Kontraktor Menadah Berkah Ibu Kota Negara Baru

Senin, 24 Oktober 2022 | 04:10 WIB
Emiten Kontraktor Menadah Berkah Ibu Kota Negara Baru
[]
Reporter: Aris Nurjani | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan Pemerintah menaikkan anggaran infrastruktur untuk tahun depan menjadi katalis positif bagi emiten konstruksi. Ini artinya, ke depan akan ada banyak program dan proyek infrastruktur yang akan mendorong kinerja emiten di sektor konstruksi.

Pemerintah menetapkan anggaran infrastruktur untuk tahun 2023 naik 7,75% menjadi Rp 392 triliun dari tahun ini sebesar Rp 363,8 triliun. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei menilai, kenaikan anggaran menjadi angin segar bagi  emiten konstruksi dan infrastruktur. "Anggaran infrastruktur tahun depan yang lebih tinggi tentu karena pemerintah optimis untuk dapat menggenjot proyek infrastruktur meskipun di tengah ancaman resesi dan kenaikan suku bunga," ujar dia.

Langkah ini menjadi dorongan tambahan setelah rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur. "Untuk prospek emiten konstruksi saat ini masih dari pembangunan infrastruktur IKN dan proyek strategis nasional," kata Jono. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Konstruksi Diprediksi Positif, Saham-saham Ini Layak Dikoleksi

Analis BRI Danareksa Sekuritas Muhammad Naufal Yunas menjelaskan, rencana pembangunan ibu kota baru merupakan katalis pendorong emiten sektor konstruksi. Baru-baru ini, pemerintah merilis rencana awal pembangunan ibu kota baru pada 2022-2025. "Pemerintah telah mulai proses tender pada Juli dan kami dapat memastikan beberapa kontraktor BUMN sedang mempersiapkan proses ini," ujar dia. 

Naufal mengatakan, anggaran untuk pembangunan ibu kota negara mencapai Rp 27 triliun-Rp 30 triliun. "Anggaran keseluruhan untuk pembangunan akan mencapai Rp 466 triliun sampai tahun 2045, meliputi lahan seluas 256.000 hektare," jelas dia. 

Kontrak baru naik

Naufal pun mengidentifikasi akan ada pengembangan proyek menjelang tahun politik 2023-2024. Pemerintah juga tengah menyiapkan kebijakan investasi untuk memberikan insentif bagi investor dalam pembangunan ibu kota baru. 

Peraturan ini akan mencakup antara lain pembiayaan pembangunan ibu kota seperti skema pembiayaan kreatif dan pajak khusus untuk IKN. Pemerintah juga menargetkan aturan baru itu bisa terbit pada tahun ini. 

Sejatinya, kontrak baru dari IKN sudah didapat emiten konstruksi di tahun ini. Hal tersebut tercermin dari perolehan kontrak baru emiten. "Pencapaian kontrak baru yang lebih tinggi pada tahun 2022 tidak lepas dari dukungan pemerintah atas kontraktor BUMN secara keseluruhan," jelas Naufal. 

Baca Juga: Suku Bunga BI Naik, PTPP Atur Ulang Pendanaan Proyek

Meski begitu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Aziz berpendapat, emiten konstruksi tengah terbebani biaya operasional yang tinggi. "Selain itu, kenaikan suku bunga bisa menjadi faktor penghambat kinerja bagi emiten konstruksi," jelas dia. 

Meski begitu, Aziz bilang, kinerja emiten konstruksi ini sudah sesuai dengan ekspektasi pasar terkait kontrak baru untuk beberapa emiten konstruksi yang mengalami pertumbuhan. "Proyek infrastruktur masih akan tumbuh mengingat proyek pembangunan IKN akan dimulai pada 2023," jelas dia.

Emiten konstruksi masih bisa mencatatkan kinerja positif. Apalagi pada tahun-tahun mendatang, pembangunan IKN bakal digeber. "Rekomendasi akumulasi buy untuk saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT PP Tbk (PTPP) untuk jangka panjang dengan potensi kenaikan harga saham mencapai 15%-20%," jelas Jono. 

Sementara Naufal mempertahankan rating overweight terhadap saham sektor konstruksi. "Dukungan likuiditas dan pengembangan proyek dari pemerintah menjadi katalis bagi emiten segmen konstruksi," kata dia. Selain itu, dia menilai valuasi harga saham emiten konstruksi juga terbilang masih murah.     

Baca Juga: Begini Strategi PTPP Menghadapi Kenaikan Suku Bunga

Berikut rekomendasi emiten konstruksi lebih rinci: 

Adhi Karya (ADHI)

ADHI menargetkan bisa memperoleh dana segar dari rights issue sebesar Rp 3,87 triliun. Sebesar Rp 1,97 triliun akan diperoleh dari penyertaan modal negara (PMN). Sementara sisanya Rp 1,89 triliun dari penerbitan saham baru sebanyak 7 miliar saham di harga pelaksanaan Rp 550. Dana hasil rights issue untuk proyek strategis jalan tol dan infrastruktur.  
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 1.600
M Naufal Yunas, BRI Danareksa Sekuritas

Wijaya Karya (WIKA)

WIKA meraih kontrak baru Rp 19 triliun hingga September 2022. Jumlah ini bertambah seiring ekspansi WIKA menuju Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Sebagian besar kontrak baru dari proyek infrastruktur, diikuti segmen Engineering, Procurement, Construction (EPC), dan gedung. Sisanya dari industri pracetak dan struktur baja.
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 1.280
Arief Machrus, NH Korindo Sekuritas

Baca Juga: Kepala Otorita IKN: Minat Investor Berinvestasi di IKN 25 Kali Melebihi Kapasitas

Waskita Karya (WSKT)

WSKT telah memenangkan kontrak baru Rp 11,6 triliun sampai dengan September 2022, turun 2,6% secara tahunan. Kontrak tersebut dari proyek pemerintah 65,36%, sebesar 11,86% dari proyek anak usaha, proyek swasta 11,81%, dan BUMN 10,98%. Beberapa proyek juga bersumber dari proyek ibukota baru. 
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 940
Andrey Wijaya, RHB Sekuritas

PP (PTPP)

PTPP menggenggam kontrak baru senilai Rp 17,58 triliun hingga 21 Oktober 2022. Lalu kontrak dari proyek di ibukota baru senilai Rp 1,47 triliun. Hingga akhir 2022, PTPP menargetkan bisa mengantongi kontrak baru Rp 31 triliun. PTPP menyebut masih ada beberapa proyek yang terhambat kendala non teknis dan baru selesai di kuartal IV. 
Rekomendasi: Hold 
Target harga: Rp 1.050
Arief Budiman, Ciptadana Sekuritas

Baca Juga: Emiten Konstruksi Mengejar Kontrak Baru dari Proyek IKN

Bagikan

Berita Terbaru

Ada Efisiensi Anggaran, Setoran Pajak Ikut Tertekan
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:37 WIB

Ada Efisiensi Anggaran, Setoran Pajak Ikut Tertekan

Efisiensi hingga WFH diperkirakan akan menekan penerimaan pajak dari sektor administrasi pemerintahan dan jaminan sosial

Efek Mini, Anggaran MBG Juga Perlu Efisiensi
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:26 WIB

Efek Mini, Anggaran MBG Juga Perlu Efisiensi

Alokasi anggaran makan bergizi gratis (MBG) pada tahun ini mencapai Rp 335 triliun                  

Pemerintah Kebut Proyek Sekolah Rakyat Tahap Kedua
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:07 WIB

Pemerintah Kebut Proyek Sekolah Rakyat Tahap Kedua

Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul.

Sektor Informal Bisa Terdampak WFH
| Rabu, 25 Maret 2026 | 07:03 WIB

Sektor Informal Bisa Terdampak WFH

Presiden FSpeed Budiman Sudardi bilang, pengemudi ojol memahami wacana kebijakan ini memiliki tujuan  untuk efisiensi dan pengurangan kemacetan.

Momen Lebaran Ungkit Pertumbuhan Ekonomi
| Rabu, 25 Maret 2026 | 06:58 WIB

Momen Lebaran Ungkit Pertumbuhan Ekonomi

Periode Lebaran tahun ini bisa mendorong belanja Rp 135 triliun atau setara 0,56% dari pendapatan dometik bruto

Pemerintah Masih Tahan Harga BBM Subsidi
| Rabu, 25 Maret 2026 | 06:50 WIB

Pemerintah Masih Tahan Harga BBM Subsidi

Salah satu negara ASEAN, Filipina, kemarin mengumumkan keadaan darurat energi akibat lonjakan harga minyak mentah global, dikutip Reuters.

 Imbas Perang, Pemerintah Utak-atik Produksi Batubara
| Rabu, 25 Maret 2026 | 06:43 WIB

Imbas Perang, Pemerintah Utak-atik Produksi Batubara

Pemerintah berencana menambah volume produksi batubara dalam persetujuan RKAB 2026 untuk mengamankan pendapatan negara

Pasca Libur Lebaran, Sentimen Negatif Bayangi Bursa, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 25 Maret 2026 | 06:42 WIB

Pasca Libur Lebaran, Sentimen Negatif Bayangi Bursa, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pemangkasan outlook, perang, defisit fiskal dan pelemahan rupiah menyuramkan prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Rancangan Perppu yang Memantik Kecemasan
| Rabu, 25 Maret 2026 | 06:38 WIB

Rancangan Perppu yang Memantik Kecemasan

Pemerintah dikabarkan sedang membahas Perppu tentang Pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi dan Pemulihan Perekonomian Negara.

Nasib Rupiah Usai Libur Lebaran: Pelemahan Ancam Ekonomi?
| Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15 WIB

Nasib Rupiah Usai Libur Lebaran: Pelemahan Ancam Ekonomi?

Selama libur Lebaran, rupiah sempat bertengger di Rp 16.997 per dolar AS. Ketahui faktor pendorong dan prediksi pergerakan selanjutnya

INDEKS BERITA

Terpopuler